60. Tuhan Tidak Tidur

2.6K 230 45
                                        

Hari ini, sepulang sekolah Aurara dan sahabatnya juga sahabat-sahabat Kaka tidak langsung pulang. Namun mereka akan pergi ke suatu tempat. Ide dari Aurara, mereka sepakat menyisihkan beberapa uang jajan mereka untuk iuran membagikan makanan untuk anak-anak jalanan yang akan mereka temui nanti. Selain niat berbagi, mereka juga mendedikasikan kegiatan ini untuk Kaka. Berharap Kaka akan segera siuman dari komanya.

Setelah mengangkut dan menata makanan yang akan mereka bagikan nanti ke mobil Zidan, rombongan itu akhirnya berangkat.

Tidak ada tujuan pasti, namun mereka akan berhenti di sisi jalan besar dimana biasanya banyak anak jalanan yang berlalu lalang di sana entah mengamen, berjualan, atau menjadi pembersih kendaraan dengan membawa kemoceng.

Aurara, Nimas juga Claudia ikut mobil Zidan bersama Seno dan Ilham.

Mereka masih menggunakan seragam lengkap. Memilih seperti itu agar tidak semakin kesorean jika harus pulang ke rumah dulu.

"Semoga kita nemuin banyak anak jalanan, ya." Tiba-tiba Zidan menyeletuk di sela fokus menyetirnya. Melirik dari kaca pada Aurara yang sedang melamun.

"Setuju. Seenggaknya, makin banyak mereka, doa untuk Kaka juga makin banyak," balas Seno di sampingnya.

Ilham mengangguk-angguk. Menoleh lalu menipiskan bibir saat melihat Aurara melamun dengan menatap kosong jendela. Ilham lalu mengangkat tangannya, menggerakkan di depan wajah Aurara.

"Ra, hei, jangan ngelamun. Nanti kesurupan," tegurnya sedikit mengeraskan suara.

Aurara langsung mengerjap. Menoleh bingung pada Ilham seolah bertanya 'kenapa'.

"Nggak usah mikirin yang aneh-aneh, Ra. Selagi kita semua berdoa dan optimis, semua akan baik-baik aja."

"Eh, astaga. Kak Zidan bisa bijak ya ternyata," celetuk Claudia di kursi belakang bersama Nimas. Sekejap agak kagum. Di balik kepribadiannya yang suka nge-gas, ternyata Zidan bisa sedewasa ini.

Sontak saja Zidan tertawa lebar. Menggema di dalam mobil. Kentara sekali jika cowok itu sedang senang dipuji seperti itu.

"Aduh, siapa nama lo? Eh, gue kasih tau ya. Mana bisa dibilang bijak kalo copas quote dari Google." Seno menoleh ke belakang. Memberitahu Claudia jika Zidan tidak sewaras itu.

Zidan mendelik. Tidak terima dengan pernyataan Seno. "Apaan lo? Sehari semalem gue mikirin kalimat barusan. Karena gue tau Aurara pasti masih sedih mikirin Kaka. Gue pengen lah nyemangatin Aurara." Dia kemudian menoleh pada Aurara yang menyimak baik percakapan. "Bilang apa, dong sama gue?"

"Kagak usah sok peduli lo, Dan. Lo sering tuh ngatain Aurara cebol, bawel, udah gitu idup lagi. Sekarang aja sok-sokan," timpal Seno semakin memanas-manasi.

"Heh maksud lo apa? Mau mengadu kambing gue sama Rara? Sorry ya Sen. Gue udah baikan. Yakan, Ra?" Zidan sekali lagi menoleh, meminta persetujuan Aurara.

Aurara sontak menggeleng. Mengatur raut wajahnya juga gestur tubuh seangkuh mungkin. "Sejak kapan? Dari dulu kan Kak Zidan jahat mulu sama aku. Sering ngatain, sering ngusir-ngusir. Terus sekarang ngaku-ngaku kita udah damai. Aku curiga, Kak Zidan suka sama aku, ya?"

Tawa Seno langsung pecah. Diikuti Ilham. Sementara Claudia dan Nimas hanya menyimak percakapan ngalor-ngidul ini dengan kekehan kecil. Jujur, Nimas senang melihat Aurara dalam kondisi sebaik ini. Jauh dibanding hari-hari sebelumnya. Meski tidak mengenal baik ketiga kakak kelasnya ini, namun Nimas dapat meyakini, mereka bertiga juga menyayangi Aurara. Peduli pada Aurara. Mereka menghibur dan mencoba membuat Aurara selalu optimis dengan cara mereka sendiri.

"Lo nggak inget pas lo nangis-nangis siapa yang peluk dan nenangin? Gue! Mana ada nih dua curut," gerutu Zidan mulai fokus lagi pada kemudinya setelah mendapatkan klakson peringatan karena tidak terlalu benar mengemudikan mobilnya.

Kaka&Rara [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang