66 | Dia Adikku!

1.6K 263 27
                                        


“Intinya adalah ... lo salah paham kalau ngira gue ngelakuin kecurangan terhadap lo. Ujian ulang yang harus lo lakuin murni keputusan dari semua orang,” Kai berucap dengan wajah yang sangat meyakinkan. “Dan lo juga salah paham kalau ngira gue ada keterkaitan sama apa yang Lia lakuin. Gue gak ngelakuin apa pun. Jadi semua tuduhan lo itu cuma sekadar asumsi gak berdasar.” Kai menyudahi pembicaraannya di sana.

Tangannya mengepal kuat pada kemudi mobil, sementara pandangannya masih tetap terarah ke sebuah rumah bercat putih. Ia kemudian mengangguk, keluar dari mobil, lalu mulai melangkah ke rumah yang ia tuju.

Latihannya sudah cukup sampai disini.

Umumnya jam masuk di SMA TRIVIA adalah pukul 9 pagi, dan sekarang ini arah waktu masih menunjukan pukul 8, pria itu sengaja berangkat lebih pagi karena hendak mengunjungi rumah seseorang.

Pandangannya tak gentar. Ia berjalan dengan penuh percaya diri. Begitu sampai di teras rumah, jari telunjuknya ia pakai untuk menekan bel rumah.

Suara ding-dong terdengar. Perlahan tapi pasti, ia juga dapat mendengar suara telapak kaki yang berjalan ke arahnya.

“Nyari siap-” omongan pemuda itu terhenti. Mereka bertatapan selama beberapa saat. Kening Yasha mengerut. “Ini bener-bener kunjungan yang enggak gue duga. Lo apa kabar?”

Kai kebingungan. Perasaan ia sudah benar. Sebelum datang kemari, ia telah mengecek alamatnya sampai lima kali dan memastikan bahwa ini memang rumah Shīna. Informasi yang ia dapatkan pun tak mungkin salah. Bagaimanapun, toh alamat inilah yang terdaftar di sekolah. Jadi kenapa Yasha yang ia temui?

“Gue baik.” Kai menjawab ramah. Bahkan walaupun ia salah rumah, yah setidaknya ini adalah rumah Yasha. Ia tidak begitu mengenal pria ini dengan baik, namun mereka pernah menghabiskan waktu satu tahun penuh bersama di dewan siswa. Jadi bisa dikatakan bahwa walaupun mereka tidak dekat, mereka berdua juga tidak asing.

“Ayo duduk dulu,” Yasha menawarkan Kai untuk masuk, tapi pria di hadapannya itu hanya menjawab dengan gelengan.

“Gak perlu, makasih banyak. Gue salah rumah.”

Bahkan walaupun mereka berdua saling kenal, prioritasnya saat ini adalah untuk menemui Shīna. Merupakan hal yang tidak perlu untuk melanjutkan perbincangan ini. Selain itu, ia memang tidak mempunyai urusan dengan Yasha. Jadi, ayo langsung pergi ke tempat lain setelah membersihkan kesalahpahaman tersebut.

“Salah rumah? Lo nyari alamat?”

“Ya, kurang lebih,” jawabnya. Kai merasa yakin bahwa ini adalah rumah yang dimaksud, dan memang komplek inilah tempatnya. Apa ia melewatkan sesuatu? Kai menatap Yasha lagi, “Apa di sekitar sini ada anak yang namanya Shīna?”

“Shīna?”

“Lo ada urusan apa sama dia?”

Urusan, ya?

Jika ditanya ada urusan apa, jujur saja, ia tidak begitu ingin menjawab. Lagipula, itu bukan urusan Yasha, kan?

“Cuma mau ngobrol,” Kai menjawab seadanya.

Yasha tidak begitu puas menerima jawaban tersebut. “Dia kena bully di sekolah, apa lo tahu?”

Mendengar pertanyaan tersebut, mata Kai sedikit terkejap. Ia sedikit tahu bahwa Shīna babak belur kemarin, tapi kesimpulan bahwa babak belur tersebut adalah hasil dari sebuah perundungan ... hasil seperti itu ... Kai tidak tahu sampai sejauh itu.

“Lo kenal Shīna, Kak?”

Yasha tertawa lirih, ada sedikit rasa sinis pada nada suaranya. “Dia adik gue.”

FIGURANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang