SUDAH TERBIT DAN TERSEDIA DI SELURUH GRAMEDIA INDONESIA DAN TOKO BUKU LAINNYA
Warning ⚠
Cerita ini mengandung adegan romance, kekerasan, kata-kata kasar, baper, bikin kalian sesak napas.
Asmaraloka :
Dia adalah gadis beasiswa yang beruntung memilik...
Jangan lupa ramaikan kolom komentarnya :) dan juga votenya hehe
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy reading
Suara dari Livia itu sukses membuat Nako menghentikan langkahnya begitupun aku. Kepala Nako perlahan menoleh pada Livia.
"Jangan ngaco, Livia!" sentak Nako, kemudian berbalik badan berjalan mendekati Livia. Tatapan Nako sungguh tajam. Inilah yang kutakutkan, dimana Nako mengetahui semuanya bahwa aku merahasiakan tentang Mita darinya.
"Gue ngomong kebenarannya! Cewe lo itu jahat udah nyembunyiin Mita dari lo!"
"Stop! Mita udah gak ada, Livia! Mana mungkin dia bisa hidup lagi karena gue liat sendiri jenazah Mita saat dimakamkan!" bentak Nako tidak terima. Aku yang masih berdiri di belakang Nako hanya memandang takut pada Livia, gadis itu benar-benar ingin membongkar semuanya.
"Kenapa sih lo gak percaya sama gue? Udah dikasi racun apa aja lo sama cewek murahan itu?!" tanya Livia dengan napas yang menggebu-gebu.
"Loka gak pernah bohong sama gue! Lo ngomong gitu karena gak suka gue sama Loka, 'kan?!"
Livia menggeram marah, menatap nyalang padaku lalu berpindah menatap Nako di depannya. "Gue pastiin lo tahu semuanya!" setelah mengucapkan itu Livia berbalik badan, mengambil langkah cepat menuju mobilnya di pinggir jalan sana.
Sementara aku hanya menegang kaku. Terkejut dengan Nako yang tidak percaya pada Livia, aku sedikit merasa lega. Tapi, jujur aku takut jika nanti Nako mengetahui bahwa aku telah melakukan kebohongan tentang Mita. Apa dia akan meninggalkanku? Apa dia akan memilih Mita dibanding diriku? Oh Tuhan, itu sangat menakutkan.
"Lo kenapa?"
Aku tersadar saat Nako menggenggam tanganku. Aku menggeleng, mendongak padanya lalu tersenyum.
"Aku capek, Nako," lirihku. Jauh dilubuk hatiku aku merasakan ketakutan saat aku dan Nako tidak bisa lagi seperti ini.
"Makanya jangan cari gue, gue bakal baik-baik aja," balas Nako.
Sedetik kemudian tubuhku melayang. Nako menggendong tubuhku dan membawaku masuk ke dalam gedung apartemen. Aku terkekeh di dekapannya sambil melingkarkan tanganku pada lehernya. Menatap Nako yang sangat tampan, dengan rambut hitam legam, bibir tipis, hidung mancung, dan rahang yang begitu kokoh membingkai wajahnya membuat Nako tampak tegas di mataku.
"Aku sayang kamu, Nako," ucapku ketika kami sampai di depan pintu apartemen.
"Gue juga," balas Nako lalu mengecup bibirku singkat membuat jantungku berdebar indah. Aku semakin jatuh cinta kepadanya. Dia sudah tidak sekasar dulu. "Bisa tekan tombolnya?" pinta Nako.