Pantulan cahaya dari mata cokelat itu terlihat sangat bergelimang. Sherly tengah duduk di ujung tempat tidurnya. Ia baru saja mandi; seragam, rambut, dan tubuhnya benar-benar dibuat kotor oleh para bajingan tersebut. Rambutnya yang basah meneteskan banyak butiran air ke kasur, tapi Sherly nampaknya tak begitu peduli. Pandangannya kosong, hanya menatap diam ke luar jendela.
Sialan.
Sungguh, semua ini benar-benar sialan. Ia tak percaya hari ini dirinya benar-benar diperlakukan seperti sampah.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Pria bajingan itu ... tak pernah dalam bayangannya Sherly berpikir bahwa Vero akan membuatnya dalam situasi seperti ini.
Tangannya mengepal kuat.
Setan. Itu hanyalah ucapan. Apa yang ia katakan tentang Axel hanyalah ucapan, bahkan jika Sherly salah bicara, haruskah pria itu sampai melakukan hal seperti ini padanya? Apa itu bahkan masuk akal?
Hembusan napas lesu dikeluarkan. Kakinya yang tadi berdarah-darah masih terasa nyeri meski telah dibalut oleh perban putih sang pengaman. Sherly beranjak dari ujung kasur guna menggantungkan kembali handuk ke belakang pintu.
Tokk … tokk … tokkk!
Ketukan terdengar. Gadis itu mendelik dan langsung membuka pintu cokelat pelan. Malvin nampak berdiri di sana, kedua tangannya sibuk memegangi nampan dengan secangkir teh susu di atas.
“Lo udah baikan?” tanyanya.
Sherly hanya mendegus. Pintu itu ia buka lebar-lebar, mempersilakan sang sepupu untuk masuk. Tubuhnya kembali ke tempat tidur dan bersandar dengan malas.
“Malvin … apa menurut lo Vero beneran bisa ngelakuin sesuatu tentang Mama?”
Si pria menyimpan nampan yang dibawanya ke atas nakas. Pintu cokelat itu kembali ia tutup sebelum ikut duduk berdekatan dengan Sherly. “Entahlah, gak ada yang tahu.”
“Gue gak bisa terus-terusan di posisi kayak gini. Satu hari aja rasanya bikin gue bener-bener pengen mati!” protesnya.
Malvin termenung untuk sesaat, memandangi pahatan cantik di depannya. “Ya, Vero udah bener-bener keterlaluan. Lo gak bersalah sedikit pun. Kita harus cari cara buat bales dia secepatnya.”
“Apa kita bisa? Gue takut kalau misalkan dia bener-bener punya bukti yang bakal ngeberatin gue. Masalah ulangan aja … kalau sampai hal kayak gitu bocor, gue bakalan bener-bener kesusahan.” Kedua manik cokelat itu berkelip. “Malvin, apa kita bisa coba sabotase dan hack HP dia? Kita cari tahu bukti apa aja yang dia punya. Dan bahkan kalau bisa, kita cari tahu juga apa rahasia Vero dari HP-nya. Kalau misalkan kita hoki dan dapet kelemahannya, kita bisa balas dendam.”
“Itu rencana yang cukup bagus.”
“Ya, kan?!” Sherly berseru riang saat sang lawan bicara memvalidasi ide yang telah dibuat. Kedua tangannya mengguncang-guncang bahu Malvin. “Lo cari orang yang ahli IT dong. Lo ada kenalan gak? Dulu kan lo pernah bilang kalau—”
Mata pria itu tak fokus lagi pada ucapan si gadis. Maniknya hanya menatap redup bibir yang terus bergerak itu, seolah meminta untuk disentuh.
Kenapa?
Rasanya gadis ini berisik sekali. Keangkuhan yang tak perlu. Ucapannya yang kadang tak tahu diri---lucu---Sherly sangat lucu dan menghibur. Seolah meminta ditelan. Seolah meminta untuk ditaklukkan. Imajinasi bahwa dunia ada di dalam genggamannya, hal seperti itu .... seolah melihat orang terjebak dalam fatamorgana. Bibir itu menyungging.
“Gue udah cari cara yang paling efis—!!”
Kedua manik cokelat Sherly membelalak ketika bibir mereka bersentuhan.
KAMU SEDANG MEMBACA
FIGURAN
Teen Fiction🌹 FIGURAN blurb : Shīna Gayatri bukanlah tokoh utama. Dia, hanyalah seorang figuran ... Melihat tokoh utama wanita yang disiksa, melihat tokoh pria yang berjuang mati-matian untuk si cewek, juga melihat si Antagonis yang selalu membuat masalah. Di...
