22 - PERDEBATAN

618 63 15
                                        


Maya memutar-mutar ponsel nya, bingung apa yang harus dia lakukan, kepala nya sudah tidak cukup memory untuk menyimpan materi pelajaran lebih banyak lagi, rasa nya dia lelah, lelah sekali.

Sial nya besok adalah hari ujian semester genap yang pertama, kelas akan di bagi-bagi sesuai urutan nomor yang di berikan pihak sekolah, inti nya dia berharap agar bisa se ruang ujian dengan Nanda, walau dia tau tidak akan ada yang berubah walau sekelas dengan gadis itu, namun setidak nya jika ada Nanda, dia akan merasa lebih nyaman.

Maya masih setia menunggu informasi dari wali kelas tentang pembagian ruang ujian, untuk mengetahui apakah dia akan beruntung kali ini.

Dia menatap jam di gital di layar handphone nya.

Pukul 20.07.

Jujur dia sudah mengantuk, ingin sekali tidur, tapi rasa nya malas, aneh.

Setelah berdebat dengan diri nya sendiri, finish nya Maya meletak kan benda persegi panjang itu di nakas, lalu mulai memejamkan mata , bergerak-gerak di atas kasur guna mencari tempat yang nyaman untuk tertidur.

Ini memang masih terlalu cepat untuk jam tidur, tapi sekarang dia merasa sangat lelah sekali, ingin cepat pergi jalan-jalan ke alam mimpi, dia memeluk guling nya, lalu mulai membayang-bayang kan sesuatu yang akan membuat nya terlelap.

Tanpa aba-aba gadis itu mata nya sudah terpejam sempurna, kesadaran nya juga sudah tidak lagi full, dan dia terlelap di atas kasur , entah sekarang dia sudah masuk ke alam mimpi atau justru tidak bermimpi sama sekali?

Yang tepat nya dia tidur, dan itu lelap.

***

Laskar yang sempat terlelap di sofa ruang TV tiba-tiba terbangun mendengar suara gaduh dari kamar orang tua nya di lantai dua, sial! bisa-bisa nya dia terbangun di saat seperti ini.

Baru saja dia mencoba mengistirahatkan otak nya yang sedang banyak pikiran, tapi ada saja orang yang mau menambah pikiran nya lagi.

Laskar mengerang, ingin sekali rasa nya dia memecahkan meja kaca di hadapan nya ini.

Dia segera menaiki anak tangga satu persatu, langkah nya sedikit di hentak agar cepat, apa lagi yang orang tua nya lakukan ? berdebat? pasti.

Laskar tiba di depan kamar orang tua nya pintu kamar Rian dan Cindy memang tidak sedang terkunci, kali ini mereka bertengkar, lagi.

Laskar menatap bergantian ke arah pasangan yang tengah beradu mulut serta pecahan guci-guci dan kaca bingkai foto.

Lalu dia menggeleng-geleng kan kepalanya.

Laskar merasa orang tua nya selalu bertengkar secara konyol, memecahkan perabotan karna sebuah perdebatan sungguh hal bodoh.

"Terus! Terus aja kelai kek gini! mama sama papa tu kek anak-anak ?! Ud-"

"Sejak kapan kamu di situ Laskar?"

Tanya Cindy saat melihat putra nya berdiri di depan kamar.

Cindy tidak memperdulikan bentakan Laskar yang memang sangat terbawa emosi.

"Entah !! Coba tanya sama laptop dan berkas-berkas kalian!" Laskar meraih vas bunga ter dekat lalu membuang nya ke arah Cindy dan Rian hingga pecah.

"Anak kurang ajar !"

Laskar tersenyum miring, jika saja dia tidak mengontrol emosi nya tadi, mungkin dia bisa melempar vas bunga yang lebih besar lagi dan membuat mereka terluka.

Bugh!

Rian menyambar wajah Laskar dengan tangan kekar nya, alhasil sudut bibir lelaki itu terluka, Cindy memalingkan wajah nya ngeri saat melihat kejadian itu, Cindy phobia dengan darah.

 LASKAR [ COMPLETE ] ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang