Orang bilang, cinta membuatmu bodoh.
Itu seakan narkoba yang terus menggerus nalar berpikir, membakar, dan menyisakanmu menjadi sisa-sisa abu. Manusia menjadi mabuk.
Hanya dengan kehadiran seseorang, ia akan merasa bahwa semesta miliknya, rela membakar bangsa-bangsa untuk mempertahankannya.
Kau memberikan segalanya. Menghabisi dirimu sendiri. Menjual jiwa. Hidup bagai budak. Tapi itu tak penting. Yang terpenting adalah senyuman sang tercinta saat merasa bahagia. Terasa nikmat ... karena memang itulah candunya.
Lia melihat dirinya sendiri di cermin. Bajunya kotor. Itu bukan yang pertama kalinya. Atau mungkin karena saking terbiasanya, gadis itu bahkan sudah mengembangkan kemampuan untuk membersihkan pakaian secara efektif.
Jemari-jemari panjang itu mencuci kemeja putih yang ia punya di wastafel, pandangannya meneduh.
Cinta, ya?
Benar, apa ini yang namanya cinta?
Hal ini benar-benar bodoh untuk dilakukan. Tapi karena sesuatu hal bernama cinta ....
Gadis itu tanpa sadar menggigit ujung bawah bibirnya sendiri. Degupan jantungnya bertambah kencang. Lia berusaha untuk menahan rasa sesak yang ada di dadanya. Ia menengadah ke atas, berusaha agar tak ada lagi cairan mata lain yang meluncur di pipinya.
Terkadang … Lia berharap bahwa ia adalah seorang psikopat.
Ia berharap untuk tidak pernah memiliki perasaan. Ia ingin menjadi orang egois yang mati rasa.
Terkadang .…
Gadis itu terpejam. Bendungan yang ia buat di kelopak matanya sontak jebol, deras air bening itu akhirnya mengalir dari kedua matanya.
“Ibu ....” Gadis itu berkata lirih.
Sampai kapan ini harus berlangsung?
“Aku capek.”
Semuanya terasa seperti neraka.
“Aku cinta Ibu.”
.
.
[ Lia ]
.
.
Sejak kecil, Lia sudah sering melihat sang ibu membawa banyak laki-laki datang ke rumah. Tapi tentunya ... dia tidak begitu mengerti. Yang ia tahu hanyalah bahwa ibunya mempunyai pekerjaan.
Ketika para pria hidung belang itu dibawa, Melisa hanya akan mengatakan hal-hal seperti: Ibu sedang ada tamu, jangan mengganggu. Setelah ini ayo pergi ke restoran dan makan yang enak!
Lia tidak membencinya.
Ibunya memanjakannya, dan terkadang ... para pengunjung yang datang pun memberinya makanan lezat, atau mainan baru untuk Lia mainkan.
Lia tidak membencinya.
Tidak.
Lia bahkan tidak paham apa maksudnya.
Masuk ke sekolah dasar, otaknya mulai berkembang. Usianya 11 tahun, ia mulai paham apa yang terjadi. Kemampuan kognitifnya mulai terlatih untuk membuatnya berpikir. Sekarang Lia bisa tahu bahwa para tetangga membicarakan hal buruk mengenai ia dan ibunya.
Lia sakit hati.
Tak ayal, mereka berpindah-pindah kontrakan selama beberapa bulan sekali.
Rumor atau gosip jahat itu tak apa. Mungkin itu memang sebuah hukuman yang pantas mereka terima. Tapi ada kalanya situasi berkembang ke arah kekerasan. Kejadian paling buruk yang ia alami adalah ketika para warga beramai-ramai mendobrak rumahnya dan meminta ibunya untuk angkat kaki.
KAMU SEDANG MEMBACA
FIGURAN
Fiksi Remaja🌹 FIGURAN blurb : Shīna Gayatri bukanlah tokoh utama. Dia, hanyalah seorang figuran ... Melihat tokoh utama wanita yang disiksa, melihat tokoh pria yang berjuang mati-matian untuk si cewek, juga melihat si Antagonis yang selalu membuat masalah. Di...
