Shīna terdiam untuk sesaat, wajahnya masih tenang, tidak merasa terancam maupun tertekan. "Apa kamu tahu kalau Sherly pernah berusaha ngelakuin percobaan bunuh diri?"
Arrabele tercengang, alisnya langsung mengerut.
"Bunuh diri?"
Informasi semacam itu ....
Kedua ujung bibir gadis itu terangkat membuat senyuman, Shīna membuka telapak tangannya, kode gestur agar Arrabele menyerahkan benda yang sedang ia genggam. "Handphone-nya?"
Gadis berambut keriting itu menghembuskan napas kasar.
Apa itu bahkan nyata? Ia cukup ragu.
Sherly tidak terlihat seperti orang yang seperti itu. Tapi Arrabele juga paham bahwa mereka sekarang ini berpacu dengan waktu, pada akhirnya benda pipih itu akhirnya ia serahkan.
Begitu ponsel mendarat di tangannya, Shīna kemudian menyambungkan beberapa kabel koneksi antara handphone dan juga laptop yang ia bawa. "Selesai." Ia kemudian berjalan ke arah tempat tidur, dan kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Kita lanjut ngobrol, kan?" Arrabele mengingatkan sementara Shīna justru mengambil air minum di nakas yang semula ditunjukan staf untuk Arrabele minum.
"Aku ini baru dihukum lari di siang bolong lho, kamu ini bener-bener gak sabaran ya?"
"Udah cukup aku sabar, ini bukan pertama kalinya kamu ngulur pembicaraan."
Setiap bertanya, Shīna pasti hanya akan memberikan jawaban yang bias.
Gadis berambut panjang itu mendesah dalam. "Kita bahkan gak kenal satu sama lain terlalu baik. Dari sudut pandang aku, itu justru bakalan gawat kalau ternyata kamu loyalis Sherly."
Loyal-, apa?
Apa orang di hadapannya ini sedang bercanda?
Apa Shīna benar-benar berpikir bahwa ia akan menjadi loyalis terhadap orang yang selama ini mengganggu dan membuat hidupnya menjadi mimpi buruk?
Pemikiran macam apa itu? Arrabele bukan seorang masokis, ia tak punya sindrom stockholm. Mana mungkin ia bisa menjadi seorang loyalis terhadap Sherly, dan bahkan jika pun ia memperlihatkan perilaku sebagai seseorang yang setia, itu bukan karena ingin, tapi karena ia sedang berada di dalam tekanan ancaman.
"Aku bukan loyalis Sherly," Arrabele menggeleng, "dan gak akan pernah."
Pandang Shīna tak berubah, alirannya masih sama seperti sebelumnya, tak ada riak, permukaannya begitu tenang. "Oke." Mulut kecil itu berucap seolah semua tuduhan yang Arrabele dengar hanyalah angin lalu dan merupakan pertanyaan yang tak begitu mempunyai makna.
"Jadi ... apa maksud kamu tentang Sherly yang berusaha ngelakuin percobaan bunuh diri? Dan apa hubungannya hal itu sama rencana yang kamu punya buat ngehukum dia?"
Shīna menghembuskan napas kasar, kedua kakinya kemudian ia angkat agar seluruh tubuhnya bisa terbaring di atas ranjang, "sejujurnya, itu semua cuma tebakan. Itulah kenapa aku perlu mastiin hal tersebut dari HP dia. Kalau kita punya petunjuk tentang hal tersebut, kita bakalan benar-benar beruntung."
Tebakan?
Arrabele tidak banyak berkata, otaknya bekerja untuk mencapai apa yang Shīna maksudkan. "Oke, ayo kita singkirin dulu tentang apa yang mau kamu cari di HP Sherly. Pertanyaannya ... darimana dugaan kamu itu muncul?"
"Sherly yang bilang."
"Sherly bilang ke kamu kalau dia pernah nyoba buat mati?"
Shīna menggeleng, matanya terpejam, "enggak. Sherly cuma cerita kalau ada anak di SMA TRIVIA yang pernah nyoba ngelakuin usaha percobaan bunuh diri karena nilai yang dia dapet jelek."
KAMU SEDANG MEMBACA
FIGURAN
Teen Fiction🌹 FIGURAN blurb : Shīna Gayatri bukanlah tokoh utama. Dia, hanyalah seorang figuran ... Melihat tokoh utama wanita yang disiksa, melihat tokoh pria yang berjuang mati-matian untuk si cewek, juga melihat si Antagonis yang selalu membuat masalah. Di...
