19. Haruskah

1.3K 213 33
                                        

Zenith yang awalnya sempat ragu untuk kembali memulai pembicaraan denga laki-laki didepannya terus meemberanikan diri untuk mendekat. Bagaimana tidak, setelah apa yang dilakukannya di kota Wilson kemarin tentu akan membuat reputasinya buruk dimata Anak yang merupakan kebangsawanan sana terlebih lagi...

" Aku harus minta maaf."

Zenith memberanikan diri menghampiri Keito yang sepertinya sudah selesai latihan pedang. Dia harus minta maaf, minta maaf karna telah memukul laki-laki itu di kota Wilson. Tapi apakah laki-laki di depan sana mau menerima permintaan maafnya? Apa nanti dia bakalan ditolak mentah-mentah?.
Dengan membulatkan hati, Zenith mulai melakangkah menuju Keito yang berdiri mematung di dekat pancuran air.

" A-Apa yang kau lakukan?" Bukannya langsung minta maaf, mZenith malah melenceng menanyakan kegiatan. Memang pada dasarnya Zenith bukanlah tipe orang yang akan mengaku bersalah.

" Kau suka pedang?" Tanya Zenith lagi

" Tentu saja saya suka, keluarga kami adalah keluarga berpedang! Paman-pamanku semuanya ahli pedang dan menjadi Kstaria, bahkan satu pamanku sekaran menjadi pelindung Raja. Aku ingin..."

Zenith seketika tertegun, entah dibagian mananya yang salah, entah telinganya yang salah ata memang benar yang dikatakan anak lelaki di depannya, Zenith menatap lekat Keito yang sudah sedikit tidak nyaman. Tak peduli dengan tingkah orang didepannya Zenith tetap memperhaikannya, hingga menyimpulkan sesuatu

Rambut merah, bahu lebar, mata Hitam pekat?

" Apa paman yang dia sebut adalah Felix??"

" Saya Minta maaf" Ujar Keito lagi dan menunduk, sementara Zenit masih berfikir dengan keras di kepalanya. Jika benar kalau dia adalah ponakan Felix berarti suatu kehormatan bisa bertemu dengannya, walauun berasal dari keluarga berbeda, Wilson dan Robain.

" Aku.. suka berpedang" Dan Zenith benar-benar tertarik kepada kegiatan yang satu itu hingga akhirnya semuanya menjadi lebih dekat lagi. Zenith belajar kepada Keito tentang pedang dan merek menjadi sangat dekar dan semakin dekat, bahkan Zenith tanpa sadar sudah menunjukkan sifat aslinya kepada Pria itu. mulai dari rasa bahagianya, rasa kesalnya, umpatannya, amarahnya bahkan tangisnya sudah diperlihatkan pada Keio dan pria itu juga sudah dapat menerima Zenith dengan sangat baik.

Bahkan, kalimat keluhan sering dia lontarkan kepada Keito yang menjadi partner pendengarnya.



Ulang tahun ke 8

" Hahh, mana kadoku ya? Apa umurku hanya akan berlangsung sekarang.." Keluhan pertama Zenith

Ulang tahun ke 9

" Apa hanya aku manusia disini?? Kemana yang lain? apa dia tak ingat Ulang tahunku??"

Ulang tahun ke 10

" Hahh, ternyata aku sudah hidup sepuluh tahun lamanya ya..."

Ulang tahun ke 11

" Hei Keito, kau tau? tidak ada seorang temanpun yang memberiku hadiah ulang tahunku. Bahkan paman sibuk dengan pekerjaannya"

Ulang tahun ke 12

" Izeikil Kampreett, masa hanya Surat saja!! Tidak bisakah kau memberikanku kado istimewa dari Arlanta!!??"

Ulang tahun ke 13

" Aku ingin mati saja, sumpah ini sangat menyakitkan!!"

Ulang tahun ke 14

" Ayolah, aku tidak butuh Debutante atau apapun itu. aku hanya akan menghitung sudah berapa tahun aku hidup!!"

Zenith hanya memandang langit biru dari bawah pohon rindang saat ini, dengan menggunakan jari jemarinya dia memainkan cahaya Mentari siang ini. ditemani oleh Partnernya Keito, dia tersenyum ceria.

LADY MAGRITHA, ( Suddenly i Became a Princess, Chimera)  TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang