64 | Kai Aryadhana

2K 295 30
                                        

Aku memandangi ponsel yang kini tengah kugenggam erat.

Satu nomor sudah kutekan beberapa saat yang lalu---nomor yang baru kudapat dari Yasha. Aku bertanya-tanya, apakah pemiliknya akan langsung mengangkat di percobaan pertama?

Pandangan mataku kembali tertuju pada nama yang tertera di atas layar. Sudah berapa lama sejak terakhir kali aku berbicara dengannya? Dipikir kembali kami bahkan tak sedekat itu. Jika memang harus dihitung, mungkin baru dua kali saja aku mengobrol dengan pria ini. Kalau nantinya panggilan ini benar-benar tersambung … apa yang sebaiknya kukatakan, ya?

'Hai?'

'Apa kabar?'

'Bagaimana dengan kuliahmu?'

Ah, tidak. Apa sebaiknya aku memperkenalkan diri terlebih dahulu?

Bukanlah suatu hal yang mengejutkan jika saja Aziel sampai lupa denganku dan namaku---kami benar-benar hanya kenalan sekilas.

[ Halo? ]

Di tengah aku yang sedang berpikir untuk salam pembuka, sang pemilik nomor langsung menyahut di seberang sana.

“Halo, ini Shīna,” balasku. “Aku adiknya Yasha, temen SMA senior, Kakak aku satu organisasi di dewan siswa. Apa senior masih inget?”

[ Ah, Shīna…! Iya, iya, inget. Apa kabar? ]

“Itu ...." Aku berpikir sebentar untuk menjawab pertanyaan Aziel, bertanya-tanya haruskah aku langsung ke intinya?

"Ekhemmm, kabar aku sayangnya kurang baik.”

Aku langsung berterus terang dengan keadaan yang sedang kumiliki.

[ Kurang baik? ]

Nada bicaranya berubah menjadi lebih khawatir.

[ Kenapa? Lo sakit?]

Aku tertegun untuk beberapa saat.

Haruskah aku langsung menceritakan segalanya? Meskipun begitu, apakah Aziel akan mengadu pada Yasha dengan semua yang kukatakan? Aku berbohong pada keluargaku sendiri---itu sudah sesuatu hal yang cukup buruk. Jika aku menceritakannya pada Aziel yang cukup dekat dengan Yasha, apakah suara yang ku gaungkan akan sampai terdengar ke telinga kakak?

Pandanganku melihat langit-langit. Berpikir tentang apa yang harus diperbuat.

Aziel yah?

Aziel?

Yasha? Ibu .... Sekolah?

Aziel?

Yasha?

Baiklah ... mari bertaruh!

“Aku kena sedikit pembullyan di sekolah.”

[ Pembullyan? ]

“Hn, sejujurnya aku nelpon senior pun karena aku butuh bantuan buat ngatasin masalah tersebut. Apa itu gapapa?”

[ Mungkin gak secara langsung, berhubung gue bahkan udah gak ada di Indonesia. Tapi masih ada beberapa staf dan adik kelas yang masih gue kenal di SMA TRIVIA. ]

Ia menjeda ucapannya, hembusan napas dapat kudengar.

[ Kita lihat apa yang lo butuhin, dan gue bakalan coba bantu sebanyak yang gue bisa. ]

Eh~?

Langsung menawarkan koneksi yang dipunya, yah?

Sungguh pria yang baik~

[ Jadi siapa yang ganggu lo? Gimana awal mulanya? Apa lo udah nyoba cari bantuan atau bikin laporan? ]

“Emnn, enggak juga sih. Orang yang ngeganggu aku ... dia sembunyi di belakang orang lain. Jadi aku rasa itu bukan pilihan yang bijak buat bikin laporan. Yang ada bisa-bisa malah aku semakin dipojokin di kelas karena bawa-bawa nama mereka. Itu bukan pembullyan secara langsung.”

FIGURANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang