76 | Di jembatan

1.4K 241 60
                                        

"Mie ayam satu, es jeruknya dua, gorengan tujuh, dan sausnya dipisah. Terus gue juga pengen burger tapi isiannya ayam, bukan beef, gak pake sambel tomat dan juga—"

"Terus aja lo ngomong!" Sherly menyentak. "Pesen semua menu kayak orang miskin yang gak pernah jajan. Lo pikir gue ngambil pesenan lo doang?"

Si gadis nampak terkejut. "Lah, kan itu emang tugas lo."

Decakan sinis terdengar. "Heh! Otak lo dipake dong, emangnya—"

"Tulis aja Sherly~"

Belum selesai gadis itu berbicara, Vero datang dari belakangnya bak hantu. Sherly menoleh, wajah cantiknya melukiskan kekesalan yang kentara.

"Gue udah nerima banyak pesenan, dan dia—"

"Kan itu emang tugas lo," potong si cowok, Vero kemudian berpaling ke si pemegang buku menu, "Siapa namanya?"

"La- laura."

"Nah, iya. Ucapan Laura bener lho. Lagian kan emang kita yang nawarin mereka. Jadi bener dong itu tugas kita?"

Sherly hampir tertawa. "Tugas kita? Maksud lo tugas gue?"

"Itu lo tahu. Tugas gue kan yang bayar-bayar. Atau mau lo aja yang bayarin semua makanan mereka?"

Kekehan lirih terdengar.

Sejak awal membayar itu mudah!

"Oke, gue aja yang—" baru Sherly ingin bertukar peran dengan Vero, kesadaran tentang statusnya terlintas di pikiran.

Tidak. Itu terasa tak benar. Dengan kondisinya sekarang yang telah diusir oleh sang mama, lalu Om Aris yang tak memberikan uang jajan sebanyak Rowena, membayar makan siang seluruh siswa di kelas tentunya merupakan perbuatan yang bodoh. Sherly tak mempunyai uang sebanyak itu sekarang.

"Kenapa lo diem?" Vero memprovokasi.

Si gadis hanya mendengus kesal, lalu kemudian berlalu pergi, mulai memesankan makanan teman sekelasnya satu per satu.

Di sisi lain, Malvin yang sejak tadi telah menyaksikan perseteruan mereka dari jauh, akhirnya datang mendekat dan menyuarakan protesnya. "Apa lo gak berlebihan?"

Vero mengangkat bahu. "Lo selalu bisa ikut bantuin dia jadi pelayan kalau lo mau, gue gak akan ngelarang." Setelah mengatakan hal tersebut, Vero pergi ke arah lain.

Malvin menatap punggung yang semakin mengecil itu dengan amarah. "Bajingan," gumamnya.

Ia kemudian berbalik pergi ke arah Sherly dan mulai membantunya.

.

.

[ Melodi suara ]

.

.

Pertengkaran kecil mereka dilakukan di ruangan terbuka, jadi jelas pemandangan itu juga dilihat oleh banyak orang---salah satunya adalah sekumpulan anak yang berasal dari kelas yang sama.

Aurora---gadis dengan jepit rambut berbentuk bunga itu tengah menghisap susu kotaknya dengan nikmat. "Mereka lagi musuhan ya, gak sih?" Ia menatap ke arah teman-temannya yang lain. "Mereka pecah kongsi," lanjutnya lagi.

Dafa memasukkan sesendok es campur ke mulut, lalu mengangguk mantap. "Ya, gue rasa gitu. Seengaknya kita jadi dapet makanan gratis." Ujung matanya melihat ke arah Sherly, sebelum kembali berbalik ke teman-temannya dan memperlihatkan sunggingan di bibir, "dan juga pelayan gratis."

FIGURANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang