BAB 21

6.8K 558 22
                                        

Alfian berjalan cepat ke arah Devano. Kedua tangan yang sebelumnya mengepal langsung mencengkram kuat krah seragam yang dipakai anak laki-lakinya itu.

"Kenapa kamu bolos, hah?!" desisnya.

Bagaimana Alfian bisa mengetahui kalau Devano bolos sekolah?

Karena Alfian tadi pagi mendapat panggilan dari wali kelas Devano yang menanyakan alasan cowok itu sampai tidak berangkat dan tidak ada keterangan.

Meeting dengan rekan kerjanya hari ini harus batal karena pria paruh baya itu menjadi tidak fokus.

Bukan, bukan karena mengkhawatirkan keadaan anak laki-lakinya tetapi karena marah akan suatu hal.

"Kalau memang kamu nggak niat sekolah, bilang sama saya!" desisnya tepat di depan wajah Devano. "Jangan buang-buang uang saya untuk menyekolahkan kamu!"

Yaa, itu alasannya.

Suara langkah kaki yang berjalan ke arah rooftop membuat Alfian melepaskan cengkramannya. Devano membalikkan badan ketika seseorang itu muncul dibalik pintu rooftop.

Alfian menoleh dan tersenyum ke arah Devandra. "Udah makan?"

Devandra mengangguk, "udah."

Tangan kanan cowok itu mencengkram kuat tangan kirinya di belakang punggung agar tidak menggaruk bahu kanannya.

Kebiasaannya ketika sedang berbohong.

Yaa, Devandra berbohong. Cowok itu belum sempat makan di restoran tadi karena ia langsung berlari kembali ke rooftop. Perasaannya menjadi tidak enak.

Dan benar saja. Setelah sampai ia langsung bersembunyi di balik pintu ketika mendengar desisan Alfian yang marah kepada saudara kembarnya.

Cowok itu mengangkat kakinya bergantian. Berpura-pura melangkah ketika Alfian akan melayangkan pukulan kepada saudara kembarnya itu.

Devandra merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia tidak memikirkan ayahnya akan marah ketika mengetahui Devano bolos?

"Yah, tadi Devandra bolos," ucapnya tanpa ragu.

Biarkan ia terkena pukulan di wajahnya dari Alfian. Yang penting ayahnya tidak marah lagi pada saudara kembarnya.

Jawaban dari Alfian membuat Devandra melebarkan matanya karena terkejut.

"Nggak papa."

"Devandra tadi yang ngajak Devano bolos, Yah," ucapnya lagi tanpa ragu.

Alfian melirik sekilas ke arah Devano yang memunggunginya. "Ya udah, nggak papa. Lain kali jangan diulangi."

Alfian menepuk pundak anak laki-lakinya sebelum melangkah pergi. "Ayah pulang dulu."

Jangan berpikir Alfian menepuk pundak Devano karena itu tidak pernah lagi dilakukannya setelah kecelakaan yang terjadi lima tahun yang lalu.

Devandra mengangguk. Cowok itu berjalan mendekat ke arah Devano setelah ayahnya pergi. Devandra berdiri di belakang Devano.

Devano tidak membalikkan badan ketika Devandra memanggilnya. Cowok itu memilih untuk tetap memunggungi saudara kembarnya.

"Kok lo malah bilang sama ayah kalo kita bolos sih, Ndra?" protesnya. "Ayah padahal nggak tahu kalo kita bolos. Untung ayah nggak marah sama kita."

Kenapa lo nggak cerita sama gue, Van?

Devandra menghela napas. Mungkin saudaranya itu butuh waktu sendirian. "Gue tunggu lo di bawah."

"Pulang duluan aja, gue masih mau di sini."

"Oke," sahut Devandra sebelum benar-benar melangkah pergi meninggalkan Devano sendirian.

---

Devano tertawa hambar setelah lebih dari dua puluh menit Devandra meninggalkannya sendirian di rooftop.

"Percuma Ndra lo ngomong kayak tadi sama Ayah. Ayah nggak mungkin bisa marah sama lo meskipun lo berbuat salah," gumamnya.

Cengkraman tangan Devano pada pagar kaca rooftop mengerat ketika mengingat tatapan penuh kebencian di mata Ayahnya sendiri. Dadanya sesak. Setetes air mata turun mengalir melewati rahang tegasnya.

"Arghhh!" teriaknya kencang berusaha meredakan sesak dalam dadanya.

Devano mendongak menatap langit. Cowok itu berteriak lagi, "kenapa ayah benci banget sama Devano, Yah?!"

Devano terisak. "Devano bukan penyebab Bunda koma. Kenapa ayah salahin Devano?"

Devano menunduk dalam. Bahu cowok itu bergetar hebat. Ia berulang kali menyeka air yang berani keluar dari kedua mata elangnya menggunakan punggung tangan.

Devano nggak bisa nahan air matanya keluar lagi. Mereka berani banget buat keluar. Devano sekali ini aja nangis boleh ya, Bun?



🌼🌼🌼

Ada yang mengeluarkan sedikit air mata pas baca part ini?

Maaf kalo feelnya nggak dapet😣

Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊

10-01-2020

Devano✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang