18. Cewek Murahan

4.4K 264 10
                                        


Setelah beberapa menit perjalanan, Kaka pun memberikan selembar uang setelah turun dari angkot. Dia mengangguk sekilas saat si supir angkot mengingatkan.

"Lain kali jangan naik angkot saya ya, Mas. Gara-gara ada Mas angkot saya berisik dan goyang-goyang daritadi," ucap si supir angkot lalu kembali melajukan angkotnya.

Ya, sejak awal Kaka memasuki angkot, Kaka sudah dihadiahi pekikan senang dari para penumpang yang kebanyakan adalah gadis-gadis berseragam SMP. Mereka tidak menyangka akan ada penumpang seganteng Kaka. Dan alhasil mereka saling berebut duduk di samping Kaka. Sepanjang perjalanan dipenuhi keributan oleh mereka. Sementara Kaka hanya diam, tak merespon sama sekali.

Kaka mengembuskam napas lega saat sudah memasuki gerbang sekolahnya. Dia menoleh saat pak Joko menyapa.

"Loh, Mas Kaka kok nggak bawa motor?" tanya pak Joko heran.

"Motor saya di parkiran," jawab Kaka seadanya.

Alis pak Joko bertaut bingung. "Mas Kaka abis keluar fotocopy?"

Kaka menggeleng.

"Lah terus gimana?"

Bukannya menjawab, Kaka justru menunjuk arah kanan, dimana baru saja ada seorang siswa yang masuk gerbang dengan brutal. Masuk dengan kebut-kebutan.

Pak Joko pun spontan berteriak dan mengacungkan tongkat satpamnya lalu berlari menghampiri siswa tersebut.

Dengan perginya pak Joko, Kaka pun bisa melanjutkan langkahnya menuju kelas. Namun dari arah belakang dia dapat mendengar suara yang memanggil namanya. Kaka berhenti, membalikkan badan.

Di depannya Mikhayla sedang menumpukan tangannya di lutut, mengatur napas.

"Kenapa lari-lari?" tanya Kaka memperhatikan Mikhayla yang masih ngos-ngosan.

Setelah dirasa napasnya kembali teratur, Mikhayla menegakkan badan, meringis malu.
"Nggak papa. Mau bareng ke kelas aja," jawab Mikhayla.

Kaka menaikkan sebelah alis. "Kelas kita beda."

Mikhayla menggaruk rambut pirangnya canggung. Menatap sekeliling berharap dapat menemukan alasan yang lebih tepat. Kemudiam dia teringat kantong plastik yang berada di genggaman tangan kanannya.

"Oh ya, aku mau ngembaliin kotak bekal kamu," ucap Mikhayla sembari menyerahkannya. "Makasih ya."

Kaka mengangguk. Menerimanya lalu memasukkannya ke ransel. Dia kemudian memberi isyarat dengan dagunya agar mereka mulai melangkah menuju kelas.

"Ka," panggil Mikhayla.

"Ya?"

"Cewek yang namanya Aurara itu siapa kamu?" tanya Mikhayla. Dia sudah cukup dibuat penasaran atas cewek yang terus menerus mengejar Kaka itu. Mikhayla sebenarnya sudah menanyakan itu pada salah satu sahabatnya, dan jawaban sahabatnya itu tidak cukup membuatnya percaya. Dia harus mendapatkan jawabannya pada Kaka langsung.

Kaka menoleh. "Emang kenapa?"

"Pengen tau aja, kenapa dia kok nyamperin kamu terus," jawab Mikhayla tenang.

"Bukan siapa-siapa," jawab Kaka singkat tanpa menatap Mikhayla.

Mikhayla mengangguk-angguk. Ada rasa lega sekaligus senang saat mendengarnya. Namun Mikhayla juga tidak bisa terlalu santai. Sejak dulu saja, tanpa ada siapapun yang benar-benar berani mendekati Kaka, Mikhayla belum juga bisa membuat Kaka peka bahwa dirinya menyukai Kaka. Apalagi ini akan ada cewek lain yang mengejar Kaka.

"Oh ya, nanti kalo mau ke lab Bahasa aku bareng, ya?" pinta Mikhayla saat mereka tengah menaiki tangga kelas 3.

"Kelas lo sama kelas gue berlawanan arah Mik, sendiri-sendiri aja," jawab Kaka yang memang tak mau ribet.

Kaka&Rara [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang