Semarak jingga keemasan, mulai meronai langit tatkala Cin Lee menginjakkan kakinya di perkampungan Bun An.
Kepala desa Bun An, terbungkuk-bungkuk dengan muka pucat ketakutan saat Cin Lee dan Jenderal Tan Hwi mengkonfirmasi kebenaran cerita dari istri tukang kedai A Lim di kampung sebelah.
“Lim dan istrinya itu memang lancang mulut. Mereka tak pernah tahan untuk tidak bercerita. Akibatnya, ada saja pendekar muda yang penasaran dan nekat menuju tempat tersebut. Lalu mereka semua berakhir mengenaskan.”
“Mati?” desis Cin Lee tak habis pikir.
Si kepala desa mengangguk sedih.
“Tak ada yang tahu kapan mereka tewas, apa penyebabnya dan siapa pembunuhnya. Yang jelas, semenjak kepergian mereka menuju sungai itu, berhari-hari kemudian, mereka ditemukan sudah menjadi mayat di tengah hutan atau di sawah. Kejadian demi kejadian tragis itu, membuat kami tak berani mendekati daerah tersebut.”
Cin Lee agak bergidik mendengarnya.
“Kami selalu waswas,” lanjut kepala desa Bun An. “Meskipun penunggu sungai itu tak pernah mengganggu penduduk desa kami, tapi beberapa kasus penculikan gadis-gadis muda di beberapa daerah, kerap mengusik ketenangan kami.”
“Apakah sudah ada upaya menyelidikinya, Paman?”
“Seingatku, setiap upaya untuk menyelidiki tempat tersebut, berakhir dengan kegagalan yang sudah kuceritakan. Akhirnya kami semua bersepakat untuk tidak mendekati tempat tersebut selamanya. Dan melarang siapapun untuk pergi ke sana.”
“Tapi, paman-paman petani dari desa sebelah, ternyata hari ini bisa kembali dengan selamat.”
“Itulah yang mengherankan hatiku. Mungkin penunggu sungai itu sedang lengah.”
Cin Lee mengerutkan keningnya tanda berpikir keras. Keadaan ini kian memancing rasa penasarannya.
“Lalu, bagaimana dengan kisah tiap malam bulan purnama itu, Paman? Berikut korban-korban gadis muda yang mati kehabisan darah?” kejar Cin Lee lagi.
Kepala desa Bun An semakin muram. Tatapannya menerawang penuh kesedihan.
“Korban-korban itu adalah gadis-gadis yang tak kami ketahui identitasnya. Rata-rata berpakaian bangsawan. Entah bangsawan dari distrik mana. Karena tak mengetahui asal mereka, akhirnya kami menguburkan mereka.”
Tan Hwi mengerutkan kening. Ia pernah mendengar laporan beberapa pejabat yang kehilangan putri mereka. Divisi kriminal pasukan kerajaan telah turun tangan menyelidiki. Tetapi mereka selalu kehilangan jejak. Dalam hatinya tumbuh kekhawatiran. Jangan-jangan, penculik Putri Ming Ji Li adalah tokoh yang sama, seperti yang diceritakan Ciok Kam. Ini sangat mengerikan.
“Korban-korban itu tewas kehabisan darah.” Ciok Kam bergidik.“Mengenai bayangan putih di malam bulan purnama, itu juga benar. Beberapa warga melihatnya. Kadang terdengar suara tangisan. Tapi tak terlihat siapa yang menangis dan bagaimana rupa bayangan tersebut.
Tidak tahu apakah ada hubungannya antara hantu penunggu sungai di selatan itu, dengan si bayangan putih dan pelaku pembunuhan terhadap gadis-gadis asing tersebut.”“Kejam sekali!” kecam Cin Lee sambil mengepal tinjunya dengan sepasang mata berkilat-kilat.
Tan Hwi yang duduk di sampingnya, nampak termangu-mangu. Sedari tadi tak berkomentar. Berpikir. Sunyi serupa patung bisu.
“Taihiap, jangan terbetik niat untuk mendatangi tempat itu. Tak terhitung sudah pendekar sakti baik hati yang mencoba menyelidiki kasus ini. Tapi mereka berakhir menyedihkan,” ungkap Ciok Kam khawatir.
Namun fakta-fakta menggiriskan tersebut justru menambah kuat tekad Cin Lee untuk menyelidiki perkara misterius tersebut. Bagaimanapun, pembunuhan terhadap orang-orang tak bersalah, adalah kejahatan tak terperi. Ia harus segera menangkap pelakunya untuk diadili.

KAMU SEDANG MEMBACA
SENYUM MUSIM SEMI
Fiction HistoriqueSebuah jebakan licik, mempertemukan Gak Cin Lee, seorang pendekar sedingin salju, dengan Ming Ji Li, putri Kaisar Ming Thai Zhu yang manja dan arogan. Tekanan fitnah politik memaksanya menerima ikatan pernikahan dengan sang putri. Padahal ia memilik...