Devano sekali ini aja nangis boleh ya, Bun?
Sedetik kemudian, cowok itu menggeleng kuat. Cowok itu mengusap kasar air mata yang membasahi wajahnya.
"Nggak! Lo nggak boleh nangis. Bunda pasti sedih liat lo nangis."
Devano mendongak menatap langit. Ia menghapus rasa benci pada ayahnya yang sekilas ada di dalam hatinya. Devano tak mau membenci ayahnya sendiri.
"Lo lebih ganteng kalo lo senyum, Devano A Putra."
Devano menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan lewat mulut. Hatinya sudah lebih lega. Cowok itu melengkungkan bibirnya ke atas.
"Lo nggak boleh nangis. Bisa-bisa penggemar lo pada menjauh liat muka jelek lo pas nangis," Devano tersenyum tambah lebar.
"Senyum terus. Lo bisa."
---
Devano berjalan santai melewati koridor menuju ruang kelasnya. Tak sedikit orang-orang bertanya mengapa wajahnya penuh luka. Devano tentu tak memberi tahu yang sebenarnya.
Devano menghentikan langkahnya melihat beberapa orang yang sekarang menjadi pusat perhatian. Cowok itu tersenyum.
Terdengar orang-orang yang membicarakan mereka.
"Kok mereka masuk sekolah?"
"Bajunya juga rapi. Tumben."
"Rambutnya juga nggak diwarnain."
"Devandra kelihatan ganteng banget ya."
"Ehh iya. Ganteng ihh. Sebelas dua belas sama Devano."
Yaa, yang menjadi pusat perhatian adalah sebelas orang cowok yang terkenal sebagai gerombolan tukang rusuh SMA Alfian. Devandra dan teman-temannya.
Mereka yang jarang masuk sekolah dan sekali berangkat ke sekolah pasti berbuat onar. Tapi sekarang, mereka terlihat seperti murid yang tertib.
Baju yang biasanya dikeluarkan, dimasukkan ke dalam celana. Rambut yang acak-acakan dan kadang diberi warna sekarang rapi dan berwarna hitam alami.
Semua itu karena ada seseorang yang sudah merubah mereka. Siapa lagi kalau bukan Devano.
Mereka berubah bukan karena janji mereka pada Devano. Tetapi karena memang dari dalam diri mereka sendiri.
Terdengar pekikan dari beberapa siswi yang melihatnya tersenyum. Padahal Devandra tidak tersenyum kepada mereka, tapi kepada Devano yang ada di belakang mereka.
"Astaga, Devandra senyum!"
"Devandra senyum ke gue!"
"Nggak. Dia senyumnya ke gue!"
"Ya ampun, manis banget!"
"Diabetes ni gue liat senyumnya!"
Devandra dan teman-temannya berjalan masuk ke dalam kelas. Pandangan mata orang-orang yang ada di dalam kelas tertuju pada mereka.
Brak
Budi menggebrak salah satu meja barisan paling depan . "Lo," telunjuk Budi mengarah ke orang yang duduk di meja itu.
"Pindah! Devandra mau duduk sini."
"Nggak! Kita yang dateng duluan. Jadi, kita yang duduk sini!" tolak cewek yang duduk di meja itu.
Devandra menepuk bahu Budi. Menggeser tubuh Budi ke samping. Devandra tersenyum ke arah dua cewek itu.
"Pindah ya, gue mau duduk di sini," ucapnya lembut.
Kedua cewek itu mematung. Mungkin terpesona melihat Devandra yang tersenyum.
"I-iya," balas kedua cewek itu. Mereka langsung pindah ke tempat duduk yang masih kosong.
Devandra melempar tasnya ke atas meja lalu duduk di kursi diikuti teman-temannya yang lain. Barisan paling depan dipenuhi oleh gerombolan tukang rusuh.
Ralat. Mantan gerombolan tukang rusuh.
Tak lama, Devano masuk ke kelas yang sama. Yaa, Devano dan Devandra satu kelas. Devano duduk di meja yang biasa ia tempati.
Di belakang meja yang Devandra tempati sekarang.
🌼🌼🌼
Ohh ya, maaf kalo part sebelumnya feelnya nggak kena😣
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Devano✔
JugendliteraturCOMPLETED Alfian Series 1 Devano Alfian Putra, cowok pintar berwajah tampan. Ia selalu tersenyum hangat sehangat mentari meskipun hatinya sedang berselimut awan mendung. Sampai sebuah kejadian benar-benar membuat senyum di wajahnya menghilang seirin...
