Hari ini adalah hari dimana waktunya penerimaan rapor hasil UTS semester pertama siswa SMA Angkasa. Semua berbahagia karena setelah menerima rapor mereka akan langsung dipulangkan.
Begitupula yang lain, Aurara juga bahagia hari ini. Meskipun ada beberapa hal yang membuat Aurara menjadi berubah sedih seketika. Namum setidaknya hubungannya dengan Kaka yang membaik bisa membuatnya sedikit lebih baik.
"Kenapa, Nim?" tanya Aurara saat melihat Nimas geleng-geleng.
Tanpa mengangkat pandang pada rapor Aurara, Nimas menjawab, "Sedikit kemajuan, Ra."
Mendengarnya Aurara tersenyum lebar. Dengan bangga menepuk dadanya pongah. "Oh iya, dong! Rara!"
Nimas mengangguk-angguk. "Dari dua puluh ke sembilan belas," ucapnya.
Aurara menyengir. Meskipun ranking sembilan belas di antara tiga puluh siswa, Aurara tetap senang. Setidaknya masih banyak yang lebih bobrok daripada dirinya.
Tiba-tiba Nimas menutup kasar rapor Aurara. Menatap datar lalu dengan gemas menjitak kepala Aurara.
"Nggak usah bangga, lo. Ini jauh dari kata baik. Lo harus lebih rajin belajar, apalagi kita mau naik kelas tiga. Bakal banyak ujian. Lo harus latih otak lo dari sekarang biar nggak cepet berasap," ujar Nimas menasihati. Heran sekaligus gemas.
Aurara manyun. "Galak banget, sih, Nim."
"Nggak galak. Ini namanya gue peduli sama lo sayangkuuu," jawab Nimas betulan gemas.
"Padahal kan kita harus selalu ngeliat ke bawah biar selalu bersyukur. Masa gue kaya gitu masih salah?"
Tuhan ....
Nimas memejamkan sejenak matanya. Merapalkan istighfar sebanyak-banyaknya dalam hati berharap diberi kesabaran lebih.
"Ih lo mah gitu. Gue disalahin mulu. Udah ah bete. Gue mau ke pacar aja," ujar Aurara dengan nada kesal. Cewek itu merebut begitu saja rapornya dari tangan Nimas dan memasukkannya ke dalam ransel, lalu tanpa pamitan melengang meninggalkan kelas.
"Yang salah gue atau dia, sih?" gerutu Nimas dalam hati.
Sementara itu Aurara melangkah santai menuju kelas Kaka yang ada di lantai 3. Sudah banyak siswa yang memenuhi koridor dengan menenteng rapor di tangan mereka. Wajah mereka pun bervariasi, ada yang nampak bahagia, sedih, dan yang biasa saja saat melihat hasil rapornya.
Langkah Aurara memelan saat hampir sampai di kelas Kaka. Di depan kelas Kaka terlihat ramai. Banyak yang berkumpul di depan kelas, dan yang paling menjadi pusat Aurara adalah Kaka yang sedang mengobrol dengan Zidan, Seno dan Ilham. Di tangan cowok itu terdapat sebuket bunga mawar putih berukuran sedang yang Aurara yakini adalah hadiah dari wali kelas karena Kaka masih dan selalu mendapatkan peringkat satu.
Aurara melotot kecil saat tiba-tiba Kaka menatap padanya dan tersenyum kecil. Keterkejutan Aurara tak berlangsung lama, cewek itu balas tersenyum, lalu melangkah mendekat pada Kaka.
"Abis darimana?" tanya Kaka saat Aurara telah tiba di hadapannya. Zidan, Seno dan Ilham tepat sedetik sebelum Aurara datang sudah pergi untuk menghampiri teman yang lain.
"Dari nyariin kamu," jawab Aurara menyengir lebar.
Kaka menggeleng kecil. "Nilainya gimana? Memuaskan atau sebaliknya?"
Aurara diam tak menjawab. Bola matanya berputar ke segala arah pura-pura tak mendengarkan pertanyaan Kaka.
"Jelek, ya?"
Aurara seketika menoleh kaget. Cewek itu melotot memandang Kaka. "KOK KAMU TAU, SIH?!"
Kaka tertawa kecil. Menyentil dahi Aurara pelan. "Ketauan. Lo kan males belajar."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaka&Rara [Completed]
Jugendliteratur[DISARANKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU BIAR KEREN KAYAK SAYA] ___________ Brukk Tubuh Kaka ambruk saking terkejutnya. Aurara, cewek itu tiba-tiba melompat naik ke punggungnya, yang otomatis membuat Kaka tersungkur ke depan karena sama sekali tidak siap...
![Kaka&Rara [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/184402218-64-k695750.jpg)