BAB 46

5.5K 413 14
                                        

"Gue heran, saudara kembar gue itu kenapa bisa baik banget ya?"

"Emang Pano itu orangnya baik," sahut Vania.

"Iya gue tau. Saking baiknya, dia nggak memenjarakan orang yang udah buat dia nggak bisa lihat selama setahun ini. Padahal lo tahu kan Devano itu takut sama gelap."

Vania yang sedang memakan es krim menoleh ke arah Devandra. "Orang itu nggak dipenjara?"

Devandra menggeleng. "Nggak. Padahal Ayah marah banget sama tu orang tapi Devano bilang dia udah maafin tu orang. Jadi, Ayah nurutin Devano. Gara-gara dia, Devano nggak bisa kuliah padahal Devano dapet beasiswa ke luar negri lho."

"Kuliah ke luar negri?"

"Iya," Devandra mengangguk mantap.

"Wihh, hebat!" decak Vania kagum.

"Selama lima tahun ini Devano juga udah ngumpulin buat biaya kuliahnya sendiri karena nggak mau ngerepotin siapa-siapa. Lo tahu sekarang gimana uang itu?"

Vania menggeleng, "kan belum kamu kasih tahu."

"Uang itu buat mereka," tunjuk Devandra pada anak-anak yang duduk tak jauh dari mereka sedang menikmati es krim. Vania mengikuti arah telunjuk Devandra.

"Uang tabungan Devano selama lima tahun, buat biayain sekolah mereka sampe kuliah. Padahal, mereka itu bukan siapa-siapanya Devano. Maksud gue, nggak ada aliran darah yang sama."

Devandra melirik Vania sekilas sebelum melanjutkan ucapannya, "Devano ngasih semua itu dengan syarat. Syaratnya mereka nggak boleh ngamen atau jualan lagi dan harus jadi anak yang pintar dan berbakti pada orang tua, nusa, bangsa, dan agama."

Devandra tersenyum lalu melanjutkan ucapannya, "sekarang mereka tinggal di rumah singgah yang dibangun Ayah atas permintaan Devano."

Vania menoleh ke arah lain dan dengan cepat menyeka air yang keluar dari sudut matanya. Cewek itu kembali menatap ke depan dan tersenyum.

"I'm so proud of you," gumam Vania pelan.

"Vania," panggil Devandra membuat Vania menoleh ke arahnya. Ia menatap kedua bola mata Vania. "Gue boleh minta bantuan lo?"

"Bantuan apa?"

"Ngembaliin senyum Devano kayak dulu lagi."

---

Pandangan mata Vania ke arah seorang cowok yang sedang berjalan ke arahnya. Topi yang tadi cowok itu pakai sekarang ada di kepalanya. Bagaimana topi Devandra bisa ada di atas kepala Vania?

Begini ceritanya...

Devandra menoleh ke arah Vania. Keringat menetes di dahi cewek itu. Devandra ingin memberikan topinya pada Vania tapi ia tidak tahu harus bilang seperti apa.

Ia tidak tahu caranya berbasa-basi kepada seorang cewek karena ia tidak pernah dekat dengan seorang cewek sebelumnya. Dulu memang Devandra pernah dekat dengan seorang cewek.  Tapi itu dulu, tiga tahun yang lalu.

Jadi, bagaimana caranya Devandra memberikan topinya pada Vania?

Oke, Devandra mulai berpikir.

Van, pake topi gue deh, ucap Devandra dalam hati.

Ahh, tidak, tidak!

Van, kayaknya panas. Lo mau pake topi gue?

Jangan. Terlalu aneh.

Van, lo liat ke bawah deh.

Terus kalau Vania lihat ke bawah, baru Devandra memakaikan topinya ke atas kepala cewek itu. Habis itu Devandra lari.

Apaan dah!

Ahh iya, Devandra tahu. Ia akan memberikan topi itu kepada Vania dengan caranya sendiri.

"Van, gue sholat ashar dulu. Titip topi gue ya?" Devandra melepaskan topinya dan memakaikannya ke kepala Vania.

Ya, begitu cara Devandra.

Oke, kembali ke topik.

Devandra duduk di samping Vania. Rambut cowok itu masih terlihat basah karena air wudhu yang mengenai rambutnya.

Vania memang menganggap wajah seorang cowok yang terkena air wudhu dan rambutnya yang basah karena air wudhu terlihat jauh lebih ganteng.

Apa Vania juga harus mengakui kalau Devandra jauh lebih ganteng sekarang?

"Pandra," panggil Vania pelan.

"Ya?"

"Pandra kelihatan lebih ganteng deh kalo habis sholat."

Meskipun Vania mengucapkannya pelan. Sangat-sangat pelan. Tapi, indra pendengaran Devandra sangat peka terhadap suara sekecil apapun kalau seseorang sedang memujinya.

Dan sekarang, Devandra benar-benar butuh pertolongan siapapun untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

---

"Vania."

Vania yang akan masuk ke dalam mobil Dimas membalikkan badan dan menutup pintu mobil yang ia buka tadi. Cewek itu berdiri di depan Devandra.

"Kenapa?"

"Besok ikut gue buat mulai rencana yang udah kita buat ya," ucap Devandra. Rencana mengembalikan senyum Devano seperti sebelumnya.

Vania tersenyum dan mengangguk mantap. "Oke."

"Gue jemput di rumah lo, ya?"

"Emang kamu tahu rumah aku?"

"Gue minta nomer lo. Terus lo kasih tau deh alamat lo lewat WhatsApp."

Modus!

"Aku kasih tahu aja alamatnya. Di jalan-"

"Kasih nomer lo aja napa sih?" gerutu Devandra. "Biar gue bisa ngehubungin lo dengan mudah."

"Ya udah. Inget-inget nomer aku ya. Jangan ditulis!"

"Lah, nanti kalau gue lupa gimana?"

"Ya berarti modus kamu gagal."

Ehh?







🌼🌼🌼

Yang mau aku besok hari Minggu update, komen ya😅
Soalnya aku besok rencana nggak update, hehe

Untuk bab selanjutnya, aku tulis dulu. Nanti malem, insyaallah aku updatenya

Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊

Devano✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang