"Otak lo kagak kudu copot Ka belajar terus?"
Kaka menoleh sekilas saat mendengar pertanyaan Zidan. Tahu jika itu bukan sebuah pertanyaan melainkan sindiran, dia memilih kembali sibuk membereskan apa-apa yang akan dia bawa ke Lab nanti. Kaka, Jaguar dan Mikhayla harus terus menerus latihan untuk menghadapi Olimpiade yang tinggal satu bulan setengah ini. Setiap hari mereka mengerjakan soal latihan dan membahasnya bersama-sama dengan pak Basir.
"Ck, otak Kaka mah disetel unlimited Dan. Kebal udah dari sononya. Dibuat belajar sesering apapun mah strong," timpal Seno. Saat bel istirahat masih berbunyi tadi, Seno dan Ilham sudah lari ke kelas Kaka.
Zidan mengusap dagunya, mengangguk-angguk. "Iya juga ya? Kalo dipikir-pikir juga, tomboi-tomboi begitu Kak Suri juga pinter, buktinya rangking satu terus dari SD sampe SMA."
"Tau dari mana lo?" Seno mengernyit.
"Nggak penting." Zidan mengibaskan tangan.
"Kadang dunia mah gak adil. Udah se-keluarga mukanya good looking semua, otaknya juga ikut good looking. Serakah lo, Ka!" Setelah diam beberapa saat, Zidan kembali bersuara dengan nada iri.
"Kalo dah dari akarnya pinter mah ya pinter Dan," balas Seno melongokkan kepala saat Kaka terlihat menggulir layar ponsel.
"Nggak juga."
Zidan dan Seno menoleh saat Ilham menimpali. Sama-sama mengangkat alis seolah bertanya.
"Mama lo pinter Dan, sedangkan lo bodoh. Itu berarti pintar atau bodohnya anak itu bukan karena turunan dari orang tua. Kapasitas otak setiap orang itu beda-beda tentu saja, tapi tergantung kemauannya, mau jadi pintar ya belajar, mau jadi bodoh ya nggak usah belajar. Jadi kesimpulannya, pintar atau enggaknya orang itu tergantung diri mereka sendiri," jelas Ilham panjang lebar. Hingga sedetik kemudian dia mengernyit bingung saat mendapat tatapan permusuhan dari Zidan.
"Nggak ada yang namanya orang bodoh!" balas Zidan nge-gas.
"Kata siapa?"
"Gue lah! Orang bodoh itu nggak ada, adanya cuma orang males." Zidan memutar bola mata dongkol. Beranjak berdiri lalu berpindah posisi di samping Seno. "Males gue deket-deket sama dia Sen. Bawaannya pengen makan bangku terus."
Seno tertawa. Menepuk-nepuk pundak Zidan. "Orang ganteng haram marah."
Ilham mengerucut sebal. Melirik Zidan dengan sorot merajuk. "Diajak diskusi kok gitu. Ngambekan lo Dan."
"Heh lo mah ngajak ribut bukan diskusi!"
"Kata siapa? Gue ngajak diskusi kok."
"Bodo amat anjir gue nggak denger," kesal Zidan lalu membelakangi Ilham. Betulan kesal dikatai bodoh.
Seno makin tertawa. Perdebatan kecil semacam ini antara Zidan dan Ilham tak bisa terlewatkan setiap mereka berempat berkumpul. Kedua cowok itu tak pernah sepaham. Ilham yang keukeuh dengan logikanya dan Zidan dengan pemikiran sederhananya yang terkesan nyeleneh. Tapi setelah itu, mereka akan kembali seperti semula.
"Kakaaaaaaaa!"
Mereka berempat sontak menoleh ke arah sumber suara. Begitupun penghuni kelas yang lainnya, mereka mengalihkan atensi dari kegiatannya. Di ambang pintu, ada Aurara yang membawa buku tebal dalam dekapannya. Cewek itu terlihat tersipu malu saat semua orang memperhatikannya. Dengan sedikit gugup dia berjalan mendekat ke arah meja Kaka. Berdiri di samping Kaka dan sedikit membungkukkan badan.
"Kaka, aku malu diliatin temen-temen kamu," bisiknya.
Kaka bergeming. Justru Zidan yang pertama kali bereaksi. Cowok itu memukul meja kuat-kuat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaka&Rara [Completed]
Novela Juvenil[DISARANKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU BIAR KEREN KAYAK SAYA] ___________ Brukk Tubuh Kaka ambruk saking terkejutnya. Aurara, cewek itu tiba-tiba melompat naik ke punggungnya, yang otomatis membuat Kaka tersungkur ke depan karena sama sekali tidak siap...
![Kaka&Rara [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/184402218-64-k695750.jpg)