13 | Badmood and Get Out

636 138 29
                                        

"Kemarin itu siapa?" Tiba-tiba Zaven bertanya pada sang adik saat sedang dalam perjalanan menuju St. Frances.

Zella lantas menoleh ke arah Zaven, "Apa?" sahutnya dengan sebuah pertanyaan.

"Kemarin. Cowok yang berdiri di lobi sama kamu. Siapa?" Zaven melayangkan pandangannya kepada sang adik.

Kening Zella mengerut. Kemarin? Di lobi? Siapa? Ia mencoba mengingat dengan siapa kemarin ia terakhir kali. Seketika, wajah Evan terlintas di benaknya.

"Oooh itu. Namanya Evan," jawab Zella.

"Evan?" Alis Zaven naik sebelah. "Siapa, tuh?"

"Temen Zella," Gadis itu menyahut.

"Temen? Temen apa demen?"

"Hah?" Zella nampak tak paham. "Demen apanya. Evan kan temen Zella."

"Soon to be pacar tapi," ucap Zaven sambil menahan tawa.

Zella yang mendengar itu lantas menabok pelan lengan Zaven. "Nggak usah mulai, deh. Nanti Zella nggak mood sekolah, lho."

"Don't care," balas Zaven.

"Ish!" Zella menabok lagi lengan sang kakak.

Zaven terkekeh. "Kemarin Kakak mau nanya kamu. Tapi lupa. Baru inget sekarang."

"Nanya apalagi?"

"Ya itu tadi. Soal cowok yang bareng kamu di lobi."

Zella cuma menggumam 'o'. Lalu, suara Zaven terdengar lagi. "Kamu suka sama Evan?"

"Hah?" Mata Zella membulat.

"Malah hah," cibir Zaven.

Zella menggaruk pelipis. Bingung dengan pertanyaan Zaven yang sama sekali kedengaran tidak masuk akal baginya.

"Jawab dong," ujar Zaven.

"Kak, pertanyaan kamu sama sekali nggak make sense. Kenapa kamu nanya-nanya soal Evan?" heran Zella.

"And why do you take so long to answer my question?" Zaven balas bertanya.

"Karena nggak penting," sahut Zella.

"Kata siapa? Ya jelas pentinglah, Zel. Aku berhak tau siapa yang lagi deket sama kamu." protes Zaven.

Zella mendengus kesal. "Ya terus kalo udah tau mau ngapain?"

"Mau bilang ke cowoknya-lah. Jangan nyakitin kamu supaya dia tetep idup."

Zella menatap Zaven ganas, "Ish."

"Jawab dulu pertanyaan Kakak. Kamu suka nggak sama Evan?" Zaven mencecar. Kayanya Zaven kepo banget, ya.

Zella diam. Hmm, Zella juga nggak tahu. Suka kayanya enggak, deh. Atau belum? Entah. Lagipula mereka baru kenal kurang dari seminggu. Dalam rentan waktu sesingkat itu, tidak mudah menyimpulkan sebuah rasa.

Zella mengedikkan bahu, "Tauk."

"Kok nggak tau?" Zaven menoleh ke arah Zella.

"Ya emang nggak tau." kata Zella apa adanya.

"Tapi? Dianya suka sama kamu?"

"Ya mana Zella tau? Udahlah. Stop asking me about him. Kepo." Zella lama-lama sebal sama Zaven. Terlalu banyak tanya.

"Kayanya, sih, suka." simpul Zaven. Cowok itu masih bicara saja tentang Evan meski Zella sudah memperingatkan agar jangan tanya apapun soal Evan kepadanya.

"Kamu jangan macem-macem. Masih kecil." kata Zaven tiba-tiba.

Zella tidak menghiraukan. Ia lebih memilih memperhatikan jalanan di pagi hari lewat jendela di sampingnya.

SATURNTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang