72 | Semua adil dalam cinta dan peperangan

2.4K 307 84
                                        

“Aku mau minta sedikit bantuan.”

“Hn? Bantuan apa emang?” Tanpa banyak berpikir, Fadli segera bertanya balik.

Aku tersenyum. “Itu ... apa kamu kenal preman sekitar sini?”

“Prem—, Hah?! Kenapa tiba-tiba jadi preman?!”

Pandanganku menurun, “Gak apa-apa. Aku cuma ngerasa lebih tenang aja kalau ada yang jaga, aku takut kalau mereka balas dendam." Kepalaku kemudian kugelengkan cepat, "tapi kamu tenang aja, itu gak kayak aku bakalan ngelakuin hal-hal buruk kok. Aku cuma butuh pengawalan.” Jemariku terarah menggenggam tangannya. “Jadi, apa kamu punya kenalan?”

.

[ Irama ]
.

Dentuman demi dentuman terus kudengar.

Tak melakukan hal buruk, eh? Sungguh kebohongan yang buruk.

Jemariku masih sibuk mengusap-usap layar sementara suara tumbukan terjadi. Tentunya itu bukanlah suatu hal yang mempunyai irama seperti drum atau rebana. Bunyinya acak---tak enak didengar---bunyi di mana sebuah benda tumpul menabrak daging. Bunyi ketika seseorang dipukuli, bunyinya—

Pandanganku melihat ke arah sesosok pria yang kini jatuh ke tanah merasa kesakitan.

Itu adalah sebuah bunyi kekerasan.

“Itu udah cukup.” Aku memberikan instruksi. Figur besar itu kemudian berjalan mundur beberapa langkah.

Mataku kembali tertuju kepada banyak kartu dan juga ponsel di atas tanah. Itu bukan milikku, tentu saja. Semua barang ini adalah milik mereka semua yang tadi kusita. Aku berpangku tangan menopang dagu, berpikir benda mana lagi yang sebaiknya kuperiksa, sampai akhirnya memutuskan untuk mengangkat sebuah kartu berwarna hitam.

"Eh?"

Itu adalah sebuah kartu pelajar. Dan dari informasi yang tertulis di sini, nampaknya yang ini milik laki-laki bernama Harly.

“Lascrea High School?” Aku bergumam sendiri membaca tulisan di kartu.

Sebagai anak yang bahkan belum satu tahun tinggal di lingkungan ini, tentunya nama sekolah yang tertera bukanlah suatu hal yang begitu familiar di telinga. Tapi satu hal yang pasti, sepertinya ini sekolah yang baik. Setelah kucek satu per satu, enam orang ini ternyata berasal dari tiga sekolah yang berbeda. Tapi meski di antara tiga sekolah tersebut, kartu pelajar anak ini adalah yang paling bagus. Ujung jariku terasa dingin ketika menyentuhnya, warnanya hitam dengan guratan-guratan emas, dilihat dari materialnya sudah jelas bahwa ini terbuat dari metal.

“Wahhhh~” Aku bergumam terkesan setelah membaca lebih lanjut.

Lebih bagus lagi ... kartu pelajar yang ini juga merupakan sebuah kartu ATM dan debit.

SMA TRIVIA juga termasuk ke dalam sekolah bergengsi di lingkungan ini, tapi kami masih menggunakan kartu pelajar plastik, bukan metal.

Aku mengambil ponselku dan memfoto kartu pelajar milik Harly.

Sejauh ini ... kartu pelajar Harly adalah yang paling bagus dan mewah yang pernah kulihat. Bukan hanya sebagai bukti identitas, tapi juga bisa digunakan untuk bertransaksi maupun sebagai kartu ATM. Tak bisa bohong, tak hanya terpukau, tapi aku juga mulai merasa iri.

Lascrea, yah?

Jika suatu hari aku punya anak, mungkin aku akan menyekolahkannya di sana.

Aku memandang ke arah anak bernama Harly.

FIGURANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang