71 | Game start pt.2!

1.9K 285 69
                                        

.

.

[ Aliansi ]

.

.

“Sampai kapan kita harus nunggu anak itu? Kenapa kita gak hajar aja satu orang dari SMA TRIVIA buat nanyain alamat rumahnya?” Diki memulai pembicaraan di tengah keheningan yang melanda.

“Sumpah gue juga males nungguin dia hampir tiap hari.” Salah satu temannya ikut meladeni.

Sekarang ini mereka tengah menikmati hidangan dari Coffeeshop di depan sekolah mereka. Totalnya sekitar 6 orang, entah sudah yang ke berapa kali mereka datang kemari karena lokasi ini dijadikan titik kumpul untuk masalah Shīna.

“Good luck buat nge-gacha siswa yang tahu rumah Shīna. Lagian bukannya kalau ketahuan Vero bakalan berabe. Dia bilang dia masih mikirin jalan keluarnya, kan?” Ren memberikan opininya, kepalanya ia taruh di atas meja.

“Yah makanya tiap kesana kita ngumpet agak jauhan, gak pas di gerbangnya banget. Biar gak ketahuan!”

Orsa menggebrak meja, kesal. Ia menaruh ponselnya dengan kasar begitu kalimat ‘you lose’ terpampang di atas layar. “Sialan, gue gak paham kenapa kita harus sembunyi-sembunyi dari dia? Axel itu kan masih temennya dia juga, jadi harusnya kita semua punya tujuan yang sama, kan? Kenapa kita malah—”

“Ya karena dia bilang mau dipikirin dulu.”

“Emangnya kita harus nurut?” Orsa langsung membalas. “Sialan, emangnya harus banget kita nurut ucapan dia??"

Harly menghembuskan napas kasar. “Itu bakalan lebih baik kalau kita gak ngejadiin Vero musuh.”

“Gak mungkin juga dia jadi musuh. Ya kali kita punya tujuan yang sama, tapi malah jadi musuhan.”

“Vero punya logikanya sendiri. Udah gitu sejak dulu. Gak ada yang tahu apa yang dia pikirin.”

“Emangnya kita gak punya logika sendiri?” Orsa kembali mencerca.

Harly mendesah dalam. Hampir satu tahun mereka ada di komunitas yang sama dengan Vero, tidakkah teman-temannya yang lain belajar tentang bagaimana pengaruh bekerja?

“Kata Ezra, kita harus tetep ngejaga image kita tetep baik di hadapan dia. Karena opininya emang sepenting itu." Harly menjelaskan.

Anak-anak lain yang mendengar kalimat tersebut mau tak mau mulai membuka telinga, guna memahami dengan lebih baik. Ucapan itu kembali berlanjut, “Sekarang dia ada di pihak kita. Gue rasa itu cukup jelas, tapi tergantung kondisi, dan gimana pembelaan dari tuh cewek. Semuanya bisa aja berubah. Apalagi kalau kita kelihatan bersikap agresif di hadapan dia, dia bisa aja balik belain tuh cewek karena kasihan.”

Diki tertawa, “Kasihan?” Keningnya berkerut melukiskan rasa ironi. “Apanya yang perlu dikasihanin dari tuh cewek?"

Hembusan napas kasar kembali pria itu keluarkan, ia memijat batang hidungnya sendiri. “Gue paham apa maksud lo. Tapi yang gue maksud itu opini Vero tentang keadaan yang ada. Kalau cewek itu terluka sama banyaknya kayak kita, emangnya lo pikir dia bakalan biarin kita balas dendam?”

Ren mengambil kepalanya dari atas meja. “Emangnya dia terluka?”

Tatapan semua orang kini terfokus pada satu orang. Harly mengangkat bahu, “Kata Ezra sih gitu, Axel gak mungkin kalah tanpa perlawanan, kan?"

Kekehan sinis terdengar dari arah Leon, "Emangnya dia kayak kalian semua yang sekali tebas langsung pingsan?” Pria itu bicara tanpa menggunakan kontak mata, tata kramanya masih fokus pada hal lain. "Cupu," lanjutnya lagi.

FIGURANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang