45. Sebuah Kejutan

3.8K 268 38
                                        

"Penggrebekan! Penggrebekan! Woi anak orang, tuh!"

Kaka yang habis mengecup singkat pipi Aurara sontak menegakkan badan saat mendengar sebuah suara bariton berteriak. Dia menjauhkan tubuhnya kemudian refleks berdiri. Hal yang sama pun terjadi pada Aurara. Pipinya sudah memanas luar biasa. Aurara ikut berdiri. Kedua telapak tangannya dia gunakan untuk menutupi wajah yang sudah memerah.

Dari jarak yang cukup jauh, terlihat Zidan dan Seno tengah tertawa keras. Mereka tampak puas menertawai tingkah Kaka yang tidak pernah mereka duga. Bahkan Zidan sampai membungkuk memegangi perutnya.

Sementara Kaka menatap datar. Jujur, Kaka malu sekali. Namun Kaka tidak boleh terlihat konyol di depan kedua teman gilanya itu atau tidak Kaka bisa menjadi bahan ledekan keesokan harinya.

"Kaka nge-gas banget," ledek Zidan disertai tawa nyaringnya.

"Hooh. Disuruh jemput malah pake adegan 17+ begitu," tambah Seno lebih membuat Aurara memundurkan langkah dan bersembunyi di balik punggung Kaka. Entah kenapa Aurara merasa malu kepergok begitu.

Kaka menatap kedua temannya penuh ancaman. Kaka tidak mengatakan sepatah kata pun. Tidak ada gunanya. Bisa jadi mereka malah makin menjadi jika ditanggapi.

Kaka berbalik ke belakang. Dia menggaruk tengkuknya canggung saat menatap Aurara.
Sial!

Kenapa Kaka jadi cupu begini?

Kaka berdehem. "Mau pulang sekarang?"

Aurara perlahan menurunkan kedua tangannya dari wajah. Cewek itu terlihat masih memerah wajahnya.

"Enggak papa. Orang sinting kaya mereka nggak usah dipeduliin," ucap Kaka menenangkan.

Aurara mengangguk. "Pulang," rengeknya yang langsung diangguki Kaka. Kaka melepas jaket hitamnya, lantas memberikannya pada Aurara.

"Kalau yang ini jangan dipinjem," kekeh Kaka lalu memakai helmnya. Pernyataannya membuat Aurara mengernyit.

"Kenapa gitu?"

"Jaket kesayangan," jawab Kaka kemudian naik ke atas motornya.

Aurara mengerjap. Sadar akan sesuatu, Aurara jadi memajukan bibirnya. "Masa lebih sayang jaket daripada aku?"

Keadaan sudah sedikit mencair di antara mereka.

Kaka melirik Aurara sekilas. Kaka menyipitkan mata di balik helm pertanda jika sedang tersenyum.

"Iya lah."

Bibir Aurara semakin manyun. Dia melipat kedua tangan di depan dada. Melirik kesal pada Kaka yang sepertinya santai-santai saja.

"Terus kenapa tadi cium aku?"

"Eh?!" Aurara berseru kaget. Mulutnya ini susah sekali dijaga.

***

Aurara melihat kembali kalender di nakas samping ranjangnya. Bulan juni. Aurara semakin memicingkan matanya saat melihat jejeran angka-angka di bulan ini. Hari ini tanggal 12. 12 juni adalah ulang tahun Papanya.

"Ra udah selesai belum?" Dari balik pintu kamar Aurara suara Naysa terdengar cukup keras disertai beberapa kali ketukan. Aurara menoleh, kemudian beranjak berdiri dan membukakan pintu kamarnya.

"Mbak Nay," sapa Aurara dengan senyuman lebarnya ketika melihat Naysa sudah berdiri di depannya.

Naysa balas tersenyum. Mengamati penampilan Aurara dari atas ke bawah. Tangannya bergerak mengelus pelan surai legam Aurara yang jatuh indah sepunggungnya.

"Adik Mbak Nay nambah cantik ya malam ini," pujinya serius. Adiknya itu tampak begitu anggun di balik balutan dress putih tanpa lengan selututnya. Di bagian dada dress tersebut terdapat bunga-bunga kecil dengan warna bervariasi yang menambah kesan lebih manis lagi.

Kaka&Rara [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang