Susan membuka pintu kamar putrinya yang ternyata tidak di kunci, itu artinya Vio sudah bangun dari tidurnya. Ia hanya sedikit membuka pintu, mengintip Vio yang sedang melaksanakan sholat subuh.
Susan mencengkeram knop pintu kuat, tatkala ia mengingat anjuran dokter kemarin setelah Vio kemoterapi. Putrinya belum mengetahui, tapi ia tidak sanggup untuk menceritakan semuanya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya berada di posisi Vio. Air mata mengalir begitu saja, bagaimanapun ini untuk kesembuhan Vio. Ia harus bisa menceritakannya, semoga saja Vio mau mengikuti anjuran dari dokter.
"Mamah," panggil Vio, sedikit terkejut.
Buru-buru Susan menghapus air matanya, kemudian masuk mendekati Vio yang masih memakai mukenah. Ia duduk di samping Vio, merengkuh putrinya.
"Mamah kenapa?" Tanya Vio.
"Ada yang harus mamah sampaikan ke kamu,"
"Apa mah?"
Susan memejamkan matanya sejenak, dengan berat hati ia menyampaikannya pada Vio.
"Kemarin dokter menganjurkan untuk kamu menjalankan pengobatan di luar negeri, di sana tenaga medis nya lebih bagus dan canggih. Mamah dan papah berharap supaya kamu mau."
Cukup lama Vio diam, menatap manik mata sang mamah. Terlihat jelas, Susan yang berharap besar padanya.
"Di mana mah?"
"Singapore,"
Vio menatap langit-langit kamarnya, menahan agar cairan bening itu tidak keluar. Ia kembali menatap Susan, tersenyum tulus.
"Vio mau, tapi tunggu Vio lulus sekolah dulu. Sebentar lagi kok, hari ini juga udah ujian."
Tidak mungkin Vio mengecewakan orang tuanya, bagaimanapun ini untuk kesembuhannya.
Susan berhambur memeluk putrinya, menangis sambil mengusap punggung Vio yang masih tertutup mukenah.
"Mamah sayang kamu," ucapnya lirih.
"Vio lebih sayang mamah," balas Vio.
Vio melepaskan pelukannya, menghapus air mata sang mamah. Ia merapikan mukenah di wajahnya.
"Kayanya Vio lebih cantik kalo rambut Vio tertutup, iya ga mah?" Vio menanyakan pendapat Susan.
"Iya, kamu lebih cantik kalo pake hijab."
Vio tersenyum penuh arti, "pulang sekolah Vio izin mau pergi sebentar boleh?"
"Kemana?"
"Mau beli gamis sama hijab di mall," ujar Vio tersenyum.
Susan sedikit terkejut, namun detik itu juga ia tersenyum bangga pada Vio.
"Boleh, tapi harus ada yang antar ya?"
"Iya, nanti Vio minta anterin sama temen,"
"Tapi kayaknya, Vio mau pakai setelah lulus aja," ucap Vio.
"Yang penting niat kamu itu benar dari diri kamu sendiri, bukan karena orang lain."
Vio mengangguk mengerti, "yaudah mah, ayo kita siapin sarapan pagi," kata Vio semangat.
Vio melepas mukenah yang ia pakai, ia mengambil sajadah kemudian melipat kedua barang itu.
Mereka berdua keluar dari kamar, menyiapkan sarapan pagi.
•••••
Hari ini adalah hari Senin, dimana siswa-siswi kelas 12 melaksanakan ujian pertamanya. Di mana mereka harus berfikir lebih keras untuk menjawab soal-soal, sekarang sudah tidak ada lagi waktu untuk mereka bermain-main.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rindu [Completed]
Teen FictionKamu yang selalu aku nantikan kehadirannya hingga penantian itu menjadi sebuah pertemuan yang indah. Kamu yang selalu membuat ku bahagia namun kamu juga yang membuat ku terluka. Akankah kamu menjadi teman bahagia ku selamanya? Atau kamu hanya di tak...
![Rindu [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/207465787-64-k887044.jpg)