59 | Shīna X Rowena (1)

2.7K 415 79
                                        

Puterinya dipukuli ... itu satu-satunya alasan Rowena membatalkan meeting luar kotanya hari ini. Melihat putrinya yang terluka, sebagai seorang ibu tentunya ia ingin mendapat respon tercepat, jadi begitu tahu Karin mengubah pertemuannya menjadi hari ini ... ia langsung menjadikan permasalahan Sherly sebagai prioritas utamanya.

Sepatu pantofelnya menggema di lantai yang ia pijaki, kilauan warna hitamnya memantulkan cahaya yang mengkilat. Rowena naik ke lantai dua kafe, dan duduk di kursi yang sudah ditetapkan.

Wanita itu kemudian menyimpan tasnya di bawah sisi kursi, ia melihat pemandangan sekitar.

Kafe ini mempunyai 2 lantai, dengan suasana interiornya yang dipenuhi dengan warna kayu bercampur cream hangat, atap-atapnya nampak tinggi, dan jika kau berada di titik atau sisi tertentu. Itu merupakan suasana yang megah karena kau bisa langsung melihat ke lantai satu dari lantai dua.

Wanita dengan blazer berwarna abu itu sebenarnya tidak tahu kenapa ia diberitahukan untuk datang ke kafe ini. Ini permasalahan perundungan di sekolah, bukankah begitu? Puterinya dipukuli, Ia seharusnya berada di wilayah SMA TRIVIA sekarang, kenapa pula ia justru dipanggil ke sini?

"Apa Anda nunggu lama?"

Pikirannya terbuyarkan ketika melihat seorang wanita dan seorang gadis remaja datang ke hadapannya.

"Anda pasti Nyonya Rowena, orang tua dari Sherly Noscha, benar?"

Rowena berdehem.

Suara wanita yang menyapanya sekarang mirip sekali dengan suara yang kemarin malam ia dengar di ponsel ketika membuat laporan pengaduan perundungan. Rowena akhirnya mengangguk. "Benar, saya orang tua dari Sherly."

"Saya Karin, dari bagian konseling."

Mereka berdua saling menjabat tangan sebagai bentuk dari formalitas. Perempuan bernama Karin itu kemudian berpaling ke gadis yang ia bawa bersamanya.

"Ini Shīna Gayatri, orang yang kemungkinan besar jadi pelaku perundungan putri Anda," Karin memperlihatkan senyuman yang sedikit kecut, "Yah ... walaupun itu bukan suatu hal yang pasti."

Mendengar ucapan tersebut, Rowena tidak tahu bagaimana cara merespon. Pandangannya terbagi ke beberapa arah, membuat pikirannya meliar akan dugaan dan prasangka. Orang di hadapannya sekarang memiliki setengah wajah yang rusak, mata kirinya membengkak, tak lupa memar-memar yang jadi bukti bahwa ia telah menerima bentuk kekerasan yang cukup kuat.

Gadis rapuh itu membungkuk dan memperkenalkan diri, "saya Shīna, Tante, salam kenal," kalimatnya ia suarakan dengan sangat lemah.

Melihat Shīna yang sudah selesai memperknalkan diri, Karin mengambil alih pembicaraan. "Shīna bilang dia mempunyai cerita yang berbeda dari yang Anda sebutkan di telepon. Dan daripada membuat sidang komite kekerasan, dia ingin diberikan kesempatan untuk berbicara empat mata."

Mendengarnya penjelasan itu Rowena langsung tertegun. Gadis di hadapannya sekarang---Shīna---jelas sekali mempunyai luka yang berat, dan Sherly bilang bahwa Shīna, lah pelakunya. Setelah melihat apa yang ada di depan mata, jujur saja Rowena jadi tak begitu paham.

"Ya boleh. Saya bersedia."

Jadi jika memang ingin melakukan pembicaraan empat mata Rowena jelas tak akan keberatan, karena ia pun memang ingin mengetahui kondisi yang sebenarnya.

Karin mengangguk, "Kalau begitu saya permisi," setelah mengatakan hal tersebut ia akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua di lantai atas.

Iris coklat itu kemudian berpaling ke arah gadis di hadapannya, "duduk," Rowena tersenyum sembari mempersilakan sang gadis untuk mengambil tempat. Shīna yang berdiri pada kakinya lalu mengikuti arahan dan duduk berhadapan.

FIGURANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang