Ruang kelas itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Dari tempatnya duduk di dekat papan tulis, Samudra menyapu pandangan ke seluruh ruangan.
Deretan bangku tertata rapi, dengan kepala para siswa yang menunduk, fokus pada lembar jawaban masing-masing. Mereka sedang melaksanakan ujian harian. Tak ada tawa, tak ada bisikkan, satu-satunya hal yang terdengar hanyalah bunyi halus gesekan pensil dan detak jam dinding yang terdengar jelas di telinga.
Di meja Samudra sekarang ... sebuah kotak plastik berisi ponsel para murid tergeletak. Lalu ketika saat yang tepat telah tiba, dan tak ada seorang pun yang melihat ... tangan besar itu kemudian mengambil beberapa di dalamnya dan langsung dibawa ke bawah meja. Jemarinya buru-buru memasang colokan ke HP dan menyambungkannya ke laptop yang ia simpan di pangkuan.
Sesekali ia melirik ke arah para murid lagi, memastikan tak ada satu pun yang mencoba mendekat. Dahinya berkerut, bibirnya digigit pelan, pria itu merasa benar-benar tak senang.
Sial.
Benar-benar sial!
Manik hitam itu bergerak bergantian antara bawah meja dan para siswa.
Bisa-bisanya ia malah diperas untuk melakukan hal seperti ini!
.
.
[ Melisa: Kisah masa lalu ]
.
.
Apa kau pernah mendengar suatu hal yang disebut sebagai kemiskinan struktural?
Itu bukanlah suatu hal yang terlalu sulit untuk dipahami. Mudahnya ... jika kau terlahir di keluarga yang miskin, maka kemungkinan besar kau juga akan menjadi orang miskin dan melahirkan bayi-bayi miskin lainnya.
Terdengar buruk, bukankah begitu? Dari kau lahir, dari zaman nenekmu, bahkan keturunanmu---mereka semua terjebak di lingkaran yang sama. Terus, dan terus, pola berulang itu terus terbentuk.
Secara sosial, kemiskinan struktural muncul dari sistem yang tidak netral seperti distribusi pendidikan yang timpang, akses kesehatan yang tidak merata, kebijakan ekonomi yang lebih ramah pada mereka yang sudah kuat, dan banyak lagi.
Di dalam kelompok masyarakat di mana nilai-nilai individu mulai terukur sebagai data dan angka ... hal ini membuat pandangan menjadi kabur, dan terciptalah ilusi seolah orang-orang diberikan kesempatan yang 'sama' padahal titik mereka memulai saja sudah berbeda jauh.
Di sinilah struktur sosial bekerja seperti tangga yang rusak. Secara teori, semua orang boleh naik. Namun dalam praktiknya, sebagian harus melompat jauh lebih tinggi hanya untuk mencapai pijakan pertama.
Lebih dari itu, masyarakat sering menafsirkan kemiskinan sebagai kegagalan individu, narasi sosial seperti 'siapa yang miskin berarti kurang berusaha' digaungkan, tanpa memiliki kesadaran bahwa sistemlah yang lebih dulu membatasi ruang gerak orang-orang di kalangan bawah. Akibatnya ... kemiskinan struktural terus direproduksi.
Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang sama, sekolah yang sama, jaringan sosial yang sama. Bukan karena takdir biologis. Tidak. Tapi melainkan karena struktur sosial yang berputar di tempat. Kemiskinan dalam konteks ini bukan anomali---ia adalah hasil yang konsisten dari sistem yang tidak diubah.
Itulah yang dinamakan kemiskinan struktural.
Kau tidak tahu kenapa. Tak ada batasan yang jelas. Secara kesadaran kau bahkan tak menyadarinya. Tapi efek dari pola tersebut terasa sampai ke sumsum tulang.
KAMU SEDANG MEMBACA
FIGURAN
Fiksi Remaja🌹 FIGURAN blurb : Shīna Gayatri bukanlah tokoh utama. Dia, hanyalah seorang figuran ... Melihat tokoh utama wanita yang disiksa, melihat tokoh pria yang berjuang mati-matian untuk si cewek, juga melihat si Antagonis yang selalu membuat masalah. Di...
