Mendekati UNBK, semua murid kelas dua belas semakin giat belajar. Pelajaran semakin difokuskan pada materi ujian. Les masih berjalan, namun banyak di antara mereka yang menambah jam belajar. Jika waktu istirahat dihabiskan dengan jajan di kantin, sekarang berganti ke perpustakaan.
Jiwa kompetisi mereka semakin naik. Bukan hanya ingin lulus, nilai yang tinggi juga menjadi incaran mereka. Bayang-bayang universitas impian membuat mereka semakin semangat.
Seperti halnya Kaka. Cowok beriris gelap tersebut semakin gencar menghabiskan waktunya di perpustakaan dengan tumpukan buku di sampingnya. Di tambah lagi Aurara yang akhir-akhir ini menemani duduk di hadapannya.
"Nggak capek ya kamu belajar terus?" Setelah terdiam cukup lama dan hanya bengong melihat Kaka membaca tanpa mengalihkan fokusnya, Aurara bertanya. Dalam benaknya, melihatnya saja Aurara sudah capek duluan.
Kaka mendongak. Iris gelapnya bertubrukan dengan iris Aurara yang tengah mengerjap-erjap. Kaka melirik arloji di pergelangan kirinya, waktu istirahat sudah hampir habis.
"Udah makan?" tanya Kaka mengingat Aurara belum sama sekali kemana-mana karena saat bel berbunyi, Aurara langsung menemaninya ke perpustakaan.
"Aku li-"
"Jangan bilang kalo liatin gue doang udah kenyang," potong Kaka lalu menyentil dahi Aurara pelan. Nyaris hafal kalimat yang biasa diucapkan sang pacar jika ditanya sudah makan apa belum.
Aurara cengengesan. Semakin mengerjap lucu lalu menopangkan dagunya pada kedua telapak tangan yang sikunya bertumpu pada meja perpustakaan.
"Bisa nggak kamu lulusnya diskip aja jadi tahun depan?"
Kaka diam. Tak mengerti maksud Aurara.
"Biar lulusnya bareng-bareng sama aku gitu," lanjut Aurara lalu menghela napas pelan. "Kalo kamu lulus, nanti siapa dong yang setiap istirahat aku apelin?"
"Siapa yang aku recokin kalo lagi makan di kantin?"
"Siapa yang nanti aku seret-seret ke parkiran buat nganterin pulang?"
"Siapa yang aku gangguin kalo lagi belajar? Siapaa?"
Kaka menumpukan kedua lengannya pada meja. Sedikit merendahkan tubuh lantas memajukan wajahnya menatap Aurara yang sekarang sedang meniup-niup helai rambutnya yang jatuh ke dahi.
"Tetep gue," jawab Kaka singkat.
"Emang bisa?" Aurara mengerjap. Sedikit berharap.
Kaka mengangguk. "Sebut nama gue tiga kali dalam hati."
Mata Aurara mulai berbinar. "Kamu bakal dateng?" pekiknya tak tertahankan.
"Ya enggak. Mana bisa gue denger."
Setelah mengatakan itu, Kaka menghemapskan tubuhnya ke punggung kursi. Diam-diam menahan tawa melihat wajah cemberut Aurara.
Lihat, Aurara sekarang menempelkan pipinya pada meja. Mulutnya maju beberapa centi. Matanya memandang rak yang menjulang tinggi. Sama sekali enggan menatap Kaka. Akhir-akhir ini, Kaka suka nyebelin!
"Jangan cemberut terus, nanti senyumnya kangen," celetuk Kaka tersenyum geli. Tak mendapat respon apapun, Kaka mengusap sekilas puncak kepala Aurara. "Ayo makan, Sayang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaka&Rara [Completed]
Novela Juvenil[DISARANKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU BIAR KEREN KAYAK SAYA] ___________ Brukk Tubuh Kaka ambruk saking terkejutnya. Aurara, cewek itu tiba-tiba melompat naik ke punggungnya, yang otomatis membuat Kaka tersungkur ke depan karena sama sekali tidak siap...
![Kaka&Rara [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/184402218-64-k695750.jpg)