BAB 32

6.4K 526 12
                                        

"Keadaan Bunda gimana, Yah?"

Alfian menoleh. Devano tersentak melihat tatapan tajam Alfian. Cowok itu menatap Ayahnya ketakutan.

Alfian menarik Devano menjauh dari ruang operasi, membiarkan Devandra menunggu sendirian. Alfian mendorong Devano hingga anaknya itu jatuh.

"Kamu manja banget Devano!" bentaknya. "Kamu bisa kan beli sendiri es krimnya. Nggak usah nyuruh Bunda beliin?!"

"Gara-gara kamu Bunda kecelakaan!"

"Bukan, bukan salah Devano, Yah. Bunda kecelakaan bukan salah Devano," cicit Devano.

"Kalo sampe Bunda kenapa-napa, Ayah nggak bisa maafin kamu!" bentaknya sebelum meninggalkan Devano.

---

Devandra mengacak rambutnya frustasi. "Kenapa gue sebodoh ini? Kenapa gue nggak pernah tau lo dipukul Ayah? Kalo gue tahu, gue pasti bakal bantuin lo."

"Gue bener-bener nggak gu-"

"Jangan ngomong kayak gitu," potong Devano yang tahu apa yang akan Devandra katakan.

"Gue nggak mau lo jadi benci sama Ayah. Makanya selama ini gue diem aja," Devano mendongak menatap langit agar air matanya tidak menetes.

Entahlah, baik Devano maupun Devandra tidak tahu alasan kenapa beberapa hari ini mereka sering menangis.

Devano mulai bercerita, "gue pindah sekolah pas SMP juga bukan kemauan gue sendiri seperti apa yang gue dulu bilang ke lo. Itu karena ayah nyuruh gue buat pindah sekolah. Dia nggak mau keluar biaya yang banyak buat gue. Makanya Ayah pindahin gue ke SMP Negeri."

"Alasan gue selama ini nyembunyiin identitas gue di sekolah selain mau dikenal karena prestasi gue itu...karena Ayah nggak mau banyak orang yang tau gue ini anaknya. Gue sekolah di sana karena kakek yang minta ke Ayah."

"Gue naik skateboard karena Ayah nggak memfasilitasi gue kecuali makan, tempat tidur, sama uang saku. Gue minta dibeliin motor bekas aja, Ayah tolak mentah-mentah."

"Gue kerja supaya bisa kuliah pake biaya sendiri, nggak perlu ngrepotin Ayah lagi. Ayah udah nggak nganggep gue anaknya, Ndra."

Devandra menyeka air matanya dengan punggung tangan. "Gue jadi saudara kembar yang jahat banget, Van. Gue nggak tau kesusahan saudara kembar gue sendiri."

Cowok yang masih setia menatap langit untuk mencegah air matanya menetes itu tertawa kecil.

"Cengeng banget lo."

Perlu diketahui, Devano juga sedang meledek dirinya sendiri.

---

Devandra berlari menuju salah satu ruangan yang ayahnya beri tahu tadi di telepon. Jantungnya berdetak melebihi ritme.

Ia benar-benar takut terjadi hal buruk pada Bundanya.

"Ayah," panggil Devandra.

Alfian menangis lalu memeluk erat Devandra. Jantung cowok itu berdetak lebih kencang dari sebelumnya.

"Ayah kenapa nangis? Bunda nggak papa kan?" tanyanya dengan nada khawatir yang begitu jelas.

"Bunda..."

"Bunda kenapa, Yah?"

"Bunda siuman..."

Ada sebuah rasa lega yang begitu besar di hati Devandra.

Akhirnya, akhirnya Bundanya kembali membuka matanya setelah koma selama lima tahun.




🌼🌼🌼

Perkiraanku salah, hehe. Ternyata ada tujuh bab yang mau aku update sebelum UNBK

Selamat membaca bab berikutnya🤗

Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊

Devano✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang