"Jangan bikin gua khawatir."
Belum sempat Lala menoleh ke arah si pemilik suara itu, pandangannya tiba-tiba menjadi buram dan kepalanya terasa sangat berat.
Kedua kaki Lala sudah tidak kuat lagi menahan badannya hingga membuat tubuh Lala menjadi agak goyah.
Pemuda dibelakangnya itu menahan kedua bahu Lala, tak lama gadis tersebut kehilangan kesadarannya dan terjatuh tepat di dada si pemuda.
"Hiks." Suara tangis seseorang membuat Lala terbangun.
Dia merasa sedang tertidur di atas kasur yang empuk dan badannya terasa sangat hangat karena dibalut dengan selimut tebal.
Perlahan Lala membuka matanya dan melihat ada Kun, Ten, Winwin, Lucas, dan Yangyang sedang mengelilingi kasur yang dia tiduri itu.
"AKHIRNYA LALA SADAR!" Yangyang teriak kegirangan, matanya tampak habis menangis.
"Lala kenapa?" Gadis itu bertanya dengan nada lesu.
"Kamu pingsan gegara kedinginan." Jawab Kun sambil menatapnya khawatir.
"Lain kali kalau mau keluar tu bilang-bilang." Ten menasehatinya.
Lala mengangguk mengerti. "Maaf ya bikin repot kalian."
"Ekhem!" Seseorang dari dekat pintu kamar sengaja berdeham kencang agar Lala menoleh ke arahnya.
Ternyata cara itu berhasil, Lala melihat ada Hendery sedang bersandar di dinding samping pintu.
"Oh iya, Hendery yang gendong kamu kesini." Kata Lucas seperti membaca pikiran Lala.
"Hendery?" Lala melebarkan matanya tanda tak percaya.
"Iya, gua. Berat banget badan Lo." Oceh Hendery dengan nada kesalnya.
"Tenang ge, nanti Yangyang pijitin sebagai tanda terimakasih karena udah tolongin Lala." Perkataan Yangyang membuat Hendery tersenyum bahagia.
"Yaudah sekarang ajalah." Ucap Hendery sambil memegang kenop pintu.
Sebelum dia memutar kenop itu, Lala mengatakan sesuatu yang membuat Hendery terdiam.
"Makasih, lagi-lagi Hendery selamatin Lala. Hendery emang kuat dingin."
Mendengar ucapan terimakasih Lala yang tulus itu membuat Hendery merasa bersalah, karena sebelumnya dia mengusir Lala dengan cara yang kasar.
"Lo harusnya jangan bilang makasih ke gua." Tolak Hendery yang kini menundukkan kepalanya.
Mendengar hal itu membuat seluruh orang yang berada di dalam kamar menjadi kebingungan.
Hendery bergegas keluar. Baru saja dia membalikkan badan ke arah tangga, tiba-tiba muncul Xiaojun yang tampak sangat pucat.
"Lo jalan kaki?!" Hendery melebarkan matanya.
Xiaojun tidak menjawab dan malah mengalihkan topik pembicaraan. "Lala udah sadar?"
Dengan sedikit keraguan, Hendery pun menganggukkan kepalanya.
"Makasih, Hendery." —Xiaojun.
Toktoktok!
"Der, ini gua."
Pintu rumah itu dibuka oleh Hendery. Dia mengerutkan kening melihat Xiaojun datang menemuinya.
"Kenapa?" Tanya Hendery singkat.
"Tolong susul Lala."
Permintaan Xiaojun langsung mendapat decihan dari Hendery.
