BAB 23

6.6K 528 9
                                        

Kringg, kringg

Bel masuk berbunyi. Devano menoleh ketika kedua matanya menangkap seseorang yang terburu-buru masuk ke dalam kelas.

Pandangan mata seseorang itu tak lepas dari barisan meja paling depan yang ditempati Devandra dan teman-temannya.

Saking herannya melihat mereka, seseorang itu tak memperhatikan langkah kakinya.

Bruk

"Aduh!"

Seseorang itu terjatuh karena menginjak tali sepatunya yang terlepas. Tawa teman-temannya berderai melihat seseorang itu terdampar di lantai.

"Woi Dim, jalan tuh liatnya ke depan. Nggak ke samping," ledek temannya.

"Lo terpesona sama Devandra dkk sampe lo nggak fokus jalan, Dim?" ledek Devano.

Dimas berdiri. "Diem lo semua!"

Bukannya diam, tawa teman-teman satu kelasnya malah tambah berderai. Dimas mendengus kesal.

Cowok itu langsung berjalan ke bangkunya lalu duduk di sebelah Devano. "Gitu lo sama sahabat sendiri."

Devano menoleh sekilas ke arah Dimas. "Maaf, apa saya kenal anda?"

Tangan cowok itu yang berniat untuk menggeplak kepala Devano terurung karena baru sadar terdapat luka pada wajah sahabatnya.

"Van?"

Devano mengangguk mengiyakan. Ia tahu apa yang dipikirkan Dimas. Sahabatnya itu mengangguk mengerti.

Dimas berbisik, "napa mereka bisa berubah?"

Devano tersenyum dan mengedikkan bahunya. Tak lama guru jam pelajaran pertama masuk. Guru itu juga terheran melihat Devandra dan teman-temannya.

Bu Tari berdiri di depan meja Devandra. Mungkin lensa kaca matanya buram sehingga ia menurunkan kacamata yang dipakainya agar bisa melihat dengan jelas wajah muridnya itu.

"Kenapa bu?" tanya Devandra yang risih

"Benar ini kamu, Devandra?" tanya guru matematika yang masih terlihat cantik di umurnya yang menginjak kepala lima.

"Iya, Bu Tari," jawabnya ogah-ogahan.

Tangan Bu Tari terulur menyentuh dahi Devandra. "Kamu nggak demam. Kamu kesambet apaan?"

Tawa teman-teman satu kelasnya berderai. Devandra berdecak. "Mending ibu cepet ngajar sebelum saya ngomong sama ay-"

"Oke anak-anak, buka buku paket halaman 45. Kerjakan lima soal latihannya," potong Bu Tari cepat sebelum Devandra benar-benar melaporkannya pada pemilik sekolahan yang sayangnya adalah ayah dari muridnya itu.

Pandangan mata Bu Tari menangkap murid kesayangannya. "Loh, Devano kenapa kemarin nggak masuk sekolah?"

Devano menghentikan aktivitasnya mengerjakan tugas. Cowok itu mendongakkan kepalanya yang sebelumnya menunduk.

Belum sempat Devano menjawab pertanyaan itu, Bu Tari kembali bertanya, "kenapa muka kamu Devano?"

"I-itu bu," Devano tergagap.

"Dipukuli preman bu."

Bu Tari menoleh ke arah seseorang yang menjawab pertanyaannya untuk Devano. Bu Tari mengernyit.

"Kenapa kamu bisa tahu, Devandra?"

"Saya lihat Devano membantu ibu-ibu yang mau dicopet bu. Malah Devano yang dipukuli sama copetnya itu bu."

Bu Tari berkacak pinggang. "Kamu cuma liat doang? Nggak niat bantuin Devano?"

Devandra tersentak. "Ehh, nggak gitu bu. Belum sempet saya bantuin, Devano udah ada yang bantu bu."

"Bisa aja ngelesnya. Ya harusnya setelah itu kamu bantuin dong!"

Devano berdehem. "Udah bu nggak papa. Mending lanjut pelajaran aja."

Bu Tari menghela napas. "Besok lagi, kalo ada siapapun yang butuh bantuan, kalian harus bantu. Jangan meniru Devandra ya anak-anak."

Devano memajukan sedikit tubuhnya. "Yang sabar ya sodara kembar," bisiknya tepat di belakang Devandra.

Devano kembali duduk tenang dan terkekeh pelan mendengar dengusan sebal saudara kembarnya itu.

"Bu," Dimas mengangkat tangannya. Cowok itu melanjutkan ucapannya ketika Bu Tari menoleh ke arahnya.

"Kata ibu siapapun yang butuh bantuan harus dibantu kan, Bu?"

"Iyaa," Bu Tari mengangguk.

"Jadi kalo ulangan saya boleh minta bantuan ibu buat ngajarin saya kan?"

Tawa satu kelas berderai. "Ya nggak pas ulangan juga, Dimas Adi Pranata," geram Bu Tari.



🌼🌼🌼

Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊

11-01-2020

Devano✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang