Jangan jadi sider, ya, please😅✌🙏
—
Katanya kalo suka katakan, jangan dipendem. Jadi, kalo suka sama cerita ini, tunjukkan kehadiran kalian lewat vote dan comment<3
—
Happy Reading!
***
Menempuh perjalanan kurang dari lima menit, mobil Evan akhirnya berhasil tiba di depan rumah Zella. Evan sempat tertegun beberapa saat. Bukan karena rumah Zella yang mewah itu, melainkan karena Evan pernah beberapa kali melewati jalanan ini tanpa tahu bahwa rumah yang di samping mobilnya saat ini adalah rumahnya Zella.
"Jadi, ini rumah lo?" tanya Evan tak percaya. "Gue nggak pernah nyangka kalau kita berdua ternyata sedeket ini."
"Memangnya rumah kamu di mana?" tanya Zella.
"Ya bukan di komplek ini, sih. Komplek seberang. Tapi gue punya temen daerah sini. Gue juga beberapa kali pernah lewat jalan ini dan lihat rumah lo." jawab Evan.
"Kebetulan banget, ya," celetuk Zella.
Ya mungkin. Bisa jadi. Tapi, bagi Evan, ini adalah salah satu tanda kalau Tuhan merestui kedekatannya dengan Zella. Setidaknya, kebetulan tidak akan semenyenangkan ini bukan?
"Ya udah. Yuk, turun." ajak Evan.
Keduanya pun turun dari mobil dan pergi ke bagasi mobil. Tangan Evan terulur untuk membuka bagasi mobilnya. Setelah berhasil dibuka, Evan dibantu oleh Zella menurunkan sepeda Piper dari dalam sana.
"Makasih banyak, ya, Evan." ucap Zella setelah ia bisa memegang lagi stang sepeda Piper.
"Sama-sama. Gue seneng bisa bantu lo." sahut Evan sembari mengulum senyum senang.
"Kapan-kapan kalo Evan ke sini lagi, Evan bisa mampir. Kalo sekarang nggak bisa soalnya Evan harus balik ke minimarket."
Iya, Evan juga sedikit menyesali hal itu. Mungkin Evan akan lebih senang jika ia bisa mampir sebentar ke rumah Zella. Masa bodoh dengan ada atau tidaknya Zaven. Tapi masalahnya, ia sudah janji dengan Maia untuk kembali secepat mungkin.
"Iya, kapan-kapan gue main, ya. Sekarang lo masuk, gih. Gue juga mau cepet-cepet nyamperin mama." kata Evan.
Zella mengangguk patuh dan melambaikan tangan, "Bye, Evan."
"Bye juga, Zella." sahut Evan.
Lalu, keduanya saling memunggungi. Zella menuntun sepeda Piper ke arah gerbang rumahnya yang masih tertutup rapat. Sedangkan Evan masuk ke dalam mobil dan segera melenggang pergi dari rumah Zella.
Ketika Zella tiba di depan gerbang, Zella niatnya ingin menyerukan nama Rose agar anak itu membuka gerbangnya. Akan tetapi, belum sempat Zella melakukan itu, gerbang sudah dibuka dan yang membukanya adalah Piper.
Oke, setelah ini pasti Zella akan mendengar Piper ngomel. Dan benar saja, karena begitu gerbang dibuka, suara cempreng Piper langsung menyeruak ke dalam telinga Zella.
•••✨•••
Adlyn buru-buru menekan tombol buka pintu lift ketika lift di apartemennya telah membawanya ke lantai 5 di mana miliknya berada. Tadi sewaktu di lobi, Adlyn tidak menemukan Giana—mamanya. Jadi kemungkinan besar, Giana menunggu di depan apartemennya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SATURN
Teen FictionSaturna Zervella tidak pernah menikmati dunia luar. Sehari-hari, jadwalnya hanya homeschooling dan main bersama anjing peliharaannya. Di usianya yang ke-16, ia memberanikan diri meminta kepada orang tuanya untuk menjalani kehidupan layaknya remaja d...
