33 - 9 YANG MENJADI 6

465 43 38
                                        

⛓️happy reading⛓️

***

Pukul 18.50

Cakra termenung di depan koridor ruang rawat Dara, merenungkan semua perkataan Alex dan kejadian-kejadian masa lalu yang terus tergiang-giang di kepala nya.

Dari pukul 15.25 tadi dia hanya duduk di tempat yang sama dan dengan renungan yang sama, bukan tidak berniat masuk, tapi dia takut tidak kuat saat melihat kondisi Dara yang masih selalu sama.

Cakra memijit pelipis nya, pikiran nya bercabang-cabang saat ini, belum lagi pr yang di beri karna dia tidak ikut persami, tapi itu di luar list hal yang perlu dia pikirkan sekarang.

Yang utama tetap lah gadis yang terbaring koma.

Hanya Dara, Dara dan Dara.

Cakra berdiri dari duduk nya, berjalan menuju pintu lalu masuk dengan perlahan, sebelum benar-benar masuk ke ruang sunyi itu, dia menarik nafas dalam.

Berjalan menuju ranjang, lalu duduk di samping sisi ranjang itu dengan kursih.

"Sore Dar" sapa nya lirih.

"Aku-" dia menjeda kalimat nya.

Menghela nafas berat lalu kembali bersuara, "Aku mau curhat sama kamu, aku tau aku bakal terkesan bodoh, tapi ini yang bisa aku lakuin sekarang, aku benar-benar nggak tau harus gimana lagi, rasa nya hampa" sambung nya.

Lelaki itu membaringkan ke dua tangan nya di samping tangan Dara yang selalu di temani infus.

"Aku capek Dar, tapi aku tau kamu lebih tersiksa, maaf kalau aku jadi penyebab kamu menderita" Cakra tertawa pelan namun terdengar sinis.

"Padahal seharus nya aku yang jadi tameng buat kamu, ngelindungin kamu dari penderitaan yang ngancam keselamatan kamu, tapi malah aku yang jadi ancaman buat hidup kamu, haha"

Dia menahan air mata nya, perkataan tentang kematian dan kematian selalu tergiang di kepala nya.

"Aku uda ketemu sama paman Alex, ayah nya Alexa, dan uda tau penyebab kutukan ini, dan juga uda tau cara buat nyudahin semua, tapi, itu nggak mungkin bisa aku lakuin dan laluin"

Tangan Cakra mengelus puncak kepala Dara, dingin.

"Andai aku yang baring di posisi ini, kamu pasti nggak bakal rasain sakit nya, andai aku nggak pernah kenal sama kamu pasti hal ini gak bakal kejadian sama kamu, andai aku nggak terlahir pasti semua ini nggak bakal terjadi" di akhir kalimat, nada bicara Cakra melemah.

"Tapi semua cuma andai" dia tersenyum kecut.

"Dan sekarang, persahabatan aku, Laskar sama Zero itu udah hancur dan aku juga yang hancurin, nggak ada lagi yang tinggal di sisi aku, cuma bi Susi, dan aku takut bi Susi juga bakal jadi korban ke sekian"

Air mata Cakra jatuh, mata nya terasa memanas.

"Aku minta, aku mohon, aku minta tolong sama kamu Dar, cuma kamu, bukan kematian kamu yang aku tunggu buat bebasin aku dari kutukan sialan ini, tapi kesembuhan kamu kembali, aku bakal tetap disini temenin kamu sampai sembuh, dan saat kamu sembuh, aku janji bakal pergi dan berusaha lupain rasa ini"

Cakra menelan saliva nya dengan susah payah, bagaimana mungkin dia bisa secengeng dan selemah ini.

"Tapi kamu harus sembuh dulu, plis Dar, demi semua orang yang sayang sama kamu..."

Dia menggenggam lembut tangan pucat gadis itu.

"Juga demi aku, aku sayang banget sama kamu Dar, dan mungkin bakal selama nya, tapi jika memang bukan takdir kita buat bersama, maka aku, akan mundur demi kamu, pergi menjauh dan berusaha lupain kamu, tapi kamu harus nurutin satu syarat dari aku."

 LASKAR [ COMPLETE ] ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang