74 | After Taste

1.7K 262 53
                                        

Setelah mereka melalui lebih dari satu jam percakapan yang intens, Shīna kemudian mengambil obat-obatan dari kresek yang telah disiapkan, mencekokkan seluruh zat kimia tersebut ke dalam mulut Ezra, lalu dengan santainya berkata, “Itu cuma obat pereda nyeri kok, kamu gak aku racunin.”

Ezra tentu tak percaya. Ia meronta dan menutup mulut, tapi sama seperti kejadian-kejadian sebelumnya, si pria dalam kondisi tak mampu untuk melawan, jadi suka tak suka, pada akhirnya butiran obat-obatan itu tetap tertelan.

Setelah merasa puas dengan semua yang harus dilakukan, ditambah dengan informasi yang kini dikantungi, Shīna akhirnya melepaskan ikatan Ezra pada kursi dan mengembalikan baju seragam sang pria. Gadis itu mundur beberapa langkah, berpaling, dan mulai berjongkok mengambil sampah makanan yang ia buat. Memberikan Ezra sedikit privasi untuk kembali mengenakan pakaian yang ia punya.

Pria itu masih dalam kondisi tubuh yang lemah. Meskipun begitu, setelah melalui satu jam percakapan dengan Shīna, secara natural tubuh Ezra juga masuk dalam fase pendinginan, membuatnya mempunyai sedikit tenaga untuk melakukan sesuatu. Jarum-jarum juga telah dicabut dari tubuhnya, membuat titik sakit itu perlahan hilang dengan sendirinya oleh waktu.

Setelah berpakaian, Ezra tertunduk melihat ke arah barang-barang yang telah Shīna kembalikan, termasuk jaket dan tasnya---bagaimanapun pria itu diculik sehabis pulang sekolah.

Jaket itu ia pakai, seketika manik kelamnya menajam begitu memahami betapa bodoh sang gadis ini. Lengan itu terarah meraih sebuah benda ke dalam genggamannya, yaitu pisau lipat.

Persetan jika Shīna mempunyai stun gun dan fakta bahwa kondisi tubuhnya masih lemah, dengan adanya benda tajam tersebut ... gadis itu tinggal ia tusuk sampai mati dan semuanya akan berakhir. Tak akan ada yang tahu. Ini masih jauh dari pemukiman, maka ia tinggal menggali kuburan dan- ah, tidak! Menyiksa Shīna balik terdengar lebih menyenangkan.

Gadis itu akan ia siksa terlebih dahulu---balas dendam---baru setelah Ezra puas, maka Shīna akan ia bunuh.

Di ujung ruangan, si figur yang diperhatikan justru masih sibuk memunguti sampah, membelakanginya. Shīna memilah mana sampah yang merupakan daur ulang dan mana yang harus dibuang sebagai sampah organik. Ia memunguti dan memasukannya ke dalam kantung plastik yang berbeda.

Ezra berjalan pelan dengan memegang pisau yang telah terhunus di saku. Lalu, ketika jarak mereka hanya tinggal satu langkah, suara si gadis justru menginterupsi, “Oh aku lupa bilang! Kamu tahu ... bahkan walaupun aku mati, orang-orang bakalan tetap tahu kalau kamu yang bikin Axel dalam kondisi koma.” Shīna berkata bahkan tanpa menoleh ke arah belakang.

Ezra menenggelamkan kembali pisaunya jauh ke dalam saku dan berpura-pura polos. “Maksud lo apa?”

“Soalnya waktu kejadiannya, aku gak cuma nyaksiin, tapi ngambil video juga.” Mata dan jemari gadis itu kemudian sibuk untuk mengemas barang-barang lain.

Ezra tertegun mencerna ucapan Shīna. Ada sebuah rasa keterkejutan yang tertinggal.

“Kalau udah punya videonya, terus buat apa lo nyulik gue kayak gini? Lo cuma perlu tunjukin video itu ke temen-temen gue, dan semua masalahnya bakalan beres. Enggak perlu repot-repot maksa gue bikin pengakuan.”

Barang terakhir Shīna masukkan ke dalam kantung kresek, gadis itu lantas berbalik.

“Kamu salah paham,” ucapnya. “Kamu salah sangka kalau dibawanya kamu ke sini untuk dipaksa bikin pengakuan. Bahkan sampai sekarang pun aku gak ngambil video apa pun dari kamu, kan?”

Wajah itu kaku tak dapat lagi bereaksi. Ezra hanya memandang gadis di depannya lekat dan menggeleng. “Lo gak punya videonya. Bahkan walaupun punya ... videonya bakalan gelap. Itu cuma omong kosong.” Genggamannya pada pisau mengerat, Shīna memandang tenang.

FIGURANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang