"Boleh tahu kenapa Pano nggak bisa lihat lagi?"
Vania mengerutkan dahinya bingung melihat Devandra yang menunduk. "Semua karena kesalahan yang gue lakuin."
"Maksudnya?" tanya Vania bingung.
"Kalo gue nggak ngehajar sepupu gue sendiri. Kalo gue nggak terbawa emosi untuk ngelawan gengnya sepupu gue itu... sekarang Devano masih bisa lihat."
"Kenapa? Maksud aku, kenapa kamu mukulin sepupu kamu?"
"Karena sepupu gue itu udah ngrebut pacarnya Devano."
"Pacar?"
"Iya. Padahal Devano sama tu cewek udah lebih dari dua tahun pacaran. Tapi gue tahu sih, tu cewek nggak pernah sekalipun sayang sama Devano."
"Kok gitu?"
"Siapa sih yang nggak kenal Devano, ketua OSIS SMA Alfian dan terkenal dengan prestasi yang membanggakan? Cewek itu cuma pengen terkenal melalui Devano. Yaitu jadi pacarnya Devano."
"Jahat."
"Gue liat sehancur apa hati Devano pas tahu pacarnya itu selingkuh sama sepupunya sendiri. Pas gue tahu, gue dan temen-temen gue-"
"Mukulin sepupu kamu itu?" potong Vania.
Devandra mengangguk mengiyakan. Cowok itu tentu tidak ingin membicarakan masalah keluarganya, makanya ia langsung bercerita tentang Bunda mereka.
"Disaat Bunda siuman setelah lima tahun koma, gue lagi sama Devano mau ke rumah sakit tapi ada beberapa orang yang dateng nyari gue. Mereka sekitar sepuluh orang. Ternyata mereka temen satu gengnya Rian, sepupu gue itu."
"Astaga," kaget Vania. "Jadi Rian?"
Devandra menoleh ke arah Vania. "Lo kenal?"
Vania mengangguk.
"Ohh."
"Nggak kenal juga sih."
"Lah, ngapain lo ngangguk?"
"Nggak terlalu kenal maksudnya. Tapi aku suka denger cerita Pano soal Rian. Katanya, sepupunya itu baik. Pas saudara kembarnya kelayapan sampe malem," Vania menekankan dua kata terakhir.
"Sepupunya itu selalu dateng nemenin dia di rumah. Entah main atau belajar bareng. Gitu kata Pano dulu."
Kedua mata elang Devandra menyipit menatap Vania. Ekspresinya datar. "Lo nyindir gue?"
"Ohh, merasa kesindir yaa?"
"Iya."
"Alhamdulillah."
"Ahh udahlah. Gue nggak mau cerita lagi."
"Yee, gitu aja ngambek. Dasar Panda!"
Devandra langsung menoleh ke arah Vania. Kedua matanya berbinar. "Lo kasih panggilan sayang buat gue?"
"Apaan sayang-sayangan?"
"Itu tadi Panda? Jadi gue boleh panggil lo Bunda dong?"
"Apaan dah. Kalo aku Bunda kamu, jadi aku ibu tiri kamu dong?"
"Ogahlah!"
"Aku juga nggak mau."
"Lo tadi panggil gue Panda. Biasanya kalo orang pacaran kan manggilnya Panda-Bunda."
"Emang kita pacaran?"
"Lo mau?"
"Nggak," ucap Vania enteng.
"Jawab aja belum."
"Nggak."
"Belum. Lo belum mau jadi pacar gue."
"Sok tahu."
"Emang."
"Aku manggil kamu bukan Panda."
"Lha itu tadi?"
"Huruf R nya tadi ketinggalan."
"Lo pikir lagi mau naik angkot pake ketinggalan?"
"Aku mikirnya naik bus."
"Lama-lama nggak jelas lo ngomongnya. Jadinya lo manggil gue apa?"
"Pandra."
"Ya udah deh nggak papa. Oke Pani," tangan Devandra terangkat mengacak puncak kepala Vania.
"Pandra!"
Cewek itu merapikan ikatan rambutnya setelah memukul lengan Devandra dengan keras.
Devandra berhenti tertawa dan seolah ada musik yang mengiringi gerakan Vania mengikat rambut panjangnya.
Selama beberapa detik, Devandra terdiam. Ia seolah terpaku pada cewek itu. Apa ia...terpesona?
Devandra menggeleng untuk mengembalikan kesadarannya. Tak perlu menyentuh bagian mana jantungnya berada pun ia tahu, jantungnya berdegup sangat kencang.
Apa benar Devandra sedang jatuh hati pada cewek yang baru ia temui kemarin? Secepat itu ia jatuh hati?
Vania menepuk bahunya pelan, "kenapa?"
Devandra tersenyum manis. "Nggak papa kok."
Vania menghela napas lega. "Syukur deh. Aku kirain kamu gila. Orang kamu senyum-senyum sendiri gitu."
Devandra menatap Vania dengan kening berkerut dan dengan tatapan tidak percaya. Apa benar ia jatuh hati pada cewek menyebalkan seperti Vania ini?
"Lanjutin ceritanya," ucap Vania.
"Sampe mana tadi?"
"Sampe...hati kamu," goda Vania.
Apakah ada sesuatu yang bisa menutupi wajah Devandra yang memerah saat ini? Serius, wajah Devandra sudah memerah saat ini.
"Eaaa, blushing!"
"Apaan, enggak!" elak Devandra.
"Iya kamu blushing!"
"Nggak! Orang gue kepanasan."
"Ish, ya udah. Cepet lanjutin ceritanya."
Devandra kembali bercerita. "Salah satu temennya Rian udah gue lawan dan pas gue balik ke arah Devano, tiba-tiba Devano lari ke arah gue. Gue didorong sama Devano dan ketabrak motor. Setelah itu gue denger suara pecahan kaca. Gue sempet lihat Devano jatuh dengan banyak darah dan pecahan kaca di sekitarnya sebelum gue pingsan."
Hening. Tak ada bersuara lagi setelah Devandra bercerita. Devandra menoleh ke arah Vania yang menunduk dalam dengan kedua tangan yang menutupi wajah.
Kedua bahu cewek itu bergetar pelan. Isakan kecil muncul di balik telapak tangannya, "De..vano."
Jelas Vania menangis mendengar cerita Devandra mengenai apa yang terjadi pada sahabat baiknya itu.
Entah apa yang membuat Devandra berani menarik Vania ke dalam dekapannya. Devandra mengusap lembut kepala bagian belakang Vania.
"Jangan nangis."
🌼🌼🌼
Aku update nanti sore lagi yaa, hehe
Selamat membaca bab berikutnya🤗
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Devano✔
Подростковая литератураCOMPLETED Alfian Series 1 Devano Alfian Putra, cowok pintar berwajah tampan. Ia selalu tersenyum hangat sehangat mentari meskipun hatinya sedang berselimut awan mendung. Sampai sebuah kejadian benar-benar membuat senyum di wajahnya menghilang seirin...
