Jam menunjukkan pukul setengah 6 sore. Setelah bertemu anak-anak jalanan tadi, disinilah Devano dan Devandra berada. Di rooftop apartemen milik kakek mereka yang biasa mereka kunjungi ketika membutuhkan ketenangan.
Kedua cowok itu menelentangkan tubuh mereka di lantai semen rooftop. Kepala mereka bertemu dan hanya berjarak satu jengkal. Membentuk garis panjang karena tubuh tinggi mereka.
Kedua mata mereka menikmati pemandangan langit yang akan berubah menjadi biru tua. Mereka merasa senang dan juga...tenang.
"Van," panggil Devandra pelan.
"Hm," sahut Devano.
"Makasih buat hari ini," ucap Devandra.
"Makasih lo udah ngajarin gue sama temen-temen gue arti sebuah rasa bersyukur. Lo nunjukin kalo kita semua anak-anak yang beruntung. Terlahir disebuah keluarga yang berkecukupan. Yang nggak perlu panas-panasan supaya bisa makan enak setiap harinya. Yang kadang suka bingung milih baju karena saking banyaknya. Nggak kayak mereka yang baju sobek aja masih dipake. Mulai hari ini, gue janji akan rajin belajar dan nggak bolos sekolah lagi. Gue nggak bakal ingkari janji itu. Karena, gue janjinya sama lo. Abang gue yang paling baik."
Tidak ada yang berbicara lagi setelah Devandra mengatakan itu. Sampai suara Devandra yang memanggil Devano memecah keheningan.
"Van?"
Devandra beranjak bangun lalu menoleh ke belakang. Mendengus kesal melihat saudara kembarnya itu memejamkan matanya.
"Ck, gue ngomong panjang lebar ditinggal tidur."
Devandra berdiri dan melangkah pergi ke restoran yang ada di lantai bawah. Meninggalkan saudara kembarnya yang masih memejamkan matanya.
Devano membuka matanya dan tersenyum tipis. Sejak tadi ia mendengarkan saudara kembarnya itu berbicara panjang lebar. Ia berpura-pura tidur karena tidak tahu harus menanggapi bagaimana ucapan Devandra itu.
Ia tak mau Devandra melihat kedua matanya yang berkaca-kaca karena terharu mendengar ucapannya itu.
Devano beranjak berdiri dan berjalan ke tepi rooftop. Punggungnya bersandar pada pagar kaca tebal rooftop.
Telapak tangan kanannya menyentuh bekas pukulan ayahnya kemarin yang masih terlihat jelas.
Devano tahu alasan Devandra menyuruhnya bolos. Karena saudara kembarnya itu tidak mau semua orang melihatnya babak belur.
Devano mendongak menatap langit yang sudah gelap. Tak lama, ia menurunkan pandangannya ketika mendengar suara langkah kaki cepat yang berjalan ke arahnya.
Tubuh Devano menegang melihat seseorang itu.
---
Devandra memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Berjalan santai melewati banyak perempuan yang menatapnya...kagum.
Tidak sedikit dari mereka yang memekik tertahan melihat wajahnya yang ganteng. Devandra menahan senyumnya.
Jangan senyum, nanti mereka pingsan, ucapnya percaya diri di dalam hati.
Kedua matanya menangkap sosok pria paruh baya yang sedang duduk sendirian disalah satu meja restoran. Cowok itu berjalan menghampiri seseorang itu.
"Ayah?"
Alfian menoleh. "Kenapa kamu disini?"
Devandra merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia malah menghampiri ayahnya yang sepertinya sedang marah?
"Emm, Devandra sama Devano juga, Yah."
Devandra meringis. Astaga, ia keceplosan.
"Mana saudara kembar kamu itu?"
Apa alasan ayahnya itu begitu marah kepada Devano kemarin sampai-sampai tidak mau menyebut nama saudara kembarnya itu?
"Di-di rooftop, Yah," jawabnya sedikit ragu.
Alfian mengangguk samar dan langsung berjalan meninggalkan Devandra menuju rooftop.
🌼🌼🌼
Padahal aku mau fokus buat belajar. Ehh, malah tangannya gatel buat nulis, hehe
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Devano✔
Teen FictionCOMPLETED Alfian Series 1 Devano Alfian Putra, cowok pintar berwajah tampan. Ia selalu tersenyum hangat sehangat mentari meskipun hatinya sedang berselimut awan mendung. Sampai sebuah kejadian benar-benar membuat senyum di wajahnya menghilang seirin...
