30 | You're Going Out Without Me

401 51 10
                                        

Archie kaget ketika setumpuk kertas tebal berwarna biru tua dilemparkan Nual begitu saja ke atas mejanya. Tidak hanya Archie, tetapi juga Evan dan Eze yang juga menangkap air muka Nual yang nampak kusut dan tak bersemangat.

Pandangan Archie mengikuti pergerakan Nual yang kemudian duduk di sebelahnya. Tak mendapat penjelasan apapun, Archie akhirnya meraih lembaran kertas di tumpukan paling atas dan membaca tulisan yang tertera di sana.

Tak lama dari itu, Archie berseru heboh dan mengagetkan seantero kelas 11 Science Dua.

"Big Party!?" Archie menghadapkan badannya pada Nual dan menatap cowok itu dengan sorot mata heran tak percaya.

"Lan, lo serius ngadain pesta untuk hari ulang tahun lo?" Archie terkejut.

Pesta?

Tak satu pun dari anak-anak kelas 11 Science 2 ngeh dengan apa yang dimaksud oleh Archie. Termasuk Evan dan Eze. Mereka semua malah saling menatap satu sama lain karena bingung dengan apa yang sedang terjadi di kelas mereka.

Nual tak memberi respon terhadap Archie. Jujur Nual udah males banget mengurusi pestanya yang dibuatkan Reuben itu.

Well, tapi beruntungnya Archie cukup cerdas untuk mengetahui apa yang harus dia lakukan. Alhasil, tanpa menunggu aba-aba, Archie bangkit dari tempat duduk dan menyambar seluruh kertas undangan itu. Ia membagikan undangan tersebut kepada teman-temannya dengan gembira.

Sekarang, semua anak kelas 11 Science Dua telah menerima undangan itu dan mereka kini sama hebohnya dengan Archie ketika pertama kali membaca tulisan yang tertera di kertas itu.

"Wah! Ini serius?" Kenzo, si ketua kelas, berjalan menghampiri Nual dan menyenggol pelan bahu cowok itu.

Yaelah, Kenzo pake nanya segala. Asal kalian tahu, semalaman Nual sibuk memikirkan apakah ia perlu mengundang teman-temannya sekelas atau tidak. Dan ya, pilihan Nual terjatuh pada opsi pertama. Ia menuruti kemauan Reuben.

"Pesta, Lan?" celetuk Eze kemudian. Nual menoleh dan mengangguk singkat.

"Lo kaya cewek aja, Lan. Lo seriusan dirayain?" Eze menatap Nual sangsi.

"Boongan," sahut Nual, "Ya beneran lah. Opa yang rencanain semuanya."

"Opa Reuben maksud lo?" Kini Evan yang bersuara.

"Ya." jawab Nual, "Gue sebenernya nggak mau. Tapi gue bisa apa selain turutin semua kemauan Opa."

"Hwus, mutu banget tau!" sambar Archie tiba-tiba. "Pesta gini, tuh, mutu tau, Lan. Bila perlu tiap hari malah."

"Seneng di lo susah di Nual namanya," cibir Eze.

Archie menyengir, "Tumben banget Opa Reuben mau bikinin pesta buat lo."

Nual mengedikkan bahu, "Gue udah tolak tapi dia tetep maksa."

"Tolak? Yang bener aja lo." heran Archie, "Kalo gue jadi lo, udah gue iyain tuh kata Opa Reuben. Zaman gini hidup kaya lo susah dicari tau."

Ya itu kan Archie. Nual bukan Archie.

"By the way, gue ngajak Luna, boleh?" Eze bertanya dengan hati-hati.

"Ajak aja," sahut Nual.

"Kalo Zella?" susul Evan, dan Nual secepat itu menoleh ke arah Evan dengan tatapan bertanya. Evan berdeham pelan lalu berucap, "Gue dan Zella udah jadian, Lan."

Apa? Oke, Nual terkejut. Tapi, ia masih bisa mengontrol ekspresinya agar tetap datar.

"Gue mau ngasih tau lo kemarin tapi lo udah keburu pulang." imbuh Evan. "Sorry. Kalo lo memang nggak berkenan Zella dateng ke acara lo gue nggak—"

SATURNTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang