Kematian.
Kematian merupakan suatu hal yang pasti akan datang untuk seluruh makhluk yang hidup.
Kau tidak bisa lari darinya.
Mau kau mempunyai banyak harta, atau kuasa ... yang namanya kematian akan selalu menunggumu.
Bahkan ….
Ya, bahkan ada orang yang mengatakan bahwa satu-satunya yang setara pada manusia hanyalah kematian. Kau tak bisa lari. Kau tak bisa bersembunyi. Itu akan terus menghantuimu. Itu sudah menjadi takdirmu. Mereka memegangmu dengan ribuan tangan hitam pekat lalu menyeretmu untuk tenggelam. Itu adalah kematian. Di mana jiwamu ditelan dan dimasukan ke dalam lubang kesunyian.
Netra pria itu melihat ke sekeliling, menemukan beberapa orang yang juga nampaknya sedang berziarah. Kakinya kemudian kembali melangkah.
Mati, ya?
Harus ia akui bahwa kematian juga pasti menunggunya suatu hari nanti. Tak ada seorang pun yang tahu kapan waktunya akan habis di dunia ini.
Meskipun begitu ... itu bukannya berarti bahwa ia terlalu memikirkannya. Masalah kematian … itu masalah nanti. Orang-orang terkadang senang melebih-lebihkan dan berkata bahwa kita hidup hanya sekali.
Tapi itu sama sekali tidak benar, baginya yang benar justru adalah kita hidup setiap hari, dan hanya mati sekali. Daripada memikirkan kematian, Ezra adalah tipe orang yang lebih berpikir bagaimana cara membuat kehidupan sehari-harinya lebih baik, sesuai kehendak dan keinginannya. Kematian itu hanya suatu hal di ujung jalan, yang kemungkinan besarnya baru akan muncul beberapa puluh tahun dari sekarang. Ia cukup yakin bahwa umurnya akan panjang.
Hitam manik itu menangkap seorang pria berdiri di dekat salah satu makam, kedua kaki jenjangnya lantas berlari menghampiri.
“Ver …!” ia menyapa, seolah memberi tahu kedatangannya pada orang di hadapan. Tapi tak ada jawaban. Pria itu hanya fokus menatap nama yang terukir, dengan sebuah buket bunga di tangannya.
Memahami bahwa suasana hati Vero sedang tidak baik, pria berambut hitam itu lantas mundur satu langkah, memberikan ruang. Pandangannya ikut menatap ke arah nama si pemilik makam.
Begitu, ternyata Vero … masih menyesalinya ya?
Ezra pikir yang ini hanya akan menjadi masalah selewat. Dulu pun dirinya sangat syok melihat kejadian itu di depan mata. Tapi jika sampai mengunjungi makam seperti ini? … ia tidak paham, memang apa bagusnya? Menyesal dan terus menyesal, hal seperti itu pada akhirnya hanya akan menyiksa diri. Kau tidak akan pernah bisa mengembalikan hidup seorang yang sudah mati. Jadi kenapa melakukan hal yang sia-sia? Lupakan saja. Dia sudah mati. Bagi Ezra, berziarah adalah salah satu aktivitas yang sangat membuang waktu.
“56 hari.” Vero bergumam pelan. “Dia nggak sadarin diri selama 56 hari, terus mati.” Matanya yang tersinari matahari memperlihatkan kilauan emasnya. Vero akhirnya melirik pada Ezra di sisinya. “Gue nggak mau hal ini terulang ke Axel.”
“Axel bakalan baik-baik aja.” Ezra mencoba menenangkan. “Dia anak yang tangguh, bukannya gitu?”
Vero ingin menyetujui, tapi rasanya lidahnya tak bisa digerakkan untuk mendukung pernyataan tersebut. Ia hanya diam, memandang sayu ke seseorang yang kini sudah terkubur enam kaki di bawah tanah.
Badan besar itu kemudian berjongkok lalu menaruh buket yang ia bawa di atas makam.
“Gue udah ketemu sama Shīna.”
Ezra mendelik, satu alisnya terangkat. “Oh ya?”
“Ya. Itu bukan suatu hal yang susah buat nyari alamatnya.” Anggukan kecil ia buat untuk dirinya sendiri. Matanya memandang gugup. “Gue nyuruh dia buat lari.”
KAMU SEDANG MEMBACA
FIGURAN
Roman d'amour🌹 FIGURAN blurb : Shīna Gayatri bukanlah tokoh utama. Dia, hanyalah seorang figuran ... Melihat tokoh utama wanita yang disiksa, melihat tokoh pria yang berjuang mati-matian untuk si cewek, juga melihat si Antagonis yang selalu membuat masalah. Di...
