Lima bulan yang lalu
Hari ini seharusnya ia berangkat ke singapura untuk menyusul istrinya sekaligus menyelesaikan masalah di antara mereka, namun jeki harus mengubah keberangkatannya lantaran calon investornya mendadak telepon dan meminta Jeki untuk berangkat ke Amerika secepatnya.
Dilema sudah pasti namun jeki harus memprioritaskan urusan bisnis karena amanah sang ayah yang sedang kritis dan nasib para karyawan yang harus diselamatkan secepatnya. Akhirnya berangkatlah ia ke Amerika dengan diantar Aming sampai bandara.
"Lo serius bisa sendiri Jek?"
"Santai Ming, pokoknya lo bantuin jimi aja disini, pihak mereka juga udah menjamin segala kebutuhan gue disana kok"
"Yaudah lo hati-hati, sukses ya Jek"
Aming terus saja mengoceh soal ini itu persis seperti ibu yang anaknya akan pergi merantau. Sampai jeki harus memperingati bahwa bisa saja orang-orang salah paham pada hubungan mereka dan Aming tidak peduli. Begitulah wujud perhatiannya pada orang yang sudah ia anggap sebagai saudara.
Setelah drama keduanya berakhir Jeki pun pamit, meski hati sedang kacau namun dia tetap tersenyum, dirinya harus kuat dan fokus agar teman-temannya tidak khawatir. Jeki mulai melangkah menuju gate keberangkatan, namun baru satu langkah tiba-tiba dia berbalik, membuat Aming bertanya dalam hati, jangan bilang ada yang ketinggalan. Batinnya mewanti-wanti
"Ming" suara Jeki memanggil lemah
"Iyah kenapa, ada yang ketinggalan" Aming menyahut antusias
Jeki menggeleng lemah lantas matanya berkaca-kaca "Doain gue ya"
Seketika hati Aming resah, perasaannya tidak enak tapi dia bisa apa selain mengatakan "pasti, nggak usah lo pinta juga gue bakal selalu doain lo kok" dan tepukan di bahu jeki menjadi salam pengantar kepergiannya ke Amerika.
____oOo_____
Dari dalam mobil Jeki memandang negeri paman sam dengan kagum. New York memang Sangat berbeda dengan Jakarta, namun ia tetap mencintai kota kelahirannya, karena disanalah Jeki bertemu dengan Una istrinya, pujaan hatinya dan satu-satunya wanita yang ia pilih untuk menjadi teman hidupnya.
Hari ini ia akan bertemu dengan investor yang akan menanamkan saham di perusahaan ayah mertuanya. Jeki gugup sekaligus senang, akhirnya satu masalah dapat teratasi. Tanpa sadar bibirnya tersenyum lebar.
Mobil yang membawanya sudah tiba di sebuah gedung tinggi yang berada di kawasan wall street, yaitu kawasan bisnis paling ternama di dunia. Rupanya kedatangannya sudah di tunggu oleh sang pemilik perusahaan. Ia disambut hangat oleh Cha Eunwoo, orang yang ia temui sebelumnya.
"Hai, apa kabar" laki-laki tampan itu mengulurkan tangan untuk bersalaman
"baik" jeki menyambutnya dengan hangat
Eunwoo memang orang indonesia yang pindah ke korea lalu berkarir di Amerika, jadi dia memang menguasai tiga bahasa. Maka dari itu saat bertemu Jeki dia memilih untuk berbicara bahasa indonesia.
"gimana perjalanannya?" tanya Eunwoo
"biasa melelahkan"
Keduanya pun melanjutkan langkah menuju ruangan utama menggunakan lift khusus yang terhubung langsung ke tempat dimana sang pimpinan berada. Hanya eunwoo serta tamu penting yang diizinkan menggunakan lift tersebut.
"udah siap Jek ketemu bos saya?"
"sedikit gugup tapi bukan masalah, hari ini kita langsung tanda tangan kontrak bukan?"
"yah kalau kamu setuju dengan isi kontraknya, bisa langsung tanda tangan dan uang akan cair hari ini juga"
Jeki tersenyum lega, namun senyum itu langsung luntur ketika pintu lift terbuka. Menampilkan sosok cantik dibalut stelan jas merah yang nampak elegan, rambut panjangnya terurai, matanya tajam menusuk dan bibirnya merah semerah darah. Wanita itu tersenyum menyambut kedatangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRUE LOVE (Sequel Kawin Kontrak)
FanfictionCINTA Sejati tidak pernah benar-benar pergi, dia akan menemukan jalannya kembali.
