65 | Di titik persimpangan

1.6K 284 58
                                        

Tatapan gadis itu terasa kosong, tubuhnya kaku, Sherly bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, semuanya ... ya semua hal rasanya benar-benar sangat kacau.

Setelah ibunya mengusirnya kemarin, ia ditampung di rumah pamannya---Aris---yang masih merupakan keluarga. Sherly pikir setidaknya ia mempunyai tempat yang membuatnya merasa aman. Tapi dugaan tersebut salah. Setelah ibunya menelpon sang paman, ia bisa melihat bahwa Aris menjadi sedikit enggan. Rowena tentunya berbicara banyak hal, dan salah satunya mungkin adalah direstui atau tidaknya ia untuk ditampung di rumah keluarga.

Aris tahu seberapa besar penderitaan Rowena dahulu, bagaimanapun ia adalah adiknya. Dan mengetahui konfirmasi perilaku Sherly terhadap Shīna ... tak bisa bohong, Aris juga ikut merasa kecewa. Gadis itu justru malah tumbuh dan berperilaku seperti orang-orang yang selama ini ia benci. Belum lagi saat tahu bahwa sang putra kemungkinan besar melakukan hal yang sama, Sherly dan Malvin sama-sama dimarahi habis-habisan.

"Sialan." Sherly mengutuk, bibirnya bergetar.

Semuanya kacau. Ibunya mengusirnya. Dan walaupun untuk sekarang ia masih mempunyai tempat untuk tidur, nasibnya di tangan sang paman juga belum menentu. Jika Rowena sampai meminta Aris untuk mengusirnya, gadis itu pasti akan langsung diusir juga. Dengan kata lain, sekarang mungkin aman, apalagi dengan statusnya yang masih pelajar.

Tapi ketika sudah lulus nanti ... Sherly berani bertaruh ia pasti akan langsung diusir dan disuruh bekerja. Gadis itu bukannya tak punya otak. Ia juga bisa mengalisis pola. Mungkin nantinya ia akan disuruh hidup mandiri sebagai hukuman, Sherly tidak tahu. Tapi yang pasti pamannya tak mungkin menampungnya selamanya. Selalu ada batasan dalam kebaikan.

Ibunya menyuruhnya pergi, dan bahkan orang dewasa terakhir yang bisa ia mintai tolong sepertinya hanya bisa memberikan amnesti hingga ia lulus SMA. Selama ini Sherly belum pernah mencari uang sendiri, hidupnya selalu dilayani. Membayangkan bahwa ia harus memulai semuanya dari nol karena Rowena marah dan tidak mengakuinya, ditambah orang yang selama ini ia sayangi, ... dan cahaya hidupnya menjauhi dan bahkan menatapnya dengan perasaan jijik, itu menjadi suatu hal yang tidak dapat ditolong bahwa Sherly merasa putus asa. Jiwanya roboh. Sherly merasa bahwa ia dapat mati kapan saja.

Iris coklat itu terperangah begitu melihat sesosok pria yang selama ini ia kenal. Sherly berlari menghampiri, "Vero!" teriaknya.

Orang yang dipanggil menoleh. Gadis itu terhenti dengan napas yang tak karuan, "Shīna ... anak itu ngelaporiin gue."

"Dia ... dia ngefitnah gue dengan hal-hal yang bahkan nggak gue lakuin. Selain itu-" perkataan Sherly terhenti ketika orang yang ia ajak bicara justru malah melengos pergi.

Sherly kemudian kembali mengejar, kali ini lengan kanannya terarah memegangi Vero agar pria tersebut tak dapat lagi kabur dari pandangannya, "Lo bisa dengerin gue gak sih? Gue-"

"Apa yang perlu didengerin?"

"Gue diusir, Vero. Semua gara-gara Shīna." Sherly langsung mengadu akan nasibnya, jemarinya memegangi lengan besar sang pria erat. "Bukannya lo bilang kalau misalkan Shīna nggak dapet kemarin, kita bakalan jadwalin ulang dan ngasih pelajaran buat dia?"

Vero yang mendengar tuntutan seperti itu tak bisa berkata apa pun lagi selain mengeluarkan kekehan lirih.

Anak itu ....

Seriusan ingin meminta hal seperti ini padanya?

"Apa lo tahu, kalau misalkan temen gue ada yang sampai koma karena ngehadapin dia kemarin?"

Teman?

Hah?

Sherly terlihat bingung. Koma? Apa maksudnya?

FIGURANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang