Di koridor menuju kantin tampak penuh oleh siswa yang lalu-lalang. Berlomba-lomba mengisi tenaga setelah menguras otak menghadapi soal ujian beberapa saat lalu.
Aurara dan Bima patut bersyukur. Mereka mendapat minuman dan makanan lebih cepat dibanding yang lain dan tidak perlu mengantri panjang.
Kedua remaja itu sekarang tengah bersandar pada tembok koridor. Menikmati es jeruk yang nampak sangat segar sembari menatap keriuhan murid lain yang hendak menuju kantin.
Bima melirik Aurara yang berjongkok sembari menyeruput es jeruk dalam plastik. Bima prihatin, Aurara nampak sangat kelelahan.
"Capek banget apa nyampe jongkok segala?" tanya Bima menatap heran.
Aurara menggeleng. Mendongak sekilas lalu menjawab, "Minum harus duduk, Bim. Kalo berdiri nggak baik."
"Lah lo jongkok, gitu?"
Aurara mendengkus. "Kalo bisa duduk ya duduk, kalo nggak bisa duduk boleh jongkok. Asal jangan berdiri. Cih, nggak pernah ngaji, sih, lo," ejeknya berdecak-decak.
"Ye cebol songong," balas Bima lalu mulai membuka bungkus chikinya. Cowok itu hanya membeli satu bungkus camilan. Kalau banyak-banyak ribet bawanya katanya.
"Mau kaga nih?" tanya Bima menawarkan jajannya. "Berdiri dulu tapi. Lo kek jongos gue jongkok begitu."
"Nggak mau. Lo kalo mau pelit ya pelit aja. Cowok yang waras tuh pasti beliin temennya chiki juga. Bukannya beli cuma satu buat dirinya sendiri. Dasar gak inisiatif," tolak Aurara ketus. Cewek itu enggan berdiri. Memilih berjongkok dan akan berdiri jika sudah capek.
"Ya kan beli satu buat berdua. Biar sweet kaya di drakor-drakor, Ra. Suap-suapan," balas Bima terkekeh aneh. Mengingat lagi adegan drakor yang tak sengaja dia lihat di laptop Claudia.
Aurara mendelik. Lantas memukul kaki Bima yang dibalut sepatu dengan tinju tangannya.
"Nggak usah aneh-aneh. Gue jambak lagi tau rasa," ancamnya.
Bima sontak tertawa lepas. Cowok itu kemudian membungkukkan badan dan menarik paksa lengan Aurara agar berdiri.
"Nggak mau, Bim!" tolak Aurara mencoba melepaskan cekalan Bima dari lengannya. Bima tetap keukeuh mengajak Aurara berdiri. Cowok itu sampai menggunakan satu tangannya lagi untuk menangkap lengan Aurara yang lainnya.
"Ra."
Sebuah panggilan dengan suara bariton khas menghentikan aksi keduanya. Bima menolehkan kepala ke belakang tubuh. Kini posisi Aurara dan Bima sudah setengah berdiri. Juga persis seperti mereka sedang berpelukan karena kedua tangan Aurara yang lurus ke depan ke sisi tubuh Bima begitupun juga Bima.
Melihat wajah datar Kaka Aurara refleks mendorong tubuhnya menjauh dari Bima. Aurara melempar begitu saja es jeruknya ke jalanan samping koridor dan menatap Kaka dengan tegang.
"Kaka—"
"Apa?" Belum menyelesaikan kalimatnya Kaka sudah memotong begitu saja.
"Bukan yang kaya kamu liat," ujar Aurara peka. Kaka pasti salah paham.
"Jadi ini alesan minta break?" tanya Kaka terdengar kesal. Matanya menatap penuh permusuhan pada Bima yang untuk kali ini memilih diam.
"Enggak gitu. Tadi Bima nawarin chiki doang," jelas Aurara jujur.
Kaka menaikkan sebelah alisnya. "Pake peluk-peluk?"
Aurara menggeleng tegas. Raut wajahnya kentara sekali jika sedang takut. Takut Kaka salah paham lebih tepatnya. "Enggak gituuu," rengeknya.
Kaka mendengkus keras. Bayangan posisi Aurara dan Bima terlintas lagi di benaknya. Kaka tidak suka melihat mereka seperti tadi. Itu terlalu berlebihan dilakukan oleh sesama teman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaka&Rara [Completed]
Teen Fiction[DISARANKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU BIAR KEREN KAYAK SAYA] ___________ Brukk Tubuh Kaka ambruk saking terkejutnya. Aurara, cewek itu tiba-tiba melompat naik ke punggungnya, yang otomatis membuat Kaka tersungkur ke depan karena sama sekali tidak siap...
![Kaka&Rara [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/184402218-64-k695750.jpg)