70 | BPJS

1.4K 201 16
                                        

SMA Trivia mempunyai jam masuk tetap, yaitu pukul 9 pagi, atau jika memang ada kegiatan dan mata pelajaran khusus, maka mereka akan masuk pukul 8. Intinya adalah, itu selalu pagi. Suatu hal yang sangat disayangkan, karena petugas pemerintahan juga mempunyai jam masuk dan pulang yang sama.

Lia tengah memandang bangunan pemerintahan itu dengan penuh harapan, hubungannya dengan Kai bukan lagi suatu hal yang dapat ia perjuangkan. Pria itu batu, dan Lia paham bahwa akan semakin menyakitkan baginya jika sampai harus memaksa, karena meskipun hubungan pacaran mereka tak seperti orang pada umumnya, tapi itu tetaplah fakta bawa Lia-lah yang paling mengenal dan diizinkan paling dekat dengan Kai.

Dan memahami watak pria tersebut ... Lia tahu betul bahwa ia yang terus mengemis pasti hanya akan membuat ego Kai lebih besar, sama halnya dengan kasus dimana Queenzie dan gadis-gadis lain yang mencoba mengejarnya. Semakin mencoba untuk meraih gemilang bintang, semakin kau sadar bahwa ia hanya mempermainkan dirimu---Memandangmu rendah, menilai kau hanya sebatas manusia yang terlalu dangkal dan tak layak untuk meraihnya.

Bi Ratih menyuruhnya untuk membuat BPJS, mungkin inilah jawaban yang seharusnya ia pikirkan sejak dulu.

Lia ataupun Melisa tak pernah terpikirkan oleh hal yang seperti ini. Melisa bukan masyarakat sini, sejak kecil pun ... ia dan ibunya sering pindah-pindah tempat. Ibunya bilang mereka berasal dari pelosok yang cukup jauh. Melisa tak mempunyai KTP. Bahkan Lia ... satu-satunya alasan kenapa Lia bisa bersekolah dengan administrasi yang lengkap adalah karena gadis itu didaftarkan ke Kartu Keluarga tetangganya dahulu.

Melisa bilang itu lebih mudah. Karena semakin memaksakan data diri yang sebenarnya ... maka mereka hanya akan semakin capek hati saja. Ibu dan ayahnya dahulu hanya menikah secara adat, bahkan bukan pernikahan yang dicatat oleh negara.

Hidup dalam bayangan, tidak terdeteksi identitasnya. Begitulah bagaimana Melisa selama ini menjalani hidup.

Tirai legam gadis itu bergoyang ketika kedua kakinya bergantian melangkah. Lia mengantri, lalu ketika suara wanita itu menyebut nomor antriannya, Lia maju dengan sigap.

“Ada yang bisa dibantu?” si penanya masih sibuk pada layar monitornya.

Lia tersenyum gugup, nadanya pelan. “Itu ... saya mau bikin BPJS.”

“BPJS? Daftar BPJS bisa pakai aplikasi, jadi—”

“Orang tua saya.” Lia menyela. “Orang tua saya gak punya KTP.”

Ketikan jari-jari di keyboard itu terhenti, si petugas wanita mengalihkan atensinya pada Lia, tatapannya datar. “Ke mana KTP-nya?”

Lia menggeleng. “Saya gak yakin. Mungkin hilang. Udah saya tanyain sama Ibu, tapi dia cuma bilang udah lama gak ada.”

Kening si petugas berkerut. “Ibu? BPJS-nya buat ibunya?”

“Ya. Ibu saya sakit, dan saya agak kesulitan buat biayanya. Kalau bisa, saya juga mau buat surat keterangan tidak mampu.”

"Kalau gitu pake KK aja. KK-nya dibawa?"

Lia tersenyum pahit, agak malu untuk mengatakannya, "KK juga gak ada. Hilang."

"KK dan KTP dua-duanya hilang?"

Lia terdiam, ia memberanikan diri mengangguk pelan. Sejujurnya ia tak yakin bahwa ibunya bahkan punya KK sendiri. Jika kedua orang tuanya hanya menikah secara adat bukankah itu berarti bahwa KK milik Melisa belum dipecah dari KK keluarganya yang lama?

Anggukan balasan Lia lihat, wanita di hadapannya itu kini kembali pada layar monitor, dan membolak-balik kertas. Sepertinya ia masih mempunyai pekerjaan terlepas dari pembicaraan yang dirinya lakukan sekarang.

FIGURANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang