"LAMA!" Tern membentak kakaknya yang baru sampai ke rumah.
"Yaiyalah lama, kaki gua cuman ada dua dan gak ada knalpotnya." Balas Ten sambil berkacak pinggang.
Tern mendengus kesal lalu merebut kunci rumah yang ada di tangan Ten. Dia membuka pintu dengan gerakan yang tidak santai hingga membuat Ten khawatir pintu rumahnya akan rusak karena ulah Tern.
"Lala! Lo disini kan?!" Tern memanggil-manggil Lala namun yang menghampirinya malah Bella.
Ten segera memberitahu adiknya itu bahwa Lala menghilang dari rumah dan kemungkinan dia sudah tidak ada lagi di dunia ini.
"Elo sih!" Tern kembali membentak kakaknya.
"Anjrit kok gua?!"
"Kan gua udah kasih tau Lo buat jagain Lala biar nyawa nya gak habis, dari kemaren Lo ngapain aja anjir?!" Tern memarahi Ten karena menganggap kakaknya itu tidak bisa melindungi Lala seperti yang pernah dimintanya.
"Woy, gua kerja disini jadi penyanyi. Dan Lala gak cuman hidup bareng gua tapi masih ada enam cowok lainnya." Ten membela dirinya sendiri.
"Mending Lo pulang lagi ajalah ke Thailand, ribut amat disini." Usir Ten yang tampak sangat kesal kepada Tern.
Adik perempuannya itu menjadi sama kesalnya dan dia kembali berjalan menuju pintu rumah.
Tapi di ambang pintu ada seseorang yang akan masuk sehingga menghalangi jalan, Tern menatapnya dengan pandangan berbinar-binar dan tubuhnya seketika berubah menjadi patung.
Karena yang datang adalah Hendery.
"Eh Tern, shawadikap." Sapa Hendery sambil menyatukan kedua telapak tangan dan menaruhnya di dada.
Tern merasa jantungnya lepas karena disapa oleh Hendery yang tampak sangat tampan hari itu.
"Ididih, sok-sokan pake bahasa Thailand." Ledek Tern yang sebenarnya masih berbunga-bunga.
"Ya terus pake bahasa apa dong?" Tanya Hendery.
Tern tampak malu-malu dan dia mengaitkan poninya ke telinga. "Pake bahasa cinta aja."
BRAK!
Pintu rumah yang awalnya terbuka setengah, tiba-tiba saja didorong kencang oleh seseorang dari arah luar.
Hal itu sontak membuat Tern dan Hendery melompat karena terkejut.
"Minggir woy! Ada air panas!" Pelakunya adalah Lucas yang entah sejak kapan sudah berada disana dan menguping obrolan Tern dengan Hendery.
"Widih ada kembarannya Ten ge." Ledek Lucas saat berjalan melewati Tern.
Perempuan itu memberi delekan mata kepada Lucas dan kembali fokus menatap ke arah Hendery.
"Tadi bilangnya pake bahasa apa?" Hendery meminta Tern untuk mengulangi ucapannya.
"Udah ah lupain." Tern menjawab dengan nada malas, lalu dia berjalan keluar dari rumah.
Hendery menatapnya heran, begitupun dengan Lucas yang sebenarnya masih berada di ruang tamu.
"Mau kemana woy?!" Tanya Lucas dengan suara kencang.
"Balik ke Thailand!" Tern menjawab dengan suara yang lebih kencang.
Lucas dan Hendery pun saling bertatapan bingung. Tiba-tiba datanglah Ten yang memecah keheningan diantara mereka berdua.
"Udah biarin aja, sepuluh detik juga dia balik lagi." Oceh Ten sambil menyenderkan punggungnya ke dinding ruang tamu.
Lucas pun iseng menghitung sampai sepuluh untuk membuktikan ocehan Ten tadi.
"Satu... Dua... Tiga... Empat... Lima... Enam... Tujuh... Delapan... Sembilan... Sepuluh."
Mulai terdengar suara langkah kaki dari luar rumah, dan selanjutnya pintu pun kembali dibuka oleh perempuan yang tadi memutuskan untuk pulang ke negara asalnya.
"Beneran dong sepuluh detik." Kata Hendery dengan ekspresi takjub.
"Pasti nyesel nih gegara marahin abangnya." Tebak Ten tapi Tern menggelengkan kepala.
Dia mengulurkan tangan kanannya dan memajukan bibirnya sedikit. "Minta jajan."
"Renjun." Kun menghampiri adiknya yang sedang bernyanyi dipojokan ruang latihan.
Lalu dia merangkul bahu Renjun hingga membuat pemuda itu tampak terkejut.
"Lo beneran ketemu Lala?" Tanya Kun dengan suara pelan.
"Bener bang, sumpah! Bahkan gua sempet ngobrol sama dia." Jawab Renjun dengan suara yang meyakinkan.
"Kalau gitu, kita ke taman utara bareng-bareng yuk." Ajak Kun masih dengan berbisik.
Renjun menatap ragu ke arah kakaknya tersebut karena merasa ada sebuah aura aneh yang keluar dari diri kakaknya.
Kun terlihat sangat berharap kepada apa yang dikatakan Renjun bahwa Lala berada di taman.
Sedari awal Kun menyadari ada hal ganjil dari pernyataan Hendery, dan dia yakin Lala tidak mungkin mati secepat itu.
Lala adalah gadis yang kuat dan selalu dikelilingi oleh berbagai keberuntungan.
Kun akan membuktikan kepada yang lainnya bahwa Lala masih hidup dan akan kembali menjadi bagian dari keluarga WayV.
Berangkatlah Kun dan Renjun pada pukul enam sore. Langit tampak sudah menggelap dan lampu-lampu kota pun mulai menyala.
Udara menjadi semakin terasa dingin hingga membuat mulut mereka berdua mengeluarkan asap putih ketika berbicara maupun bernafas.
Kun menjadi khawatir karena membayangkan Lala harus menahan udara sedingin ini diluar sana tanpa dibalut oleh jaket ataupun selimut.
Suasana di taman tampak begitu sepi dan gelap. Hanya ada satu lampu penerangan yang posisinya berada di sebelah bangku.
Renjun menunjuk ke arah bangku tersebut dan berkata bahwa Lala duduk disana tadi siang.
Kun dan Renjun berjalan mendekati si bangku lalu mereka menatap ke arah sekitar.
Renjun tiba-tiba menyadari bahwa selimut yang ada di atas bangku tersebut menghilang.
Antara ada orang lain yang mengambil atau Lala sendiri yang mengambilnya.
Tak lama, terdengar suara gesekan daun semak-semak yang asalnya tepat dihadapan mereka berdua.
Kun menatap fokus ke arah semak tersebut, sedangkan Renjun memilih untuk bersembunyi dibelakang badan Kun.
"Kita deketin." Ucap Kun namun Renjun langsung menolaknya. "Jangan ge! Gimana kalau itu bukan makhluk hidup?!" Renjun menakut-nakuti tapi hal tersebut sepertinya tidak mempan untuk Kun.
Perlahan satu persatu kakinya melangkah mendekati semak-semak yang semakin terdengar berisik.
Suasana pun berubah menjadi penuh ketegangan dan juga menyeramkan. Renjun merasa bulu kuduknya berdiri, oleh karena itu dia memegangi tengkuknya agar mengurangi rasa merinding tersebut.
Di sisi lain, Kun merasa semakin penasaran dan juga yakin bahwa dibalik semak-semak itu ada sesuatu yang dia harapkan yaitu Louis atau Lala.
Mereka berdua semakin mendekat dan suara gesekan daun tersebut pun semakin kencang pula di telinganya.
Kaki Renjun mulai bergoyang-goyang dan rasanya dia ingin pergi ke kamar mandi.
"Ge, berhenti aja. Itu bukan Lala, gak mungkin dia ada di semak-semak." Pinta Renjun, dirinya belum mengetahui bahwa Lala sebenarnya adalah seekor kucing yang mungkin saja memang berada dibalik semak-semak tersebut.
"Lo aja pulang duluan." Kun menolak ajakan Renjun dan memilih untuk melanjutkan aksinya.
Renjun menghela nafas kesal, namun sedetik kemudian dia melompat kaget karena ada tepukan kencang di bahunya.
Refleks Renjun berteriak hingga membuat Kun sama-sama terkejut akibat suara teriakannya.
"DAR!!!"
"AAAAAKHHHHH!"
