67 | Melisa

1.4K 306 39
                                        

“Terus-terus, Lia malah bilang suatu hari nanti dia lebih milih jadi katak daripada jadi kodok! Padahal, kan sama aja ya?” Wanita itu tertawa bahagia, mengenang masa lalu dengan senyum yang tulus.

“Kamu tahu, Lia itu waktu kecilnya nakal banget. Tante udah berkali-kali bilang jangan, tapi selalu aja diterobos. Walaupun ujungnya dimarahin, dia tetap aja ngulangin lagi. Anak itu bener-bener gak ngerti sama rasa kapok.” Tawa itu kini berlangsung lebih lama. Seolah semua kenangan masa kecil putrinya adalah anugerah yang pantas disyukuri, bahkan jika sebagian di antaranya penuh kebodohan.

“Lia ... dia itu punya jiwa petualang yang besar. Anak yang pemberani. Bahkan walau terluka pun, dia pasti bakal tetep bangkit lagi,” ucap Melisa lirih, ada sedikit rasa getir di lidahnya.

Perkataan itu tak luput dari perhatian orang yang duduk di hadapannya. Gadis muda itu tersenyum pelan. “Saya gak bisa bilang apa-apa lagi selain setuju sama apa yang Tante bilang,” ujarnya lembut. Bibir merah mudanya membentuk lengkungan kecil. “Lia juga salah satu orang paling berani yang pernah saya temui.”

Melisa tersenyum mendengar pujian tersebut. “Riposha, kayaknya kamu berteman dekat, ya, sama Lia?”

Gadis yang dipanggil Riposha itu ikut tersenyum, tapi anehnya matanya tidak mengikuti bentuk bibirnya. “Saya gak yakin Lia nganggap saya temen sedekat itu,” katanya pelan. “Lia ... kalau punya masalah, dia jarang banget berbagi. Salah satunya soal Tante. Saya baru tahu kalau ibunya pasien di rumah sakit. Kalau saya tahu lebih awal, mungkin saya bisa bantu.”

Melisa mengangguk lembut, menyentuh tangan gadis itu dengan rasa terima kasih. “Makasih banyak buat niat baik kamu. Tapi Lia mungkin gak mau nyusahin siapa pun, jadi dia gak cerita.”

Riposha menunduk, suaranya pelan tapi tegas, “Tapi bukannya itu gunanya teman, Tante? Lia udah kesusahan. Saya pengen bantu, paling nggak ... meringankan bebannya.”

Meringankan beban, ya?

Pertemanan yang seperti itu adalah yang paling indah. Melisa merasa tenang mengetahui putrinya punya teman yang mau peduli, yang bisa menjadi sandaran di saat susah.

“Tante ...” suara Riposha kembali terdengar, kali ini lebih pelan, hampir seperti rahasia. “Lia mungkin bakal marah kalau tahu saya ke sini. Tante bisa rahasiain, kan?”

Kepala wanita paruh baya itu sedikit tertunduk.

“Kenapa perlu dirahasiakan? Kalau misalnya kamu sudah tahu, Tante bisa bantu omongin kok ke Lia. Lagipula kamu anak yang sopan. Tante akan senang kalau kamu bisa berkunjung lagi kapan-kapan.”

Riposha menunduk. Melisa menangkap tatapan getir di wajahnya, dan entah kenapa hatinya terasa tidak enak.

“Tante,” ucap Riposha perlahan, “aku rasa ... Lia malu.”

“Malu?” alis Melisa naik. “Maksudnya?”

“Itu ... penyakit Tante-” Gadis itu menatap meja di hadapannya. “Bukannya itu salah satu alasan kenapa Lia ngerahasiain hal ini dari temen-temennya? Aku rasa ... lebih baik kalau kita gak ngasih tahu Lia kalau aku berkunjung. Dia bisa malu kalau sampai tahu.”

Wajah wanita itu membeku. Pandangannya lurus ke satu titik, tak bergerak. Ada perasaan terhina, marah, dan juga jijik pada dirinya sendiri. Melisa tidak tahu bagaimana cara memprosesnya. Emosi-emosi itu datang begitu saja. Suatu rasa pedih dan tersinggung ... karena disamakan dengan hal yang dianggap memalukan.

“Tapi ... tapi Tante tenang aja, aku pasti berkunjung lagi,” Riposha melanjutkan, suaranya ringan seolah tak menyadari luka yang baru saja ia tinggalkan. Ia kemudian membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. “Tapi untuk sekarang, kayaknya aku harus pulang dulu. Aku mampir lagi nanti, ya.”

FIGURANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang