I can't promise anything, but I assure you guys that I will do my best to finish this story. Not to be demanding, but I'd love to hear good feedbacks from you guys, let me now that my writing are still worth to read! ㅡso I can boost my mood to write again.
So, here is a long ass chapter after two months without update ㅎㅎㅎㅎㅎㅎㅎ I'm so sorry, love ya'all ❤️
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*****
"Nggak tau ah, aku udah pusing banget. Nggak ngerti lagi harusnya gimana."
Kim Alice uring-uringan di sebelah pohon natalku. Dia kesal karena baru menemui Liv di sarangnya tapi tidak dibukakan pintu. Ini bukan pertama kali, sudah hampir seminggu Liv mengurung diri. Dia tidak mau ada yang masuk ke kamarnya. Keadaan memburuk sejak Liv bilang skripsinya berantakan.
"Jahat banget Byunzilla. Sama Baby aja dia nggak mau ketemu," timpal Jaemin, mengusap kepala Baby yang duduk di pangkuannya sambil minum susu dari dot.
"Po..." anak itu melepas dot untuk menyebut nama Liv dengan tampang sedih.
"Iya, Pororo Byun nakal ya? Kasian Baby-nya Nyanya~" ujar Jaemin dengan nada prihatin yang berlebihan. "Baby sama Nyanya aja, yang nggak nakal."
Terdengar decak kesal Alice. Dia menggerutu tidak jelas sebelum bicara lagi. "Nggak bisa dibiarin, keadaan dia udah makin parah."
"Hachoooo!"
Alih-alih menanggapi, aku bersin setelah mendengar pernyataan itu. Alice benar, keadaan Liv makin parah. Ingat waktu dia pingsan di rumahku setelah ketahuan mau mencuri bir? Aku panik setengah mati karena dia berhenti bernapas.
Saat itu, sebelum ambulance datang aku cuma bisa memberi napas buatan sambil berdoa. Kukira malam itu Liv tidak akan selamat. Wellㅡ entah sudah kali keberapa aku takut dia meninggal. Ternyata nafas berhenti sejenak adalah efek samping karena Liv sudah terlalu banyak minum obat tidur. Dan dia depresi. Kata dokter, dia bisa tiba-tiba terkena gangguan napas saat tidur atau lelah.
Ada-ada saja. Huft.
"Liv beneran nggak mau ketemu siapa-siapa sama sekali?" tanya Jaemin.
"Kata orang-orang di Peachdelight sih nggak. Pokoknya dia cuma minta sarapan ditaruh di depan pintu pagi-pagi, terus makan selanjutnya delivery dari luar. Tiap hari selalu ada beberapa kurir yang datang, paling Liv cuma interaksi sama mereka," jawabku sambil menyerot ingus, aku sedang flu.
"Hm... Seenggaknya dia mau makan. Tapi kira-kira dia ngapain di kamar seharian? Emang nggak bosen?" tanya Jaemin lagi.
"Nggak tau ngapain," sekarang Alice yang menjawab. "Tiap ada yang minta masuk, dia cuma geleng-geleng. Nggak bilang apa-apa."