Suasana ruang tamu di sini tampak muram,penuh dengan air mata.
"Sudah,sudah.....jangan nangis bunda,Fahri kan nggak akan ninggalin bunda selamanya,cuma beberapa tahun aja kan,lagi pula Fahri kan bisa pulang setahun sekali" Fahri berusaha menghibur Bundanya.
"Tapi,kamu tidak harus pergi,kamu kan bisa nolak" Bunda Fahri masih terisak.
Fahri memeluknya.
"Bun......,Fahri.......akan baik baik saja kok,lagi pula,Fahri tidak akan selamanya di sana,Fahri pasti akan kembali" Ia melepaskan pelukan dan tersenyum pada Ibunya.Akhir akhir ini ia banyak tersenyum,ia selalu bersikap cool di setiap keadaan,tapi kali ini terlihat sangat hangat.
"Kalau bunda rindu Fahri,bunda bisa mengunjungi Fahri di sana kan......,jadi jangan khawatir"
"Kamu jangan sampai lupa makan,istirahat yang cukup,jangan sampai sakit" Bunda mengusap kepala Fahri.
"Kalau begitu,Fahri berangkat dulu" Fahri mencium tangan Bunda.
"Rama,kamu tidak apa kan antar Fahri ke Bandara?" Tanya Bunda.
"I....iya bun,Fahri tidak apa apa,sambil nganterin undangan" Jawabku.
"Eh,bun Fahri udah ada yang nganterin,tadi Dino katanya mau ke sini" Jawab Fahri.
"Eh bun,tu Dino udah dateng" kata Fahri. Dino langsung menghampiri kami dan mencium tangan bunda dan tanganku.
"Assalamu'alaikum bi,pa kabar" kata Dino.
"Kamu baru kesini lagi....,mana ayahmu,bibi jewer telinganya kalau datang,mentang mentang sibuk jadi lupa sama kakaknya hem" Bunda menjewer telinga Dino.Aku baru tau kalau ternyata Dino dan Fahri masih saudara.
"A....a...iya bi,ampun bi,Ayah lusa kesini katanya" Kata Dino,tapi bunda masih jewer telinganya.
"Ayahmu itu suka ingkar janji,pokonya setelah mengantar Fahri,kamu bawa ayahmu kemari" Kata bunda.
"Ya ampun....mana mau ayah kemari kalau bibi masih galak kayak gini"gumam Dino,tapi masih terdengar oleh telinga.
Bunda menambah tekanan jewerannya.
"A..a....iya bi iya,nanti Dino sampaikan,ya ampun.....nanti kuping Dino copot kalau bibi jewer terus....." kata Dino,bunda melepas jewerannya.
"Kalau begitu,antar Dino ke bandara dengan selamat!" Kata bunda dengan logat militer
"Siap jenderal" Dino memberi hormat pada bunda seakan akan bunda pimpinannya. Seketika aku tersenyum,aku kira keluarga Aisyah adalah keluarga kaku,karena keluarga seorang ulama besar.Hari ini ayah Fahri harus mengisi kajian di luar kota,jadi tidak bisa mengantar Fahri. Fahri juga sudah meminta maaf karena tidak bisa menghadiri pernikahan kakaknya.Tapi...,bukannya memaksa Fahri untuk tinggal,Aisyah bilang lebih baik kalau Fahri pergi,aku tidak tau,tapi tidak mungkin Aisyah sejahat itu hingga ingin adiknya jauh darinya,seingatku.......,saat mengajar dulu,Aisyah paling sering membanggakan adiknya yang sudah jadi hafidz Qur'an padahal usia nya masih belia.
"Kalau gitu kami pergi dulu ya bun,Assalamu'alaikum...." Kata Fahri dan Dino. Mereka keluar bersamaan seperti seorang saudara kembar.
Aku masih terdiam di tempat duduk ku.
"Oh,Fahri......kamu sepertinya bingung,Dino itu...sepupu Bunda,Ayahnya Dino adalah adik bunda,Dino sudah bunda anggap anak sendiri,Ibu dan ayahnya orang yang sibuk,jadi Dino selalu di titipkan pada Bunda dari kecil.Bunda senang sekali karena Fahri punya teman sepantarannya.Setiap melihat mereka,bunda jadi merasa punya anak kembar. Tapi waktu kecil dulu,Fahri suka nakal gitu,eh.....waktu bunda marahin,malah dibela sama Dino,bunda jadi merasa kalau mereka saudara kandung.Bunda senang sekali.
"Rama,aku sudah siap" tiba tiba Aisyah datang dari dalam kamar.Ya......,hari ini kami akan mengantar undangan.
"Lho.....kalian pergi berdua?" Bunda menatap curiga.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA SUBUH
RomanceAda sebuah kenangan yang mungkin kau lupakan,entah karena waktu,atau memang keputusan mu untuk melupakannya. Namun......jika kau berjodoh dengan kenangan itu,maka takdir akan membawanya kembali......,dengan cara yang kau sukai atau yang kau benci,ke...
