Lengan wanita itu terkepal kuat. Rowena tak tahu bagaimana cara agar ia dapat mendeskripsikan perasaannya sekarang. Marah? Kecewa? Sedih? Tidak-tidak. Apa itu bahkan suatu hal yang bisa digambarkan hanya dengan kata-kata?
Panjang kaki wanita itu terbuka lebar, Rowena sekarang telah berada di depan pintu kamar putrinya. Degup jantung wanita itu berlaju lebih cepat, ia menarik nafas dalam-dalam.
Setelah mendengar kabar Sherly menerima perundungan kemarin, Rowena pikir itu lebih baik jika ia datang ke sekolah sendirian, menyelesaikan masalah. Sementara Sherly tetap tinggal di rumah untuk beristirahat. Jika memang putrinya mengalami luka fisik, maka tidak usah memaksakan diri. Rowena tidak tega. Ia akan melindungi Sherly bahkan tanpa membuat anak itu berbuat lebih banyak.
Pintu dibuka, pandangan wanita itu langsung menelisik sekitar.
Tapi siapa sangka semua cerita itu sejak awal merupakan suatu kebohongan?
Seorang gadis berambut coklat nampak menoleh dari atas ranjang. Setengah badannya ditutupi oleh selimut berbulu, Sherly sepertinya sedang menonton TV ditemani berbagai macam jenis camilan.
Rowena termenung melihat betapa nyamannya posisi putrinya. Di sisi lain, Sherly yang melihat kedatangan sang Mama memperlihatkan senyum sumringah. "Mama udah pulang?"
Sherly menyambut dengan senyuman hangat. Ia beranjak dari ranjang dan turun menghampiri Rowena.
"Mama gimana kata Miss Karin?"
Rowena masih memasang wajah yang kaku, pandangannya menatap dari atas sampai bawah rupa sang putri.
Sherly bingung, dilihatnya lebih dekat mata Rowena terlihat sangat sembab. "Mama kenap-,"
"Ayo duduk." Rowena masuk ke dalam kamar Sherly dan menarik kursi di meja belajarnya.
Gadis itu memiringkan kepala, merasa aneh, tapi toh ia masih tetap menuruti perkataan ibunya.
Mata coklat Rowena menyapu seluruh ruangan, lalu berhenti tepat di depan meja berwarna hitam di bawah TV. Kakinya melangkah, mengambil HP Sherly dan langsung mendatangi putrinya.
"Apa password-nya?"
"Kenapa?" Sherly bertanya tak paham.
"Karena saya minta agar kamu kasih tahu saya passwordnya."
Kedua kening gadis itu memperlihatkan lipatan, Sherly memandang getir, "Kenapa Mama malah pake kata 'saya'? Mama kan, Mama-nya Sherly?"
Rowena merasa panas dengan pertanyaan tersebut, wanita itu memejamkan mata selama beberapa detik, berusaha meredam luapan emosinya. Setelah matanya terbuka kembali, tatapannya jauh lebih fokus.
"Sherly masukin password HP-nya." Kali ini Rowena berkata dengan lebih banyak penekanan di setiap kata.
Sherly merasa ada sesuatu yang salah.
"Mama-,"
"Apa saya harus ngulangin sampe 3 kali?"
Sherly mengambil ponsel dari tangan sang Mama ragu-ragu, ia kemudian memasukkan digit sandi dan memberikannya kembali ke tangan Rowena.
"Ngeliat gimana dia masih berani mengadukan saya atas perundungan. Saya rasa Anda gak akan bisa dapet bukti chat dari sisi HP Sherly, karena dia pasti udah hapus semua bukti chatnya jaga-jaga kalau HP-nya diperiksa. Tapi saya yakin Anda masih bisa liat alamat IP dan informasi perangkat buat disamain sama bukti yang saya kasih."
Mengingat ucapan Shīna, Rowena langsung melihat informasi-informasi tersebut ... yang sialnya ... semuanya memang cocok. Lengan kanan wanita itu langsung bergetar sembari menyimpan kembali HP-nya ke atas meja.
KAMU SEDANG MEMBACA
FIGURAN
Fiksi Remaja🌹 FIGURAN blurb : Shīna Gayatri bukanlah tokoh utama. Dia, hanyalah seorang figuran ... Melihat tokoh utama wanita yang disiksa, melihat tokoh pria yang berjuang mati-matian untuk si cewek, juga melihat si Antagonis yang selalu membuat masalah. Di...
