"Rara." Dari luar kamar suara nenek terdengar.
Aurara yang sedang menata rambutnya menoleh ke arah pintu kamarnya.
"Iya Nenek masuk aja," balasnya.
Nenek pun memutar knop pintu, sejurus kemudian tubuh rentanya yang terbalut kebaya berwarna kuning kunyit telah berdiri di belakang Aurara yang tengah berada di depan cermin. Meskipun bukan asli orang jawa, sejak dulu nenek lebih suka memakai kebaya. Rambutnya pun lebih suka digulung rapi ke atas.
"Kamu udah baikan? Gimana suhu badan kamu?" tanya nenek kemudian duduk di tepi ranjang Aurara. Memperhatikan sang cucu yang tengah berdandan.
"Alhamdulillah Rara udah baikan Nek. Panasnya turun pas malem. Pusingnya udah hilang juga jadi aku bisa tidur nyenyak," jawab Aurara. Cewek itu memutar tubuhnya menghadap sang nenek. Dia tersenyum lebar.
"Mungkin ini efek abis dijenguk calon pacar Nek."
Nenek mengibaskan tangan. "Jangan genit-genit kamu. Niru siapa juga? Mamamu dulu kalem-kalem aja."
Aurara semakin melebarkan senyumnya. Berbanding terbalik saat kemarin dia sakit. "Niru Nenek, dong!"
Nenek sontak berdiri, berjalan menghampiri Aurara lalu memukul lengannya pelan.
"Nggak sopan! Nenek pas masih gadis digenitin orang bukan genitin orang," ucapnya.
Aurara tertawa. Neneknya ya begini, mood nya mudah berubah-ubah. Kadang sekonyol ini, kadang suka marah-marah. Tak jarang pula suka mengunci diri di kamar. Meskipun begitu, neneknya mempunyai peran besar dalam masa pertumbuhannya selama ini. Dimana nenek bisa sekaligus menjadi ayah dan ibu baginya.
"Ya sudah, kamu cepet turun sarapan. Jangan lama-lama dan menor dandannya, nanti dikira ondel-ondel mau sekolah," ujarnya lalu berjalan keluar kamar Aurara. Meninggalkan Aurara yang semakin terbahak.
Sepuluh menit, acara sarapannya sudah selesai. Menu sarapan hari ini adalah kari ayam-- sesuka hati nenek mau masak menu apa, cucunya hanya terima beres saja. Yang sebenarnya sangat tidak cocok sekaligus tidak baik dimakan saat pagi hari begini. Aurara tidak terlalu menyukai makanan berbahan dasar santan. Makanya dia hanya mengambil sedikit nasi dan sarapannya bisa cepat selesai.
Setelah mencium tangan nenek dan Naysa-- dan mendorong pelan kepala Ismail-- Aurara pun berjalan menuju pintu utama rumahnya, hingga suara teriakan menghambat langkahnya.
"Kakak belum salam!" Terdengar suara Ismail di ruang makan mengingatkannya.
Aurara berhenti, memutar badan lalu balas berteriak, "Assalamualaikum. Rara yang cantik sekolah dulu!"
Dengan riang Aurara berjalan menuju gerbang rumahnya. Rasanya tidak keluar rumah seharian terasa satu tahun saja. Aurara paling tidak bisa hanya diam di rumah. Tidak ngapa-ngapain. Itu sangat membosankan bagi jiwa-jiwa bar-bar seperti dirinya.
"ASTAGHFIRULLAH." Sesaat setelah menggeser gerbang rumah, Aurara dibuat terlonjak kaget.
Kaka, cowok itu tengah menyender pada motor hitamnya sembari bersedekap dada dengan santai. Seolah sudah biasa memakirkan motornya dan menunggu Aurara di depan rumahnya.
"Kaka? Kamu ngapain ke sini?" tanya Aurara heran lalu berjalan mendekat.
"Ke sekolah, kan?" jawab Kaka pendek. Dia menatap Aurara lamat-lamat. Ada yang berbeda dari cewek itu pagi ini. Rambutnya dibiarkan jatuh melewati batas bahu. Di rambut bagian kanannya pun dihiasi penjepit berwarna pink. Warna bibirnya pun agak pink alami kali ini. Entah itu dipakaikan lipstick atau apa Kaka juga tidak tahu. Namun yang Kaka tahu, Aurara terkesan lebih manis dan lugu.
"Ih, kalo kamu pake seragam gini ya pasti mau ke sekolah. Maksud aku, kamu ngapain kok ke rumah aku?" tanya Aurara pada Kaka.
"Jemput." Kaka menjawab pendek.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaka&Rara [Completed]
Ficção Adolescente[DISARANKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU BIAR KEREN KAYAK SAYA] ___________ Brukk Tubuh Kaka ambruk saking terkejutnya. Aurara, cewek itu tiba-tiba melompat naik ke punggungnya, yang otomatis membuat Kaka tersungkur ke depan karena sama sekali tidak siap...
![Kaka&Rara [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/184402218-64-k695750.jpg)