Supir itu terkejut hingga membanting setir ke kanan sampai akhirnya berhenti ketika menabrak dinding sebuah bangunan.
Lala yang berdiri di bagian belakang mobil itu terpental tidak terlalu jauh dari posisi si mobil. Darah mengucur dari dahi nya, pandangannya samar-samar namun kemudian menjadi jelas lagi.
Dia merasa nyawa nya berkurang satu dan luka di dahi itu menghilang.
Si supir keluar dari mobil dengan terburu-buru. Lala menatap tajam ke arahnya lalu berlari dengan menggunakan kedua tangan dan kedua kaki layaknya hantu yang ada di film horor Jepang.
Setelah itu Lala melompat dan menerjang si supir yang mengakibatkan tubuh mereka berdua menghantam tanah dengan sangat keras.
Pupil mata Lala yang bulat berubah menjadi pipih. Dua buah taring di deretan gigi bagian depannya meruncing, begitupun dengan kuku di jarinya.
Kini Lala tampak seperti seekor harimau ganas yang siap mencakar siapapun.
Supir tersebut hanya bisa tertegun dan menatap shock ke arah Lala. Lalu Lala mencakar muka si supir dengan kelima cakarnya hingga masker yang dia pakai terkoyak habis.
Barulah muka nya terlihat, ternyata supirnya berjenis kelamin perempuan. Sayang wajahnya telah hancur karena cakaran Lala.
Nyawa nya pun hilang seketika dan darah terus mengalir keluar dari bekas cakaran itu.
Lala bangkit dan wujudnya kembali seperti gadis lugu seperti biasanya.
Kemudian Lala mendekat ke arah bagasi mobil dan mengeluarkan tubuh sahabatnya yang masih belum sadar itu.
Lala menggendong Yangyang di punggungnya, dia pun berjalan menuju rumah WayV bersamaan dengan cahaya matahari yang mulai muncul dari balik gedung-gedung tinggi.
Untung saja Lala sampai di rumah WayV tepat sebelum jalanan kota menjadi ramai.
Dia memutar kenop pintu dan dengan santainya masuk ke dalam rumah.
Hal pertama yang dilihat oleh Lala adalah seseorang yang sedang tertidur di sofa ruang tamu.
Orang tersebut terbangun karena mendengar suara pintu yang terbuka. Dan ternyata itu Hendery.
"AAAAAAAHHHHHHH!" Hendery berteriak kencang sambil menatap kaget ke arah Lala.
Pasalnya gaun putih Lala kini berlumuran darah.
Hendery berlari ke dalam rumah, lalu dia membangunkan Lucas dan Xiaojun yang tertidur di ruang kumpul.
"CAS! BANGUN BANGSAT!" Umpatnya sambil menepuk-nepuk seluruh badan Lucas.
"Apaansih der, masih ngantuk gua." Lucas pun menutup kedua telinganya dengan tangan.
"ITU SI CEWEK ANEH! BAJU NYA BANYAK DARAH!" Teriakan Hendery ini membuat Xiaojun terbangun dan duduk tegak.
"Lala?" Tanya nya sambil menoleh ke arah Hendery.
"IYA KALI, GATAU AH IYAIN DULU."
Setelah itu muncul sosok Lala dengan Yangyang di punggungnya.
"CAS! CAS! ITU CAS!" Kini Hendery semakin kencang menepuk badan Lucas.
Dengan terpaksa Lucas pun membuka mata dan melihat ke arah Lala yang hanya diri mematung.
Mereka bertiga sama-sama terdiam. Sedetik kemudian, mereka berteriak berjamaah.
"AAAAAAAHHHHHHH!"
Lala sangat terkejut, alhasil dia ikut berteriak. "AAAHHH!"
Jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, tapi suasananya sudah sangat ramai akibat teriakan empat orang itu.
Kun berlari dari lantai dua dan sama-sama terkejut melihat kondisi Lala.
"La! Baju kamu kenapa berdarah-darah?!" Tanya Kun yang panik.
"LALA ABIS BERANTEM SAMA KUCING APA GIMANA SIH?" Teriak Lucas yang lebih panik.
"T-TAPI ITU SIAPA?!" Xiaojun menunjuk ke arah seseorang yang ada di punggung Lala.
"Ini Yangyang, dia pingsan gegara dipukul." Jawab Lala dengan nada polosnya.
Kun segera menghampiri Lala, dia membantu menurunkan Yangyang dari punggungnya. Kemudian Kun memapah Yangyang dan membaringkannya di sofa ruang kumpul.
Lucas, Xiaojun, dan Hendery menatap khawatir ke arah adik terkecilnya itu.
"Yangyang dipukul?" Tanya Kun kepada Lala.
"Iya, sama orang yang punya mobil sedan hitam." Jawaban Lala terdengar sangat meyakinkan.
"Lah terus orangnya mana?" Hendery yang bertanya.
"Udah Lala cakar, soalnya dia jahat udah lukain Yangyang."
Mereka semua saling bertatapan. "Dicakar?" Xiaojun menatap Lala bingung.
"Lala nyakarnya pelan kok."
Pelan menurut Lala, gadis itu tidak tahu kalau supir jahat tadi telah kehilangan nyawanya akibat cakaran maut itu.
"Terus kamu ngegendong Yangyang ke rumah?" Lucas menampilkan wajah takjubnya.
Lala mengangguk, lalu dia menguap sangat lebar. "Ngantuk." Ocehnya.
"Yaudah tidur aja di kamar gege, tapi nanti tolong jagain Yangyang ya, kita mau ke tempat latihan. Lala tenang aja, gege udah larang manager datang ke rumah." Kata Kun dan dijawab anggukan oleh Lala.
Lala pun berlari menuju lantai dua. Di koridor nya dia berpapasan dengan Winwin yang baru keluar dari kamar.
Winwin melebarkan matanya melihat gaun Lala yang berlumuran darah.
"Hai Winwin." Sapa Lala santai sambil melambaikan tangannya.
Pandangan terkejut Winwin berubah menjadi sendu. Dia teringat kembali dengan keponakannya yang telah berpulang setahun lalu.
Senyumnya sama, bahkan tingkah laku nya pun sama. Namun Winwin berusaha tidak larut lagi dalam keegoisan nya karena menganggap gadis dihadapannya itu adalah keponakannya dahulu.
"Dadah Winwin, Lala mau tidur."
Saat Lala berada tepat disamping Winwin, pemuda itu menahan pergelangan tangan Lala sehingga membuatnya berhenti melangkah.
"Ganti baju dulu, kotor." Suruh Winwin lalu membawa Lala ke dalam kamarnya.
