Arrabele sejujurnya tak begitu paham terhadap apa yang tengah ia lakukan.
Penawaran yang diberikan oleh Shīna rasanya benar-benar aneh. Arrabele tidak diberitahukan secara detail mengenai apa yang akan terjadi, tapi Shīna berjanji bahwa apapun hasilnya nanti ... entah itu keberhasilan ataupun sebuah kegagalan, gadis berambut panjang itu tak akan membawa namanya masuk sebagai salah satu aktor, atau dengan kata lain ... Arrabele hanya perlu membantunya dari belakang dan jika pun terjadi konfrontasi di masa depan maka nama Arrabele tak akan disangkutpautkan.
Tawaran yang menarik. Menghukum orang yang selama ini mengganggunya---sudah cukup lama harapan seperti itu telah pupus. Di titik tertentu, Arrabele rasanya bahkan sudah tidak dapat mempercayai fantasi seperti itu lagi. Abaikan mengenai ganti rugi atau apalah itu, hanya dengan memberikan Sherly hukuman saja, hanya dengan melihat iblis wanita itu diadili saja ... sejujurnya Arrabele sudah merasa senang.
Hari ini, Sherly dan beberapa anak lain di kelasnya berencana untuk membuang tas yang Shīna punya ke suatu tempat. Arrabele yang merupakan tangan kanan dari kejahatan tentunya adalah orang yang paling dimintai untuk terlibat. Tanpa banyak keraguan, gadis dengan rambut keriting sedada itu menyetujui permintaan tersebut.
Shīna bilang ... jika Sherly menyuruhnya melakukan sesuatu, maka lakukan saja. Sejak awal apa yang gadis itu inginkan hanyalah bocoran informasi, bukan keterlibatan Arrabele langsung untuk berada di pihaknya. Hal itu jugalah yang membuat Arrabele akhirnya setuju untuk bekerja sama, karena toh bahkan jika rencananya gagal, ia tak akan terdampak sedikit pun, karena di permukaan ia masih akan berada di pihak Sherly.
Setelah percakapan dengan Sherly selesai, informasi mengenai apa yang akan terjadi langsung ia sampaikan pada Shīna melalui pesan internet.
Hari ini pun ... lagi-lagi semuanya berjalan dengan lancar, dan karena posisinya sekarang ini adalah di pihak Shīna, Arrabele tak merasakan sedikitpun tekanan untuk melakukan hal tersebut.
Gadis itu kemudian berjalan ke arah tempat tidur dan membaringkan badan, ponselnya yang berada di dekat bantal ia raih. Orang tuanya seharusnya sudah tidur sekarang, jadi kemungkinan terjadinya kebocoran percakapan akan mendekati titik nol.
Arrabele tidak ingin melibatkan mereka. Walaupun orang-orang bilang bahwa hal pertama yang harus kau lakukan ketika mendapatkan perisakan adalah memberitahukan guru atau orang tuamu. Tapi baginya itu hanya suatu hal yang akan terjadi di dunia khayalan. Anak-anak yang mengganggunya dari kalangan atas, sedangkan kedua orang tuanya hanya pengusaha laundry biasa.
Bukannya akan berakhir sesuai keinginan ... hal pertama yang mungkin akan terjadi adalah ia pindah sekolah.
Tentunya itu juga merupakan sebuah solusi, tapi terlepas dari seluruh kontroversi dan perbuatan tidak menyenangkan dari orang-orang di sekelilingnya, Arrabele sudah jatuh cinta dengan SMA TRIVIA, ia masih ingin lulus dan menjadi bagian dari alumninya.
Tangannya menekan satu kontak khusus yang ia samarkan sebagai nama orang lain, begitu nomor itu ditekan, suara telepon yang berusaha menyambungkan segera terdengar.
[ Halo? ]
Orang di seberang sana akhirnya menjawab.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Hari ini ia telah membuat Shīna kesusahan, bahkan walaupun bukan ia yang merencanakan hal tersebut, namun jika masih ingin membuat hubungan yang baik dengan Shīna, setidaknya Arrabele harus menanyakan kabarnya, bukankah begitu?
[ Aku baik-baik aja kok. Apa ada yang kamu perluin? ]
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, tentunya pada jam seperti ini Shīna akan berpikir bahwa Arrabele yang menelepon itu dikarenakan keadaan darurat, jadi ia langsung menanyakan apa yang gadis tersebut butuhkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
FIGURAN
Ficção Adolescente🌹 FIGURAN blurb : Shīna Gayatri bukanlah tokoh utama. Dia, hanyalah seorang figuran ... Melihat tokoh utama wanita yang disiksa, melihat tokoh pria yang berjuang mati-matian untuk si cewek, juga melihat si Antagonis yang selalu membuat masalah. Di...
