Hari ini adalah hari dimana Devano akan menjalankan operasinya. Setelah itu, ia dapat melihat lagi.
Dina menggenggam tangan anak laki-lakinya yang duduk di ranjang. "Bunda sama yang lain tungguin Devano di depan ruang operasi."
Devano mengangguk, "iya Bun."
"Emm..." Sebenarnya Devano malu untuk bertanya hal ini. "Emm...Bun, Vania kemana?"
Tanpa Devano ketahui, Dina dan Alfian menahan tawanya. "Bentar lagi juga dateng. Udah kangen ya?"
"Ehh, apaan nggak!" elak anak laki-lakinya itu.
"Iya juga nggak papa kok," goda Alfian.
"Nggak!"
Ceklek!
"Aduh!"
Vania menoleh ke belakang melihat pelaku yang baru saja menarik rambutnya. Vania memukul bahu Devandra lumayan keras.
"Pandra!"
Devandra berlari masuk ke dalam ruang rawat inap Devano untuk menghindar dari serangan singa betina yang sedang mengamuk itu.
"Wle," Devandra menjulurkan lidahnya mengejek.
"Ohh, belum pernah ngerasain sepatu aku yang nyium kepala kamu, iya?"
"Ekhem."
Suara deheman itu menyadarkan Vania yang sudah melepaskan sepatu dan sebentar lagi akan mendaratkan sepatunya itu ke kepala Devandra.
"Hehe, Bunda. Nggak kok. Vania nggak mau melakukan kekerasan kepada anak Bunda," ucap Vania lembut.
"Ehh, siapa bilang Bunda ngelarang kamu, Van," ucap Dina sambil melirik Devandra. "Pukul aja kepalanya, siapa tahu Devandra jadi pinter."
"Ohh, Bunda gitu sama Devandra." Devandra menoleh ke arah Alfian berusaha meminta bantuan. "Yah..."
Alfian mengangguk mengerti. Pria paruh baya itu berjalan mendekat ke arah Devandra. Alfian merangkul pundak anak laki-lakinya itu lalu tersenyum.
"Anak ayah mau dipukul Vania, ya?" Devandra mengangguk dengan wajah yang dibuat memelas. Alfian menoleh ke arah Vania. "Jangan Vania."
Alfian melanjutkan, "Jangan sendirian kalo mau ngerjain Devandra. Om bantuin, Van. Cepet pukul kepala ni anak biar pinter."
"Loh, Ayah!" seru Devandra sambil berusaha melepaskan rangkulan Alfian.
Vania mengayunkan sepatu sport berwarna putih miliknya ke arah Devandra. Tepat ketika sepatu milik Vania akan mengenai Devandra, cowok itu memutar tubuhnya ke belakang.
Bugh!
"Aduh!"
Mulut Vania terbuka lebar. Bukan, sepatu Vania bukan mengenai Devandra. Tapi, Ayahnya Devandra. Alfian.
Bayangkan betapa malunya Vania sekarang.
Dina yang duduk di kursi samping ranjang Devano terkekeh mendengar pekikan suaminya itu sedangkan Devandra sudah tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya.
Devandra menjulurkan lidahnya, mengejek Vania yang sedang menatap tajam ke arahnya. Cowok itu menghampiri Devano. "Ayah kena lemparan sepatu Vania," bisik Devandra.
Sedetik kemudian, tawa saudara kembarnya berderai. "Wah, wah, parah lo, Van. Lanjutin!"
Ehh, kok?
Napa Devano jadi ngomporin Vania?
"Duh, Om. Maaf ya, Vania nggak sengaja beneran deh. Anak Om itu yang kurang ajar malah balik badan pas sepatunya udah melayang di udara," cerocos Vania.
"Iya, iya nggak papa. Nanti saya hubungin Ayah kamu," ucap Alfian sambil tersenyum.
"Lah kenapa Om?"
"Mau bilang anaknya udah kurang ajar sama rekan kerjanya."
"Aishh, Om. Jangan!" heboh Vania. Vania menoleh ke arah Dina. "Bunda, suaminya dicium itu Bun kepalanya. Supaya bisa sembuh dan hatinya pasti berbunga-bunga."
Ehh?
Kedua mata Alfian berbinar. "Ide kamu bagus, Van," ucap Alfian pada Vania pelan. Alfian mendekat ke arah istrinya. "Iya nih Bun. Kepala Ayah sakit lho."
"Apaan dah," balas Dina cuek.
---
Vania berjalan mendekat ke arah Devano yang duduk di ranjang setelah Devandra, Alfian, dan Dina keluar hendak pergi ke kantin. Cewek itu berdiri di samping ranjang Devano.
"Pano," panggil Vania pelan hampir berbisik.
"Apa?"
"Nanti kalo pas operasi jangan takut ya."
"Hm."
"Kalo pas operasi jangan gugup."
"Iya."
"Kalo sakit jangan teriak. Nanti dokternya kaget."
"Hm."
"Nanti mikirin aku aja kalo kamu lagi gabut."
"Dih."
"Kalo pas operasi kamu bosen, dengerin musik aja."
"Mana bisa dengerin musik!"
"Emang nggak bisa?"
"Nggak Vania."
"Ya udah, kamu nyanyi aja."
"Nggak bisa!"
"Main gitar aja deh. Dibolehin kok sama dokternya."
"Ngaco."
"Ya udah deh, nonton tv aja."
"Nggak bisa, Vania. Hihh, sebel gue sama elo. Mana sih pipi lo?"
Vania menangkup kedua pipinya. "Nggak mau. Nanti kamu tarik pipi aku."
"Siapa bilang?"
"Terus?"
"Mau gue cium. Abis gemes."
"Nggak bolehhh! Belum muhrim!" teriak Vania heboh.
🌼🌼🌼
Beberapa Bab berikutnya alurnya cepet yaa
Kalau bingung tanya aja, hehe
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Devano✔
Teen FictionCOMPLETED Alfian Series 1 Devano Alfian Putra, cowok pintar berwajah tampan. Ia selalu tersenyum hangat sehangat mentari meskipun hatinya sedang berselimut awan mendung. Sampai sebuah kejadian benar-benar membuat senyum di wajahnya menghilang seirin...
