35. Tengah malam

963 147 17
                                        


Aku berlari untuk  menyesuaikan langkahku dengan Izekiel yang sudah jauh dariku. Beberapa kali aku memanggilnya dia tak menoleh bahkan hanya menjawab dengan helaan nafas saja. Bagaimana bisa aku memahaminya saat ini sedangkan dia tidak memberikan celah sedikitpun terhadapku yang tidak tau apapun?
Apa dia marah karena aku pergi menemui Athanasia tadi? Apa ini membuatnya ribet, tapi kan kalau begitu dia bisa saja mengatakannya. Kenapa harus diam coba?

“ Izekiel, dengarkan aku dulu. Kenapa kau menjadi kesal begitu?” Aku terus menanyainya disela berlari kecilku. Langkahnya begitu lebar membuatku tidak bisa menyesuaikannya. Aku juga tengah pakai gaun.

“ Izekiel... Tidak bisakah kita berjalan pelan?” Ujarku lagi tetapi tetap tidak didengarkan hingga akhirnya kami sampai di kereta kuda. Nafasku terasa sesak dan sangat butuh istirahat sekarang. Apa-apaan ini? apa aku berolahraga malam? Aku begitu capek bahkan kaki ini serasa berteriak keras memakiku.

“ Izekiel, kenapa kau tidak mendengarkanku!!” Aku kembali berujar padanya ketika dia hendak menaiki kereta kuda. Selangkah lagi dia memasuki keretanya dan tidak melihatku, Ya sudah. Akan aku akhiri pembicaraanku dan tidak akan menyapamu lagi.

Dia menoleh dan melihat, namun dia tidak membuka sedikitpun mulutnya. Tatapannya datar dan menyakitkan. Dari kecil aku menyusahkan dan mempermainkannya baru kali ini aku melihat dia begitu marah dan kesal. Bahkan sepertinya dia melempar itu bukan untukku, atau dia bukan orang yang aku kenal.

“ Hahh.. Kenapa kau tidak menjawab perkaaanku? Kau tau aku kelelahan karena mengikutimu! “ Ujarku lagi. ini menyebalkan kau tau.

“ Aku tidak memintamu untuk mengikutiku..”




SHIRRR....

Sesuatu terasa menyapa pundakku. Apa ini? aku seketika merinding mendengar perkataan Izekiel barusan. Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia begitu dingin terhadapku? Apa yang telah aku lakukan?

“ A-Apa maksudmu? Kenapa..Kenapa kau bicara begitu Izekiel?” Aku tidak salah dengar kan, ini memang perkataan Izekiel kan.

“ Zenith, sebaiknya kau pulang. Ini sudah larut dan akan berbahaya untukmu jika terlalu lama disini” Balas Izekiel lagi. dia memang mengkhawatirkanku tetapi nada suaranya sangat dingin. Bagaimana aku bisa menetralkan suasana ini lagi?

“ Katakan padaku, apa maksudmu tadi? Kau-Kau yang menyuruhku turun kan.”

“ Zenith, kusir memiliki pekerjaan yang banyak jadi jangan menunda lagi.”

Apaan itu? dia mengalihkan pembicaraan sekarang? Dari samping aku mendengar Keito memanggilku dan terlihat berjalan kearah kami. Sepertinya dia juga akan pergi mengantarku pulang sekarang. Tapi entahlah jika dia masih mau disini.

“ Aku tidak akan pulang... aku masih ingin disini.!!” Secepatnya aku merangkul kembali tangan Keito yang saat ini berdiri disampingku. Jika memang sekiranya mereka menganggapku sedang memanfaatkan Keito untuk situasiku itu benar. Aku salah dalam hal ini tapi aku tidak ingin bergabung dengan kalian para keluarga Alphaeus.,

“ Nona apa yang terjadi? Anda harus pulang.”

Dari samping aku mendengar Keito berujar pelan untuk mengajakku pulang. Tapi sekarang aku tidak mau. Beralih melirik mata Izekiel yang sudah kelam karena tertutup atap kereta aku memalingkan wajahku kepundak Keito dan mengajaknya menjauh dari kereta Alphaeus. Hanya saja aku dapat merasakan tanganku dilepas paksa olehnya dan berdiri didepanku.

“ Saya tidak tau apa yang terjadi sekarang, tapi apa benar anda tidak ingin pulang?” Bisik Keito pelan terhadapku. Aku hanya mengangguk kecil dan diam tanpa melihat kereta Alphaeus.

LADY MAGRITHA, ( Suddenly i Became a Princess, Chimera)  TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang