17 | Ranting bercabang penuh rahasia

13.6K 2.1K 123
                                        

Kai mengunci pintu ruangan, menoleh padaku dengan tatapan dingin selama beberapa saat, ia dan Tristan kemudian melangkahkan kakinya tidak menganggapku ada.

Apa mereka juga menbenciku karena tadi membela Fadli?

Langkah kaki jenjang mereka berdua sulit diikuti, sampai aku bahkan harus berlari kecil untuk mengekorinya.

Kami menuruni tangga, melihat keluar jendela, langit yang mendung tampaknya akan mulai menurunkan hujan lagi.

Sejak pagi cuacanya memang sudah buruk. Walaupun begitu syukurlah akan turun hujan ... aku lebih suka kedinginan daripada kepanasan.

Aku mengalihkan pandanganku kembali pada mereka. Wajah serius itu, aku bisa melihatnya dengan jelas. Suasana hati mereka berdua tampaknya memang sudah sangat buruk.

"Gue cabut duluan, masih ditunggu sama anak Klub Basket"

Berpamitan pada kami, tidak ... lebih tepatnya hanya pada Kai. Tristan melangkahkan kakinya pergi ke lorong lain.

Bagi Tristan yang mengalami luka ringan, bahkan nyaris tidak terlihat. Bertemu dengan orang lain lagi sepertinya tidak akan menjadi masalah besar. Tapi bagi Kai ... sebisa mungkin dia harus segera keluar dari sekolah tanpa dilihat orang lain dalam kondisi babak belur.

Kai mempercepat langkahnya, begitupula dengan aku yang mengekorinya. Tujuan kami sama, yaitu segara keluar dari area sekolah.

Walaupun aku tidak perlu memaksakan diri untuk mengikuti kaki jenjangnya, dan pergi ke gerbang sekolah seorang diri. Beberapa hal yang ku khawatirkan, mendorong ku untuk memilih opsi ini.

Kai menghembuskan nafas kasar, setelah berkelahi, dan sekarang harus tergesa-gesa menuju gerbang sekolah, sangat wajar jika dia kelelahan.

Kami keluar gedung, bukan hanya mendung ternyata, tapi memang sudah mulai hujan gerimis.

Kali ini tak ada siswa yang beraktivitas di lapangan sekolah. Eskul seperti paskibra, pramuka dan semua yang biasanya melakukan aktivitas di lapangan, sepertinya sekarang pindah ke dalam kelas akibat cuaca yang tidak mendukung.

Yah ... itu bagus, dengan begini seharusnya tidak akan yang melihat Kai dalam kondisi berantakan.

Kaki Kai melambat, dia berhenti tepat dihadapan mading---mading yang sama dimana aku melihat poster pendaftaran Klub Buku beberapa hari yang lalu.

Kai menatapnya lekat, dengan mata yang sendu, sepertinya dia mulai memikirkan apa yang Tristan katakan tadi.

"Lo mendingan cantumin nama lo aja. Kalau emang lo pengen Klub ini jalan, akan lebih baik kalau lo jadi wajah dari Klub ini."

Sebuah percakapan kecil yang dilakukan saat kami masih berada di ruang Klub tadi.

"Setelah itu, pasti banyak yang bakal daftar. Dan kita gak perlu musingin bajingan kayak Fadli,"

Itu yang Tristan katakan.

Fadli pastinya langsung keluar dari Klub setelah kejadian hari ini. Hal itu akan membuat salah satu syarat berdirinya Klub tidak akan terpenuhi.

Menunggu siswa yang masuk secara sukarela, hanya akan membuang waktu. Tristan berfikir, akan lebih baik untuk memenuhi kuota dengan mempromosikan Kai sebagi wajah dari Klub. Dengan begitu, pasti akan banyak siswa yang masuk.

Melihat Kai yang terus memandangi poster, aku membuka mulutku. "Kamu mau cantumin nama kamu di poster?"

Aku menatap Kai lekat, tangannya yang sudah mencoba meraih kaca mading terhenti seketika.

FIGURANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang